Bersabar Pada Tumbukan Pertama dan Nikmati Hasilnya

Bersabar Pada Tumbukan Pertama dan Nikmati Hasilnya! Pernah mendengar seseorang mengatakan sabar ketika orang lain tertimpa musibah? Tentu saja, acapkali seseorang tertimpa musibah maka sanak saudara hingga teman juga menghujani orang tersebut dengan nasehat untuk bersabar. Lalu, seberapa penting seseorang untuk bersikap sabar dan lapang dada? Terlebih bagi umat rasulullah tentu sudah mendapatkan contoh yang lebih dari cukup bukan dari kekasih Allah ini?

Bersabar Pada Tumbukan Pertama dan Nikmati Hasilnya

Bersabar Pada Tumbukan Pertama dan Nikmati Hasilnya

Jangan katakan sulit. Nyatanya rasa sabar itu memang tiada berbatas. Akan tetapi, kenapa masih banyak orang yang mengatakan jika sabar itu berbatas? Akan lebih baik jikalau kita mengadopsi kata-kata ‘belum bisa membatasi diri’. Belum bisa membatasi diri untuk tidak meledak-ledak tatkala musibah menghampiri. Belum bisa mengendalikan otak untuk terus berpikir positif setelah melihat kejadian yang dianggap buruk dengan mata telanjang.

Apakah sulit untuk menerapkan teori sabar? Tentu tidak sama sekali, jikalau rumusnya sudah paham di luar kepala. Layaknya matematika, nyatanya menerapkan rasa sabar tidak jauh berbeda atau bahkan lebih mudah. Tentu kita mengerti, untuk mengerjakan persoalan matimatika yang rumit seseorang harus bisa berhitung lebih dulu.

Berbeda halnya untuk melatih kesabaran, seseorang tidak harus bisa berhitung lebih dulu, tentu sangat jelas. Nyatanya rumus bersabar begitu simpel yakni sabar = innalillahi wa innailaihi rojiun. Semua hal berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT juga.

Selama ini kesalahannya di bagian mana? Kesalahannya tentu jelas. Kesalahannya ialah kita selalu menganggap apa yang kita dapatkan merupakan milik kita sendiri. Kita terlupa jika semua itu hanyalah titipan. Selayaknya ketika seseorang dititipi sebuah barang, sudah tentu kita akan menjaganya dengan baik. Lalu, suatu hari pemiliknya datang dan meminta barang itu kembali. Apakah kita berhak untuk marah? Tentu tidak, bukan?

Terlepas dari semua itu saya akan bercerita pengalaman termanis yang saya miliki beberapa bulan lalu. Ketika itu saya tak pernah menyangka jika menghafal kalam Allah akan seberat itu. Setiap hari berkutik dengan target untuk menghafal. Tidak sedikit teman saya yang memilih untuk tidak tidur siang demi mendapatkan target yang sesuai.
Sabar? Tentu dapat dikatakan begitu. Nyatanya, tidak sedikit pula teman saya yang menggunakan metode eja, tulis dan baca kembali. Hingga akhirnya salah satu teman saya memutuskan untuk memahami pula setiap arti ayat yang sedang dihafal. Meskipun begitu, belum juga ayat yang dihafal masuk ke dalam kepala.

Sore sudah membayang namun hafalan juga belum didapatkan. Tepat sebelum azan Asar berkumandang ia akhirnya mengambil keputusan. Kebetulan ayat yang dihafal ketika itu berhubungan dengan iman yang belum sempurna hingga seseorang memberikan sesuatu hal berharga miliknya untuk orang lain. Setelah bersabar ia benar-benar keluar dari masalah itu.

Lebih dari itu, buah dari kesabaran yang ia tanam juga saya nikmati. Pada akhirnya ia lebih memilih bersabar untuk memberikan pakaian hitam kesayangannya, hasil jahitannya sendiri kepada saya. Kebetulan waktu itu saya memang tidak memiliki gamis berwarna hitam. Berhubung untuk keluar dari pondok ketika mengajar umumnya kami memang diminta menggunakan warna gelap. Mengucap syukur, saya terima pemberian berharga itu. Setelah itu begitu menakjubkan, hafalan yang tadinya begitu sulit untuk masuk, kini tidak lagi.

Baca juga Kisah JK Rowling Yang Sukses Membuat Perubahan Dalam Hidup

Nah itulah tadi sedikit ulasan mengenai bersabar pada tumbukan pertama dan nikmati hasilnya. Setiap orang berhak memilih jalannya masing-masing. Apakah ingin bersabar ketika tertimpa musibah atau malah memaki-maki. Semoga usaha bersabar kita bisa lebih mudah lagi.

Bersabar Pada Tumbukan Pertama dan Nikmati Hasilnya | admin | 4.5