Peluit Penyokong Kehidupan Ajid

Peluit Penyokong Kehidupan Ajid! Melewati hujan bahkan teriknya sinar matahari tidak pernah memudarkan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, orang itu bernama Ajid. Pria yang telah berumur 47 tahun ini merupakan seorang tukang parkir di daerah Pasar Ujung Berung, tidak pernah mengeluh bahkan putus asa. Ia selalu semangat dan menikmati profesinya saat ini walaupun fisiknya tak sempurna seperti orang lain.

Peluit yang ia tiup dengan amat nyaring dapat membuat kendaraan yang lewat pun serontak berhenti. Inilah sosok Ajid, sehari-sehari bekerja menjadi seorang tukang parkir dengan keterbatasan fisiknya. Profesi yang ia geluti mulai dari sejak jaman Soeharto, rupanya tak membuat ia bosan. Keterbatasan kaki kanan yang tidak berfungsi dengan baik, tak membuat Ajid kehilangan semangat dalam mencari nafkah untuk keluarganya.

Ajid, pria kelahiran 47 tahun silam rupanya tak pernah kehabisan tenaga untuk menjalankan profesinya sebagai tukang parkir sambil membawa keluar gerobak dagangannya dari pukul 07.00 pagi di pasar Ujung Berung, Kota Bandung. Dengan segala keterbasan fisiknya tak membuat Ajid menyerah, ia juga mencari nafkah dengan menjajakan minuman.

Bapak Ajid mengakui, ia tidak cacat dari lahir, namun karena penyakit polio yang dideritanya saat masih kecil dan biaya untuk ke dokter mahal membuat keluarganya Bapak Ajid berobat ke tempat alternative di kampungnya. Karena pengobatannya yang tidak jelas membuat tubuh Bapak Ajid bagian kaki dan tangan mulai lumpuh, namun ia masih bisa berjalan meskipun tidak senormal orang-orang diluar sana.

Sebelum menjalani profesi sebagai tukang parkir, ia terlebih dahulu mengawali karirnya dengan berjualan. Sebab, ia tidak bisa menggeluti pekerjaan lain seperti menjadi supir atas alasan fisiknya yang cacat sejak kecil.

“Saya mulai kerja dari jaman teh botol sosro masih 300 perak, zaman bis kota masih 150 perak,” ujarnya sambil menyeka keringat.

Sambil mengurus motor yang keluar masuk, pria tangguh kelahiran Garut ini bercerita mengenai komisi yang didapat dari profesi yang ia tekuni saat ini. Ajid bercerita bahwa penghasilan perhari dari jualan 25.000, sedangkan dari parkir 50.000 tetapi dibagi dua dengan yang punya lahan, jadi sekitar 25.000 terkadang kalau lagi ramai dari parkiran dapat 100.000 tapi tetap dibagi dua dengan pemilik.

Memiliki upah yang belum bisa mencukupi kehidupan sehari-hari, Ajid harus menanggung semua resiko kebutuhan keluarganya, mulai dari makan, uang jajan untuk anak, dan biaya kontrakannya. Lalu, seraya membuka seragam tukang parkir yang ia kenakan, Ajid berharap agar hidupnya dicukupi saja karena baginya, dengan keadaan seperti ini ia sudah sangat bersyukur.

Bapak asli dari Garut ini memiliki seorang Isteri dan 4 anak, Isteri bapak Ajid hanya seorang ibu rumah tangga. Ia mengungkapkan bahwa ia sangat berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah, namun ia bingung untuk sehari-hari aja kami masih berkecukupan.

Terlebih lagi, gaji yang didapat tidak menentu, sedangkan kakak sulungnya yang ia punya juga tidak bisa banya menolong karena ekonominya juga masih berkecukupan. Mungkin hanya bisa berdoa dan waktulah yang akan menjawab nasib anaknya kelak.

Baca juga Menemukan Jodoh Melalui Ta’aruf, Takdir Itu Indah

Sosok yang teguh dan tekad yang kuat yang ada pada diri Ajid membuat dirinya tidak pernah malu dengan fisiknya sekarang, dia tidak pernah kepikiran untuk meminta untuk sesuap nasi. Karena dia berpikir selama kita masih punya tenaga dan sanggup untuk menghidupi keluarganya jadi buat apa meminta-minta.

Peluit Penyokong Kehidupan Ajid | admin | 4.5