Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara

Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara – Kali ini admin kembali buat anda sekalian, tak lain hanya untuk membagikan artikel mengenai Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara. Perhatikan dan simaklah penjelasannya di bawah ini.

A. Tradisi Sejarah Masyarakat Masa Praaksara

Masyarakat Indonesia sebelum mengenal aksara sudah memiliki tradisi sejarah. Maksud tradisi sejarah adalah bagaimana suatu masyarakat memiliki kesadaran terhadap masa lalunya. Kesadaran tersebut kemudian dia rekam dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Perekaman dan pewarisan tersebut kemudian menjadi suatu tradisi yang hidup tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara

Bagaimanakah masyarakat yang belum mengenal tulisan merekam dan mewariskan masa lalunya? Bagaimanakah masyarakat yang belum mengenal tulisan memaknai masa lalunya? Masyarakat dalam memahami masa lalunya akan ditentukan oleh alam pikiran masyarakat pada masa itu atau “jiwa zaman”.

Alam pikiran masyarakat yang belum mengenal tulisan sudah tentu berbeda dengan masyarakat yang sudah mengenal tulisan. Tulisan pada dasarnya merupakan salah satu hasil dari alam pikiran manusia.

Baca juga Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah

Kehidupan manusia memperlihatkan adanya suatu kesinambungan waktu. Kesinambungan ini terlihat dalam tahap-tahap kehidupan manusia, misalnya mulai dia dilahirkan, masa kanak-kanak, masa dewasa, dan sampai orang tua. Dalam kesinambungan waktu itulah nampak terjadi perubahan-perubahan dari satu tahap ke tahap lainnya.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri masyarakat dapat menjadi pengalaman hidup masa lalunya. Pemahaman terhadap masa lalunya selalu berkaitan dengan bagaimana masyarakat tersebut melihat perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan di sekitarnya. Secara garis besar, perubahan dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yaitu perubahan yang bersifat alami dan perubahan yang bersifat insani. Perubahan alami adalah perubahan yang terjadi pada alam itu sendiri seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, dan lain-lain. Adapun perubahan insani adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri manusia, baik bersifat individu maupun kelompok, misalnya kelahiran, peperangan, dan kejadian-kejadian lainnya.

Masyarakat yang belum mengenal tulisan melihat alam sebagai bagian yang terpenting dalam menentukan perubahan diri dan lingkungannya. Alam adalah pusat segala perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi, baik yang ada pada dirinya maupun lingkungannya, lebih banyak menempatkan alam sebagai penyebab utama perubahan tersebut. Sebab, alam merupakan pusat utama perubahan, maka manusia pada masa sebelum mengenal tulisan memperlakukan alam sebagai kekuatan yang harus dihormati bahkan dikultuskan. Alam memiliki kekuatan-kekuatan yang melahirkan suatu hukum keteraturan, yaitu hukum alam. Hukum alam inilah yang banyak mengatur perubahan pada diri manusia.

Dalam pemahaman sebagaimana diuraikan di atas, manusia pada masa belum mengenal tulisan melihat perubahan yang terjadi pada manusia yang bersumber dari kekuatan di luar diri manusia. Bahkan kekuatan itu bukan hanya bersumber dari alam akan tetapi bersumber pula dari kekuatan-kekuatan lain selain manusia. Kekuatan tersebut seperti dewa atau figur-figur tertentu yang memiliki kesaktian. Pemahaman seperti ini disebut dengan pemahaman yang bersifat religius magis.

Dalam pemikiran yang bersifat magis religius, pemikiran manusia dalam melihat asal usul kejadian tidaklah bersifat rasional atau masuk akal, tetapi bersifat irrasional. Manusia merupakan bagian dari sebuah kekuatan besar yang berada di luar dirinya. Pemikiran yang seperti ini tidak menempatkan manusia sebagai kekuatan yang otonom, artinya mandiri. Manusia adalah objek perubahan, bukan subjek perubahan. Dalam sebuah perubahan, manusia mempunyai kedudukan yang bersifat subordinatif.

Pemikiran yang bersifat religio magis banyak bertebaran di Indonesia, misalnya dalam cerita asal usul mengenai suatu daerah diawali dengan datangnya seorang tokoh yang memiliki kesaktian. Tokoh tersebut dapat berupa dewa atau setengah dewa setengah manusia. Tokoh tersebut ditempatkan sebagai figur yang sentral. Kedatangannya ke daerah tersebut diutus oleh dewa tertinggi yang menguasai alam. Dalam cerita asal usul daerah itu, agar menjadi lebih manusiawi (ada peran manusia), biasanya diceritakan tokoh tersebut menikah dengan manusia. Pernikahan ini akan melahirkan keturunan dan keturunannya ini kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya daerah tersebut.

Begitu pula halnya dalam menjelaskan peristiwa alam. Perubahan yang terjadi pada alam dianggap sebagai suatu kehendak di luar kehendak manusia. Manusia hanya bersikap pasrah terhadap perubahan yang terjadi pada alam tersebut. Kehendak yang dimaksud dapat berupa kehendak dewa. Seperti terjadinya banjir atau bencana alam, lebih dipahami sebagai bentuk dari kehendak dewa. Kalau dikaitkan dengan perilaku manusia, kejadian alam itu dapat dipahami sebagai bentuk kutukan atau kemarahan dewa kepada manusia.

Kesadaran sejarah pada masyarakat yang belum mengenal tulisan sudah terbentuk. Mereka berupaya agar tradisi sejarah yang mereka miliki dapat diwariskan kepada generasinya. Tujuan utama pewarisan tersebut yaitu pertama agar generasi penerusnya memiliki pengetahuan masa lalunya, dan tujuan yang lebih penting ialah pengetahuan itu harus menjadi suatu keyakinan. Keyakinan tersebut memiliki nilai-nilai yang mereka anggap berguna bagi kehidupan. Bahkan nilai-nilai tersebut menjadi pegangan hidup dalam membimbing jalan kehidupannya.

Cara pewarisan yang dilakukan ialah dengan bertutur dari mulut ke mulut. Hal ini dilakukan karena pada masyarakat yang belum mengenal tulisan, tidak meninggalkan bukti sejarah dalam bentuk peninggalan tertulis. Penuturan melalui bercerita merupakan cara yang efektif untuk mewariskan kepada generasi berikutnya. Cara penceritaan tersebut kemudian dikenal dengan istilah tradisi lisan.

Fungsi utama dalam tradisi lisan adalah pewarisan dan perekaman terhadap apa yang terjadi pada masa lalu menurut pandangan suatu kelompok masyarakat. Bagi masyarakat yang belum mengenal tulisan, tradisi lisan yang lebih dipentingkan ialah meyakini apa yang diceritakannya. Pengetahuan terhadap apa yang diceritakan dalam tradisi lisan bukanlah tujuan penting. Tradisi lisan merupakan bagian dari budaya bagi masyarakat yang memegangnya. Sebagai suatu aspek budaya, maka kepentingan untuk menjelaskan atau memahami lingkungan sekitar itu sekaligus sebagai usaha memberi pegangan kepada masyarakat terutama generasi berikutnya dalam menghadapi berbagai kemungkinan dari lingkungan itu. Di sini tradisi lisan berfungsi sebagai alat “mnemonik”, yaitu usaha untuk merekam, menyusun, dan menyimpan pengetahuan demi pengajaran dan pewarisannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Keyakinan masyarakat pendukung tradisi lisan disebabkan oleh adanya nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Mereka tidak terlalu memperhatikan apakah faktanya mengandung kebenaran, apakah faktanya secara nyata ada. Nilai-nilai tersebut misalnya keteladanan, keberanian, kejujuran, kekeluargaan, penghormatan terhadap leluhur, kecintaan, kasih sayang, dan lain-lain. Nilai-nilai yang ada dalam tradisi itu disebut juga dengan kearifan lokal. Disebut demikian karena nilai-nilai yang terkandung banyak mengandung sikap-sikap yang arif, bahkan dalam konteks sekarang nilai-nilai itu sangat berguna untuk diterapkan.

Dalam tradisi lisan, terdapat pesan-pesan yang banyak mengandung unsur kearifan. Pesan-pesan itu disampaikan secara verbal, sebab pada masa itu belum mengenal tulisan. Ada dua ciri penting tradisi lisan. Pertama, menyangkut pesan-pesan yang berupa pernyataan-pernyataan lisan yang diucapkan, dinyanyikan, atau disampaikan lewat musik. Berbeda halnya dengan masyarakat yang sudah mengenal tulisan, pesan-pesan itu disampaikan dalam bentuk teks (tertulis).

Ciri kedua ialah tradisi lisan berasal dari generasi sebelum generasi sekarang, paling sedikit satu generasi sebelumnya. Berbeda halnya dengan sejarah lisan (oral history), disusun bukan dari generasi sebelumnya tapi disusun oleh generasi sezaman. Asal tradisi lisan dari generasi sebelumnya karena memiliki fungsi pewarisan, sedangkan di dalam sejarah lisan tidak ada upaya untuk pewarisan.

Tradisi lisan biasa dibedakan menjadi beberapa jenis. Pertama, berupa “petuah-petuah” yang sebenarnya merupakan rumusan kalimat yang dianggap punya arti khusus bagi kelompok, yang biasanya dinyatakan berulang-ulang untuk menegaskan satu pandangan kelompok yang diharapkan dapat menjadi pegangan bagi generasi-generasi berikutnya. Rumusan kalimat atau kata-kata itu biasanya diusahakan untuk tidak diubah-ubah, meskipun dalam kenyataan perubahan itu biasa saja terjadi terutama sesudah melewati beberapa generasi, apalagi penerusannya bersifat lisan, sehingga sukar dicek dengan rumusan aslinya. Namun, karena kedudukannya yang sangat istimewa dalam kehidupan kelompok, maka tetap diyakini bahwa rumusan itu tidak berubah.

Bentuk yang kedua dari tradisi lisan adalah “kisah” tentang kejadian-kejadian di sekitar kehidupan kelompok, baik sebagai kisah perorangan (personal tradition) atau sebagai kelompok (group account). Sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang magis religius, kisah-kisah ini yang sebenarnya berintikan suatu fakta tertentu, biasanya diselimuti dengan unsur-unsur kepercayaan, atau terjadi pencampuradukan antara fakta dengan kepercayaan itu. Cara penyampaian fakta memang seperti menyampaikan gosip (penuh dengan tambahan-tambahan menurut selera penuturnya), maka disebut pula dengan istilah “historical gossip” (gosip yang bernilai sejarah). Untuk kisah-kisah perseorangan atau keluarga ini diulang-ulang atau diingat-ingat dalam beberapa generasi, sehingga riwayat keluarga ini kemudian biasa menjadi milik kelompok yang sering dikeramatkan bagi generasi-generasi berikutnya, yang biasanya diperbaharui (ditambahkan) secara berkesinambungan.

Bentuk ketiga dari tradisi lisan yaitu “cerita kepahlawanan”. Cerita ini berisi bermacam-macam gambaran tentang tindakan-tindakan kepahlawanan yang mengagumkan bagi kelompok pemiliknya yang biasanya berpusat pada tokoh-tokoh tertentu (biasanya tokoh-tokoh pemimpin masyarakat).

Beberapa cerita kepahlawanan ini memang ada yang punya dimensi historis yang patut diperhatikan karena unsur fakta sejarahnya yang masih bisa ditelusuri, tetapi pada umumnya sudah terselimuti dengan unsur-unsur kepercayaan, sehingga kadang-kadang dianggap lebih bersifat hasil sastra.

Keempat, yaitu bentuk cerita “dongeng” yang umumnya bersifat fiksi belaka. Tentu saja unsur faktanya boleh dikatakan tidak ada, dan memang biasanya terutama berfungsi untuk menyenangkan (menghibur) pendengarnya meskipun sering di dalamnya terkandung unsur-unsur petuah.

B. Melacak Jejak Sejarah Melalui Folktor, Mitologi, Legenda, Dan Upacara 

Berbagai bentuk tradisi lisan dapat dilacak oleh kita yang hidup pada masa ini. Bentuk tradisi lisan meliputi folklor, mitologi, legenda, upacara, dan lagu. Dalam melacak tradisi lisan tersebut dapat kita lakukan, baik secara langsung masuk ke dalam pergaulan masyarakat pemilik atau pendukung tradisi tersebut maupun cukup dengan mendengarkan penuturan dari si penutur tradisi lisan tersebut. Dalam melacak bentuk-bentuk tradisi lisan tersebut, sudah tentu kita tidak akan mencari kebenaran faktanya. Hal yang kita pentingkan ialah bagaimana nilai-nilai ajaran yang terkandung dalam cerita tradisi lisan tersebut.

Folklor

Sebelum mengenal contoh-contoh tradisi lisan, sebaiknya kamu mengenal dulu pengertiannya, supaya dapat membedakan antara bentuk yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan asal katanya, folklor berasal dari dua kata yaitu folk dan lore. Kata folk dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi. Di samping itu, yang paling penting adalah mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri. Kata lore diartikan sebagai tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun, baik secara lisan maupun melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.

Pengertian folklore secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu.

James Dananjaya (seorang ahli folklor) menyebutkan sembilan ciri folklore, yaitu sebagai berikut.

  1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
  2. Tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk yang relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
  3. Ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi, folklore dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian, perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
  4. Anonim, yaitu penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
  5. Mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita rakyat, misalnya, selalu menggunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas hari” untuk menggambarkan kemarahan seseorang, atau ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, seperti “sohibul hikayat… dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya,” atau “Menurut empunya cerita… demikianlah konon”.
  6. Mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
  7. Pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklore lisan dan sebagian lisan.
  8. Milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
  9. Bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatan kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.

Adapun fungsi folklor, yaitu sebagai berikut:

  • Sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.
  • Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
  • Sebagai alat pendidik anak.
  • Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Sebagaimana telah dikemukakan, manusia praaksara telah memiliki kesadaran sejarah. Salah satu cara kita untuk melacak bagaimana kesadaran sejarah yang mereka miliki ialah dengan melihat bentuk folklore. Bentuk folklore yang berkaitan dengan kesadaran sejarah adalah cerita prosa rakyat. Termasuk prosa rakyat antara lain mite atau mitologi dan legenda.

Mitologi

Ciri penting dari mitologi ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Tokoh yang ditampilkan dalam mitologi biasanya berupa para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa yang dikisahkan dalam mitologi berupa terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya. Selain itu, mitologi juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan dewa, hubungan kekerabatan para dewa, kisah perang para dewa, dan sebagainya.

Cerita tentang sesuatu hal yang berbentuk mitologi pada setiap daerah terkadang ada yang sama, tetapi ada pula cerita itu yang hanya dimiliki oleh daerah tersebut. Salah satu cerita yang isinya sama, yaitu cerita tentang asal usul beras yang dikaitkan dengan cerita Dewi Sri. Hampir seluruh daerah di Indonesia, mitologi tentang beras selalu dikaitkan dengan cerita Dewi Sri. Walaupun tema ceritanya sama, yaitu Dewi Sri, tetapi setiap daerah memiliki cerita yang berbeda tentang tokoh Dewi Sri ini.

Baiklah, berikut ini akan sedikit disampaikan cerita tentang Dewi Sri dengan versi cerita yang berbeda. Menurut versi di daerah Surabaya, Dewi Sri adalah seorang putri dari Kerajaan Purwacarita. Ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Sadana. Pada suatu hari selagi tidur, kedua anak raja itu disihir oleh ibu tiri mereka. Sadana diubah menjadi seekor burung layang-layang, dan Sri diubah menjadi ular sawah. Dengan demikian, Sri menjadi dewi padi dan kesuburan. Ada pula daerah lain, memili versi yang berbeda tentang cerita Dewi Sri. Menurut ceritanya, padi berasal dari jenazah Dewi Sri, istri Dewa Wisnu. Selain padi masih ada tanaman-tanaman lainnya, yang juga berasal dari jenazah Dewi Sri. Dari tubuhnya tumbuh pohon aren, dari kepalanya tumbuh pohon kelapa, dari kedua tangannya tumbuh pohon buah-buahan, dan dari kedua kakinya tumbuh tanaman akar-akaran seperti ubi jalar dan ubi talas. Dewi Sri meninggal karena dirongrong terus-menerus oleh raksasa yang bernama Kala Gumarang. Raksasa ini wataknya sangat keras hati, sehingga setelah meninggal ia masih berkesempatan untuk menjelma menjadi rumput liar, yang selalu mengganggu tanaman padi (jelmaan Dewi Sri), yang menjadi kecintaannya itu.

Dari contoh mitologi tentang Dewi Sri tersebut, menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa sebelum tulisan menjelaskan tentang asal usul padi sebagai suatu bentuk kejadian alam. Kita tidak bisa melacak dengan menggunakan sumber-sumber tertulis, sebab tidak ditemukan sumber-sumbernya. Yang kita temukan adalah suatu cerita rakyat tentang Dewi Sri dalam bentuk tradisi lisan. Cerita ini sudah mengalami pewarisan dari generasi ke generasi. Bahkan sampai sekarang di beberapa daerah, tokoh Dewi Sri dianggap sebagai dewi yang memberi kesuburan pada penanaman padi, sehingga kalau habis panen diadakan upacara sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Dewi Sri.

Legenda

Legenda merupakan cerita rakyat yang memiliki ciri-ciri, yaitu sebagai berikut.

  • Oleh yang empunya cerita dianggap sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi.
  • Bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Tokoh utama dalam legenda adalah manusia.
  • “Sejarah” kolektif, maksudnya sejarah yang banyak mengalami distorsi karena seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya.
  • Bersifat migration yakni dapat berpindah-pindah, sehingga dikenal luas di daerah-daerah yang berbeda.
  • Bersifat siklus, yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu, misalnya di Jawa legenda-legenda mengenai Panji.

Legenda dapat dibagi ke dalam empat jenis, yaitu legenda keagamaan, legenda alam gaib, legenda perseorangan, dan legenda setempat.

Legenda keagamaan

Legenda yang ceritanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan disebut dengan legenda keagamaan. Legenda ini misalnya legenda tentang orang-orang tertentu. Kelompok tertentu misalnya cerita tentang para penyebar Islam di Jawa. Kelompok orang-orang ini di Jawa dikenal dengan sebutan walisongo. Mereka adalah manusia biasa, tokoh yang memang benar-benar ada, akan tetapi dalam uraian ceritanya ditampilkan sebagai figur-figur yang memiliki kesaktian. Kesaktian yang mereka miliki digambarkan di luar batas-batas manusia biasa.

Sebutan wali songo ada yang menafsirkan bukan berarti sembilan dalam arti jumlah, tetapi angka sembilan itu sebagai angka sakral. Penafsiran ini didasarkan pada kenyataan adanya para tokoh penyebar Islam yang lainnya. Mereka berada di tempat-tempat tertentu. Masyarakat setempat biasanya memandang tokoh tersebut kedudukannya sama atau sederajat dengan tokoh wali yang sembilan orang. Tokoh-tokoh tersebut seperti Syekh Abdul Muhyi, Syekh Siti Jenar, Sunan Geseng, Ki Pandan Arang, Pangeran Panggung, dan lain-lain.

Syekh Abdul Muhyi dipercayai oleh masyarakat di Tasikmalaya khususnya sebagai salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam. Menurut cerita masyarakat setempat, dia dilahirkan di Mataram. Ia adalah putra Kiai Syekh Lebe Kusuma dari Kerajaan Galuh di Jawa Timur. Bahkan dari beberapa sumber setempat, silsilah keturunan Syekh Abdul Muhyi sampai menginduk kepada Nabi Muhammad saw.

Makam Syekh Abdul Muhyi terdapat di Pamijahan sebelah Selatan Kota Tasikmalaya. Situs yang ditemukan dari tokoh ini adalah adanya makam dan gua yang dipercayai sebagai tempat Syekh Abdul Muhyi melakukan pembinaan kepada murid-muridnya untuk kemudian menyebarkan agama Islam di daerah Tasikmalaya. Menurut beberapa sumber, Syekh Abdul Muhyi dalam memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat dengan cara memberikan contoh bagaimana menanam padi yang baik. Penanaman padi yang dilakukan oleh Syekh Abdul Muhyi selalu memperlihatkan hasil yang baik, sehingga masyarakat di sekitarnya merasa tertarik untuk mengikutinya.

Mengenai pola penyebaran agama Islam di Tasikmalaya diperkirakan dengan menggunakan jaringan Pesantren. Berdasarkan situs yang ditemukan di Pamijahan, Syekh Abdul Muhyi mendirikan mesjid di daerah tersebut dan membina para muridnya. Gua yang ada di Pamijahan tersebut, diperkirakan berfungsi sebagai pesantren tempat mendidik murid-muridnya. Dari sinilah kemudian para muridnya menyebarkan agama Islam ke pelosok lainnya di Tasikmalaya, dengan cara mendirikan pesantren-pesantren. Kehadiran pesantren-pesantren yang sekarang begitu banyak tersebar di wilayah Tasikmalaya, menjadi suatu bukti adanya jaringan penyebaran Islam di Tasikmalaya. Sebagaimana umumnya para wali penyebar Islam di Jawa, tarekat merupakan saluran ajaran dalam menyebarkan Islam. Syekh Abdul Muhyi adalah seorang penganut ajaran tarekat, yaitu tarekat Nabawiyah. Melalui pesantren-pesantren yang didirikan, ajaran tarekat menyebar kepada masyarakat.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa Syekh Abdul Muhyi memiliki kesaktian yang tidak dimiliki sebagaimana lazimnya manusia biasa. Masyarakat setempat mempercayai bahwa Syekh Abdul Muhyi sering melakukan salat Jumat di Mekah. Salah satu bukti yang dipercayai oleh masyarakat setempat, yaitu adanya lubang yang terdapat dalam gua tempat makam Syekh Abdul Muhyi. Melalui lubang inilah adanya jalan menuju ke Mekah.

Sunan Geseng makamnya terletak di daerah Tirta, Grabak, Magelang, Jawa Tengah. Menurut legendanya, Sunan Geseng bernama Haji Abdurrahman. Ia berasal dari Desa Krendetan (Bagelen, Kedu Sejarang) di Jawa Tengah. Beliau adalah putra Kyai Kuat dan murid Sunan Kalijaga. Beliau mendapat julukan “geseng”, yang berarti hangus karena pernah terbakar seluruh tubuhnya di dalam suatu kebakaran hutan, tetapi secara mukzijat dapat selamat.

Ki Pandan Arang, menurut legenda setempat adalah seorang wali dari Desa Tembayat terletak di Klaten Selatan Jawa Tengah. Karena pada hidupnya sudah saleh, maka setelah wafat, makamnya menjadi keramat yang banyak dipuja orang.

Makam Pangeran Panggung di sekitar alun-alun Kota Tegal dianggap suci oleh penduduk setempat. Menurut legendanya pangeran ini adalah putra Sunan Bonang (salah seorang walisongo). Ia dan kedua anjing kesayangannya dihukum mati oleh pengadilan agama Islam dengan cara dibakar. Dosanya ialah karena ia sering terlihat membawa dua ekor anjingnya ke dalam mesjid. Mula-mula berkat kesaktiannya, ia dan kedua anjingnya tidak dapat termakan oleh api dan baru dapat terbakar mati setelah ia merelakan dirinya untuk mati. Menurut kepercayaan penduduk setempat, dua anjing itu sebenarnya adalah jelmaan nafsunya yang tidak terkendali.

Di Desa Pamlaten dekat Cirebon Jawa Barat, ada sebuah makam keramat. Menurut penduduk setempat, makam itu adalah makam Syekh Siti Jenar, salah seorang wali terkemuka yang telah dihukum mati oleh para walisongo karena melakukan ajaran yang menyimpang. Menurut legendanya, sebelum ia menarik napasnya yang terakhir, ia mengutuk keturunan pengikut para wali terkemuka, yang menjadi anggota dewan pengadilan itu. Syekh Siti Jenar mengutuk mereka agar kelak dijajah oleh kerbau putih. Kerbau putih itu oleh orang Jawa pada kemudian hari ditafsirkan sebagai orang Belanda yang berkulit putih itu.

Isi legenda terkadang memiliki kesamaan, misalnya legenda Syekh Siti Jenar yang berupa ramalan bahwa penduduk Jawa akan dijajah Belanda. Ramalan Syekh Siti Jenar memiliki kesamaan dengan Legenda Syekh Bolebo seorang petapa. Menurut legenda ini, petapa itu telah dibunuh oleh kawan sepetapa yang bernama Sek Dani Akin. Sek Akin mendengar kutukan Syekh Bolebo yang menyatakan kelak keturunan Sek Dani Akin dijajah orang kulit putih yang berambut pirang dan bermata biru. Pada masa penjajahan itu, keturunannya (penduduk Jawa) akan sengsara. Penjajah itu adalah orang Londo (Belanda). Masa itu dapat dikatakan zaman walikan, yaitu zaman masa kembalinya ke masa penyembahan berhala.

Legenda alam gaib

Bentuk kedua yaitu legenda alam gaib. Legenda ini biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini adalah untuk meneguhkan kebenaran “takhyul” atau kepercayaan rakyat. Jadi, legenda alam gaib adalah cerita-cerita pengalaman seorang dengan makhluk-makhluk gaib, hantu-hantu, siluman, gejala-gejala alam gaib, dan sebagainya.

Contoh legenda alam gaib misalnya, di Bogor Jawa Barat ada legenda tentang mandor Kebun Raya Bogor yang hilang lenyap begitu saja sewaktu bertugas di Kebun Raya. Menurut kepercayaan penduduk setempat, hal itu disebabkan ia telah melangkahi setumpuk batu bata yang merupakan bekas-bekas pintu gerbang Kerajaan Pajajaran. Pintu gerbang itu, menurut kepercayaan penduduk setempat, terletak di salah satu tempat di kebun raya. Tepatnya tidak ada yang mengetahui. Oleh karenanya, penduduk disana menasihati para pengunjung Kebun Raya, agar jangan melangkahi tempat antara tumpukan-tumpukan batu bata tua, karena ada kemungkinan bahwa di sanalah bekas pintu gerbang kerajaan zaman dahulu itu. Jika kita melanggarnya, maka kita akan masuk ke daerah gaib dan tidak dapat pulang lagi ke dunia nyata.

Hampir di setiap masyarakat di Indonesia terdapat legenda tentang alam gaib, yaitu legenda tentang hantu. Salah satunya ialah cerita tentang hantu yang beredar di masyarakat Cina di Surabaya. Legenda ini mengenai hantu seorang peranakan Cina, istri seorang dokter. Istri dokter tersebut meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai mobil sport tanpa kap. Mobilnya menubruk pohon asam.

Legenda perseorangan

Legenda ini adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh yang empunya cerita benar-benar pernah terjadi. Contoh legenda ini misalnya tokoh Panji di Jawa Timur. Menurut legenda Panji adalah seorang putra Kerajaan Kuripan (Singhasari) di Jawa Timur. Dia senantiasa kehilangan istrinya. Cerita tentang tokoh Panji selalu bertemakan perihal pencarian istrinya yang telah menyatu atau menjelma menjadi wanita lain.

Di Bali ada legenda perseorangan, yaitu legenda tokoh populer yang bernama Jayaprana. Dalam legenda ini diceritakan bahwa di desa kecil Kalianget, terletak di Kabupaten Buleleng Bali Utara, ada suatu keluarga yang terjangkit penyakit menular. Semua anggota keluarga meninggal akibat penyakit tersebut, kecuali seorang putra yang bernama Jayaprana. Jayaprana yang telah sebatangkara itu, kemudian dipelihara oleh Raja Buleleng yang bergelar Anak Agung. Setelah dewasa dan telah cukup berjasa terhadap yang dipertuannya, ia mendapat izin untuk menikah dengan wanita pilihannya sendiri yang bernama Ni Nyoman Layon Sari.

Layon Sari ternyata seorang wanita yang cantik, sehingga raja pun tertarik oleh kecantikannya. Akhirnya raja membuat suatu rencana yang keji dengan tujuan untuk merebut Ni Nyoman Layon Sari dan melenyapkan Jayaprana. Sang raja kemudian menugaskan kepada Jayaprana untuk menumpas perompak di pantai paling utara Pulau Bali. Perintah itu sebenarnya hanya suatu tipu muslihat saja, karena selain mengutus Jayaprana, Sang Raja telah memerintahkan secara rahasia kepada perdana menterinya agar setibanya di daerah yang bernama Celuk Terima, Jayaprana supaya dibunuh.

Sesampainya di daerah Celuk Terima, Jayaprana kemudian dibunuh. Selesai mengerjakan tugas keji itu, perdana menteri pulang kembali ke ibu kota. Selama perjalanan pulang, perdana menteri dan pengiringnya mengalami banyak gangguan alam, karena para dewa tidak rela akan kematian Jayaprana.

Pada akhirnya Sang Raja pun tidak berhasil memperistri Layon Sari, sebab putri telah membunuh diri sebelum dapat didekati Sang Raja. Layon Sari bersedia mati agar dapat menyusul suaminya yang sangat ia cintai itu.

Legenda setempat

Legenda ini adalah legenda yang ceritanya berhubungan erat dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk topografi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, apakah berbukit-bukit, dan sebagainya. Di Jawa Barat terdapat legenda setempat misalnya legenda tentang asal usul nama Kuningan. Tempat ini merupakan suatu kabupaten yang letaknya di lereng Gunung Ceremai. Legenda asal usul nama Kuningan dikaitkan dengan kehadiran seorang tokoh penyebar Islam, yaitu Sunan Gunung Jati.

Menurut legenda setempat tentang asal usul Kuningan, Sunan Gunung Jati telah bertemu dengan kaisar Tiongkok. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk menyebarkan agama Islam ke Cina. Kaisar ini seorang Tartar. Untuk menguji kesaktiannya, kaisar Tiongkok telah menanyakan apakah putrinya pada waktu itu sedang mengandung. Jawab sang Wali tanpa ragu-ragu adalah “Ya!”. Bahkan menurutnya, putri itu akan melahirkan seorang putra pada waktu dua atau tiga bulan lagi.

Mendengar jawaban ini, murkalah sang Kaisar karena ia tahu dengan pasti bahwa putrinya masih perawan pada waktu itu. Kesan yang diperoleh sang Wali bahwa putri kaisar sudah berbadan dua itu sebenarnya adalah tipuan yang dibuat para dayang keraton, yang mengisi pakaian sang Putri di bagian perutnya dengan bantal.

Karena jawabannya yang ngawur itu, sang Wali dituduh sebagai wali palsu. Sebagai hukumannya, sang Wali diceburkan ke dalam laut. Berkat rahmat Allah, sang Wali dapat selamat dibawa arus laut sehingga dapat terdampar ke Pantai Cirebon, yang memang merupakan tempat kediamannya. Ong Tien Nio, demikianlah nama putri kaisar itu, sangat sedih sewaktu mendengar bahwa orang yang saleh itu telah dihukum oleh ayahandanya dan lebih kesal lagi karena ternyata ia memang hamil secara mukzijat. Mengetahui hal ini, kaisar sangat menyesali perbuatannya mempermainkan orang saleh. Untuk menebus dosanya, ia kemudian mengirim putrinya ke Cirebon untuk dinikahkan dengan Sunan Gunung Jati.

Setelah menjadi istri Sunan Gunung Jati, Ong Tien Nio kemudian melahirkan putranya, yang diperolehnya secara gaib itu. Putranya itu dilahirkan di suatu kota yang terletak di lereng Gunung Ceremai. Pangeran kecil itu diberi nama Aria Kemuning, karena warna kulit tubuhnya kuning muda; dan kota tempat kelahirannya itu kemudian diberi nama Kuningan. Sampai masa ini di Kuningan masih ada suatu makam, yang dianggap sebagaimakam Aria Kemuning. Makam itu sampai saat ini masih banyak diziarahi orang.

Contoh lain dari legenda setempat adalah legenda tentang Gunung Tangkuban Perahu di Bandung. Gunung ini diberi nama Tangkuban Perahu karena bentuknya mirip perahu yang terbalik (nangkub = terbalik). Cerita gunung ini dikaitkan dengan nama seorang tokoh yang bernama Sangkuriang yang mencintai seorang wanita bernama Dayang Sumbi. Sangkuriang sendiri tidak mengetahui bahwa wanita itu adalah ibunya sendiri. Dalam legenda Sangkuriang ini, dikisahkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang raja yang tidak mempunyai anak. Nama raja itu adalah Prabu Barmawijaya. Kerajaannya termasuk suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Priangan di Jawa Barat. Pada waktu raja sedang berburu, ia ingin buang air kecil dan tanpa disengaja air seninya tertampung dalam sebuah tempurung kelapa yang kebetulan berada di tempat ia kencing.

Kemudian air seninya itu diminum oleh seekor babi hutan betina putih yang sedang haus. Sebagai akibatnya, sang babi mengandung dan tidak lama melahirkan seorang anak manusia berjenis kelamin wanita yang jelita sekali. Anak bayi itu kemudian ditemukan oleh Baginda yang telah membuang air kencing itu dan dibawa pulang untuk dipungut menjadi putrinya. Putri itu diberi nama Dayang Sumbi.

Setelah dewasa, Dayang Sumbi menyendiri di hutan. Di tempat itu ia menyibukkan dirinya dengan jalan menenun kain. Sekali waktu selagi menenun, tanpa disengaja, anak toraknya terjatuh masuk ke kolong rumah panggungnya melalui celah yang ada di lantainya. Karena keletihan yang disebabkan oleh udara yang panas, ia malas untuk bergerak dari tempat duduknya. Dalam kemalasannya itu, tanpa pikir-pikir lagi ia telah mengeluarkan janji yang berbunyi “Siapa saja yang mau memungut anak torak saya, jika ia perempuan akan saya angkat sebagai saudara perempuan saya, dan jika ia laki-laki akan saya angkat menjadi suami saya”.

Celakanya, yang menanggapi tawarannya itu ternyata anjing kesayangannya yang bernama si Tumang dan kebetulan sekali berjenis kelamin jantan. Karena janji bertuah telah diucapkan, si Tumang kemudian dijadikan suami sang Putri. Dari perkawinan ini, seorang anak manusia berjenis kelamin laki-laki telah dihasilkan. Putranya itu ternyata memiliki wajah yang tampan sekali dan oleh ibunya diberi nama Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang berusia sebelas tahun, ia diusir ibunya dari rumah mereka. Pengusiran ini disebabkan Sangkuriang telah menyajikan kepada ibunya jantung si Tumang yang ia panggang. Anjing yang bernama si Tumang itu, yang sebenarnya adalah ayah kandung Sangkuriang, telah ia bunuh dalam suatu perburuan, karena anjing itu telah menolak untuk membunuh seekor babi hutan betina putih. Si Tumang menolak itu, karena ia mengetahui bahwa babi itu adalah Nyi Celeng Putih, ibu kandung Dayang Sumbi. Jadi, babi itu adalah mertua si Tumang dan nenek Sangkuriang dari pihak ibu.

Karena perbuatannya ini, Sangkuriang diusir oleh ibunya yang telah lupa diri itu. Sangkuriang baru kembali ke kampungnya setelah menjadi dewasa. Setiba di kampung halamannya itu, ia bertemu dengan seorang wanita yang cantik jelita, sehingga ia jatuh hati kepadanya. Cintanya dibalas oleh wanita itu. Namun kemudian wanita itu mengetahui bahwa laki-laki itu adalah putra kandungnya sendiri yang telah berpisah dengannya sewaktu masih kanak-kanak dahulu. Identitas pemuda ini dapat diketahui karena ketika ia sedang mencari kutu di kepala sang pemuda itu, Dayang Sumbi menemukan bekas luka akibat pukulan yang diberikannya sewaktu si putra itu menyediakan jantung panggang si Tumang.

Untuk menghindarkan diri dari perkawinan dengan anak kandungnya, Dayang Sumbi menyuruh Sangkuriang membuat perahu dalam waktu satu malam, yang akan mereka pergunakan untuk berlayar setelah perkawinan nanti. Karena Sangkuriang adalah seorang yang sakti, maka tugas yang mustahil itu sanggup ia kerjakan. Namun, hal itu tidak dapat terlaksana, karena disabot oleh Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi berhasil menggagalkan pekerjaan putranya dengan jalan tipu muslihat. Ia telah menyebabkan ayam-ayam jago di desanya untuk berkokok pada tengah malam dengan jalan menumbuk padi, sehingga ayam-ayam itu mengira pagi telah tiba. Selain itu, Dayang Sumbi membuat fajar menyingsing di ufuk Timur dengan jalan melambai-lambaikan selendang putih di sana.

Sangkuriang sangat kecewa setelah mengira bahwa tugasnya telah gagal. Dalam kekesalannya itu, ia telah menyepak perahu yang hampir rampung itu, sehingga perahu itu menjadi terbalik dan menimpa dirinya sendiri. Perahu yang telah terbalik itulah yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Prahu.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa hal yang terpenting bagi penelitian sejarah tradisi lisan bukan kebenaran faktanya. Untuk mencari kebenaran faktanya sangatlah sulit, apalagi sumber-sumber tertulis, karena kemungkinan pada awal pertama kali cerita-cerita itu dikenal dalam masyarakat, belum mengenal tradisi menulis. Bahkan cerita-cerita itu banyak dibumbui oleh hal-hal yang sepertinya sulit bisa masuk akal atau tidak rasional. Misalnya tokoh Sangkuriang lahir dari seekor binatang. Hal terpenting bagi kita adalah bahwa masyarakat Indonesia sudah sejak lama memiliki kesadaran tentang pengalaman masa lalunya. Masyarakat memaknai pentingnya suatu perubahan dalam kehidupan masa lalu. Contoh-contoh tradisi lisan tersebut sampai sekarang masih banyak dianut oleh masyarakat, walaupun masyarakat sekarang hidup dalam suatu masa ketika orang sudah mengenal tulisan. Melalui tradisi lisan, masyarakat Indonesia mencoba mengungkap tentang asal usul sesuatu baik peristiwa alam maupun peristiwa pada diri manusia.

Upacara

Selain melalui mitologi dan legenda, cara yang dapat dilakukan untuk mengenal kesadaran sejarah pada masyarakat yang belum mengenal tulisan yaitu melalui upacara. Upacara yang dimaksud bukanlah upacara dalam pengertian upacara yang secara formal sering dilakukan, seperti upacara penghormatan bendera. Melacak melalui upacara, yaitu upacara yang pada umumnya memiliki nilai sakral oleh masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.

Upacara pada dasarnya merupakan bentuk perilaku masyarakat yang menunjukkan kesadaran terhadap masa lalunya. Masyarakat menjelaskan tentang masa lalunya melalui upacara. Melalui upacara, kita dapat melacak tentang asal usul baik itu tempat, tokoh, sesuatu benda, kejadian alam, dan lain-lain. Contoh upacara tersebut adalah upacara atau semacam perayaan penghormatan terhadap Dewi Sri yang hidup di masyarakat daerah pertanian. Cerita Dewi Sri adalah cerita tentang asal usul Padi. Biasanya upacara ini dilaksanakan pada masa akhir panen.

Pada masyarakat yang hidup di daerah pantai, terdapat upacara penghormatan kepada dewi penguasa laut yaitu Nyi Roro Kidul. Seperti halnya dalam upacara Dewi Sri, dalam upacara ini juga diadakan sesajen yang ditujukan kepada Nyi Roro Kidul. Tujuan dari upacara ini adalah agar Nyi Roro Kidul selalu memberikan perlindungan dan keberkahan kepada para nelayan selama mereka menangkap ikan di laut.

Selain upacara yang ditujukan kepada tokoh-tokoh yang bersifat mitos (Nyi Roro Kidul dan Dewi Sri) terdapat pula upacara yang memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan peristiwa tertentu. Upacara tersebut, misalnya upacara “Grebeg Mulud”, yang dilaksanakan di Keraton Jogyakarta. Upacara ini memiliki nilai historis, terutama berkaitan dengan proses islamisasi. Kegiatan seperti ini biasanya dilakukan pada setiap bulan Maulid, suatu bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. Upacara sejenis dilakukan pula di Keraton Cirebon. Selain upacara Grebeg Mulud, di daerah Panjalu terdapat upacara yang disebut dengan upacara “Nyangku”. Upacara ini dilakukan dalam kaitannya dengan proses islamisasi yang dilakukan di daerah tersebut dengan tokohnya yang terkenal bernama “Borosngora”.

C. Tradisi Sejarah Pada Masa Aksara 

Tradisi sejarah masyarakat Indonesia berkembang pula pada masa aksara, yaitu masa ketika masyarakat Indonesia sudah mengenal tulisan. Pada masa aksara, tradisi sejarah direkam melalui tulisan sehingga lahirlah rekaman tertulis. Rekaman tertulis ini pun, sama halnya dengan tradisi masa praaksara, yaitu tumbuh dan berkembang melalui pewarisan dalam masyarakat.

Pada masyarakat yang sudah mengenal tulisan, pewarisan masa lalunya dilakukan melalui rekaman tulisan. Rekaman tertulis ini merupakan bentuk kesadaran sejarah. Mereka memandang bahwa masa lalu perlu diingat, dicatat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Rekaman tertulis tersebut disebut dengan naskah.

Naskah-naskah di Indonesia banyak bertebaran di berbagai daerah. Bahasa yang digunakan pada umumnya bahasa daerah asal naskah itu ditulis, seperti bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Melayu, Aceh, Minang, dan sebagainya. Banyaknya naskah yang bertebaran di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki kesadaran sejarah yang sangat tinggi. Sebutan untuk naskah-naskah tersebut antara lain babad, tambo, hikayat, dan kronik.

Kalangan masyarakat profesional menyebut naskah tersebut dengan sebutan naskah lama atau naskah kuno. Penyebutan ini disebabkan naskah tersebut ditulis pada masa lampau. Bagaimana mengukur naskah tersebut lama tidaknya, yaitu berdasarkan Monumen STBL no. 238 tahun 1931. Menurut aturan tersebut, naskah dikatakan lama apabila sudah berumur 50 tahun. Jadi, naskah kuno adalah karangan yang berupa tulisan atau ketikan yang telah berusia lebih dari 50 tahun.

Bahan yang digunakan untuk menulis naskah sangat beragam. Ada yang ditulis pada kertas, bambu, kulit kayu, rotan, daun nipah, daun lontar, dan lain-lain. Jenis kertas yang digunakannya pun sangat beragam. Kertas yang digunakan ialah jenis kertas yang ada pada saat naskah itu ditulis. Naskah yang ditulis pada daun lontar terdapat di Sulawesi Selatan, sehingga naskah itu disebut dengan sebutan lontarak.

Naskah kuno merupakan sumber informasi kebudayaan daerah pada masa lampau. Naskah ini sangat penting dan memiliki makna yang sangat berarti. Di dalamnya mengandung ide-ide, gagasan, dan berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan. Naskah ini juga mengandung, antara lain ajaran-ajaran moral, filsafat, dan keagamaan.

Isi naskah pada dasarnya merupakan buah pikiran dari si penulisnya. Buah pikiran dari si penulis tergantung pada apa yang menjadi ketertarikan si penulis naskah tersebut. Ketertarikan buah pikiran sangat beragam, dengan demikian isi naskah pun sangat beragam. Tidak semua naskah berisi tentang sejarah. Hal-hal yang menjadi materi naskah dapat berupa ajaran agama, hukum, adat istiadat, filsafat, politik, sastra, astronomi, ajaran moral, mantera, doa, obat-obatan, mistik, bahasa, bangunan, dan tumbuh-tumbuhan. Walaupun tidak berisi cerita sejarah, naskah-naskah kuno sangat berguna bagi penelitian sejarah. Hal yang bisa dikaji dari jenis naskah-naskah tersebut ialah nilai-nilai atau kebudayaan tempat naskah itu dibuat. Misalnya, ketika kita akan menulis tentang bagaimana pelaksanaan undang-undang dalam suatu wilayah, maka naskah tentang undang-undang itulah yang kita pakai. Hal ini penting kita lakukan, karena mungkin saja pelaksanaan undang-undang pada masa lalu berbeda dengan masa sekarang.

Dalam ilmu sejarah, naskah dapat dimasukkan ke dalam bentuk historiografi tradisional. Sebutan tradisional tersebut berdasar pada tahun ketika naskah itu ditulis, tempat penulisan naskah, dan bentuk cerita yang dikisahkan dalam naskah. Tahun penulisan naskah biasanya ditulis pada waktu yang sudah lama. Tempat naskah itu ditulis sangat mempengaruhi isi naskah. Kebudayaan masyarakat setempat akan mewarnai isi cerita naskah. Bentuk cerita yang disampaikan biasanya memuat bagian-bagian yang sepertinya tidak masuk akal. Ada cerita-cerita yang bersifat mitos.

Cerita sejarah yang ada dalam naskah, biasanya lebih banyak menceritakan peran “orang-orang besar”, seperti raja, penguasa, tokoh, dan lain-lain. Pemunculan peran penguasa dalam naskah dikarenakan subjektivitas penulisnya. Pada masa lalu biasanya di kerajaan terdapat seorang pujangga. Pujangga ini mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kerajaan tersebut. Peristiwa-peristiwa penting itu misalnya kapan raja itu memerintah, siapa rajanya, kapan raja berakhir berkuasa, siapa yang menggantikan raja yang lama, peristiwa apa yang terjadi pada saat pergantian raja, dan peristiwa-peristiwa lainnya.

Tidak semuanya naskah yang berisi tentang sejarah ditulis oleh pujangga kerajaan. Ada juga naskah yang ditulis oleh orang biasa. Bahkan naskah-naskah tersebut mengalami proses penyalinan kembali. Pada zaman Belanda, terdapat orang-orang yang kembali menyalin naskah. Penyalinan itu dilakukan karena para ilmuwan Belanda yang tertarik pada pengumpulan naskah meminta menyalin kembali.

Pandangan dari penulis naskah akan berpengaruh terhadap hasil penulisannya. Bagi pembuat naskah yang sekaligus berprofesi sebagai pengarang atau pujangga, pekerjaan menulis naskah merupakan suatu pemenuhan batin untuk menyatakan pikiran-pikirannya, untuk mempraktikkan kiat-kiat estetikanya, untuk menyatakan sikap hidup dan tanggapan dunianya. Berbeda halnya dengan para pembuat naskah yang semata-mata melakukan penyalinan, baik atas perintah, keinginan sendiri, maupun atas pesanan. Pada waktu itu, para pembuat naskah yang ada pada umumnya adalah golongan penyalin. Para pengarang pada umumnya telah menggunakan media penulisan modern untuk langsung diproduksi secara massal.

Fakta yang ada dalam naskah-naskah lama tidak selamanya dapat digunakan sebagai fakta sejarah. Apabila kita menggunakan fakta-fakta tersebut, maka kita harus bersikap kritis, karena uraian atau cerita dari naskah lama biasanya banyak dibumbui oleh cerita yang bersifat mistik atau magis religius. Misalnya, seorang raja yang memiliki kesaktian luar biasa yang berbeda dengan manusia lain pada umumnya.

Bentuk historiografi tradisional yang terdapat pada naskah memiliki beberapa ciri :

Ciri pertama, uraiannya dipengaruhi oleh ciri-ciri budaya masyarakat pendukungnya. Sebagaimana telah dikemukakan, naskah merupakan produk kebudayaan masyarakat setempat. Unsur-unsur kebudayaan masyarakat setempat akan mewarnai isi naskah. Misalnya naskah yang ada di Sulawesi Selatan banyak yang berbahasa Bugis dan Makassar, karena merupakan suku yang ada di daerah tersebut.

Ciri kedua, dari yaitu cenderung mengabaikan unsur-unsur fakta. Pengabaian fakta ini disebabkan terlalu dipengaruhi atau dikaburkan oleh sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakatnya. Fakta yang menjadi tokoh dalam cerita naskah, sering dibumbui dengan unsur-unsur mistik yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat. Aspek yang menonjol dalam cerita tersebut bukan tokoh yang menjadi fakta, tetapi unsur mistiknya. Contoh yang demikian misalnya naskah yang menceritakan para wali yang menyebarkan agama Islam. Tokoh-tokoh tersebut digambarkan sebagai figur yang memiliki kekuatan-kekuatan di luar kekuatan manusia biasa. Salah satu kekuatan yang dapat ditampilkan misalnya seorang wali pergi ke Mekah dengan jalan melalui dasar laut. Penokohan yang berlebihan ini barangkali untuk memberikan keyakinan bagi masyarakat agar masyarakat sangat menghormati pada wali.

Ciri ketiga, yaitu dalam naskah terdapat tokoh yang memiliki kekuatan “sekti” (sakti). Kekuatan ini merupakan pangkal dari berbagai peristiwa alam, termasuk yang menyangkut kehidupan manusia. Kekuatan sakti ini diperoleh melalui suatu proses perjalanan yang cukup panjang. Ketika kekuatan sakti sudah diperoleh oleh seorang tokoh, maka tokoh itu dihadapkan pada pantangan-pantangan. Apabila pantangan itu dilanggar, maka akan menimbulkan malapetaka atau kecelakaan bagi si tokoh tersebut. Dengan demikian, kesaktian tersebut dapat bertahan atau hilang lenyap seketika.

Dalam beberapa naskah di Jawa, diceritakan bahwa raja Mataram Sultan Agung memiliki kesaktian. Dalam memperluas kekuasaannya, Sultan Agung mampu terbang mengunjungi daerah taklukannya. Penggambaran tokoh seperti ini untuk meyakinkan rakyat terhadap kekuasaan seorang raja. Dengan cara ini, rakyat akan semakin tunduk dan taat kepada raja. Rakyat akan takut menerima hukuman dari raja, karena raja memiliki kesaktian.

Ciri keempat, yaitu adanya kepercayaan akan klasifikasi magis yang mempengaruhi segala sesuatu yang ada di alam ini. Sifat magis itu terdapat, baik pada makhluk hidup maupun pada benda-benda mati. Selain itu, magis dapat dibentuk dalam akal manusia maupun bagi sifat-sifat yang terdapat dalam materi. Secara akal sehat, sifat magis ini sulit diterima oleh akal sehat, misalnya binatang dapat berwujud menjadi manusia atau jasad manusia dapat berubah menjadi tumbuh-tumbuhan. Perubahan wujud ini dapat ditemukan dalam Naskah Babad Ratu Galuh. Naskah tersebut menceritakan tentang Ratu Galuh. Dia anak Hariangbanga. Hobi yang dimiliki oleh raja adalah berburu ke hutan. Sang raja berburu ke hutan dengan membawa seekor anjing yang bernama Belang Wayungyung.

Dalam cerita berburunya raja ini, terdapat cerita yang menarik. Sang raja buang air kecil dan air seninya tergenang pada pelepah kelapa, ketika menjelang pulang dari perburuannya. Selesai raja buang air seni, datanglah seekor babi yang meminum air seni raja. Akibat minum air seni sang babi tersebut menjadi hamil. Ketika usia kehamilan sudah cukup waktu, maka lahirlah seorang bayi. Bayi tersebut diambil oleh raja dan diberi nama Sepirasa. Setelah ditinggal mati ibunya, Sepirasa oleh Raja Galuh ditempatkan di sebuah gubuk di hutan dan diganti namanya menjadi Dewi Hartati. Dewi Hartati kemudian hamil karena disetubuhi oleh Si Belang titisan dewa, dan lahirlah seorang putra bernama Suwungrasa yang mirip dengan Hariangbanga putra Raja Galuh.

Hobi yang dimiliki Suwungrasa adalah berburu. Jika berburu Suwungrasa ditemani oleh Si Belang. Pada suatu ketika Suwungrasa berburu dengan si Belang. Perburuan yang dilakukannya ini tidak mendapatkan hasil. Suwungrasa merasa kecewa karena tidak mendapatkan hasil buruannya. Kekecewaan Suwungrasa kemudian menjadi kekesalan. Ungkapan kekesalan tersebut dilakukan dengan cara membunuh si Belang dan diambil atinya. Ketika sampai di rumah, ati si Belang tersebut kemudian dipasak dan dimakan bersama ibunya. Setelah selesai makan, Suwungrasa baru memberitahu ibunya bahwa ati yang dimakan itu adalah ati si Belang. Mendengar cerita tersebut, ibunya kemudian marah dan memukul bagian kepala Suwungrasa dengan menggunakan sinduk sehingga ada bekasnya di kepala Suwungrasa. Marahnya ibu Suwungrasa menyebabkan mereka berdua harus berpisah.

Selama perpisahan kedua-duanya melakukan aktivitas-aktivitasnya. Kegiatan Dewi Hartati yaitu sering bertapa. Kerajinan bertapa membuat Dewi Hartati menjadi orang sakti dan berganti nama menjadi Malaya. Adapun Suwungrasa berguru kepada Ajar Padang dan berganti namanya menjadi Jaka Wardaya. Perpisahan di antara anak dan ibu tersebut mengisahkan cerita lain dan membuat mereka tidak saling kenal pada mulanya. Pada suatu ketika Jaka Wardaya ingin memperistri Dewi Malaya. Jaka Wardaya tidak mengetahui bahwa perempuan yang dicintainya itu adalah ibunya sendiri. Salah satu cara untuk mempersunting Dewi Malaya yaitu dengan bertanding melawan ibunya sendiri. Ajar Padang mengingatkan Jaka Wardaya bahwa Dewi Malaya bukan tandingannya, tetapi Jaka Wardaya tetap pada pendiriannya.

Ketika bertanding, Dewi Malaya melihat bekas luka goresan di kepala Jaka Wardaya, dan dia meyakini bahwa Jaka Wardaya adalah anaknya yang dulu berpisah. Ajar Padang akirnya dapat melerai. Jaka Wardaya kemudian berganti nama menjadi Bangkasari dan menikah dengan putri di atas angin, sedangkan Dewi Malaya menjadi raja.

Hal yang dapat dilihat dari uraian Babad Ratu Galuh itu ialah kita menemukan adanya binatang yang melahirkan anak manusia. Hal ini merupakan suatu perubahan benda dari binatang bisa menjadi manusia. Sepirasa dilahirkan dari seekor babi hutan dan Suwungrasa dilahirkan dari hasil persetubuhan anjing (Si Belang) dengan manusia (Dewi Hartati).

Perubahan dari manusia atau dewa menjadi tumbuh-tumbuhan dapat dibaca dalam naskah-naskah yang menceritakan tentang Dewi Sri atau Dewi Pohaci. Di antara naskah yang menceritakan Dewi Pohaci adalah naskah Sulanjana. Naskah ini bercerita tentang terjadinya tumbuh-tumbuhan, khususnya tumbuhan padi, di negeri Pakuan. Tumbuh-tumbuhan itu tumbuh berasal dari jasad Dewi Pohaci yang meninggal.

Ciri kelima, yaitu kepercayaan perbuatan magis atau sihir yang dilakukan tokoh-tokoh tertentu. Contoh tokoh yang memiliki kekuatan magis adalah Mpu Bharada. Atas permintaan Airlangga, beliau terbang dengan menggunakan daun kluih. Ketika terbang, Mpu Bharada membawa kendi yang berisi air. Kemudian air yang ada dalam kendi itu kemudian dipercikkan ke tanah. Percikkan air itulah yang menjadi batas pembagian kerajaan yang dimiliki Airlangga. Hal ini dilakukan ketika Airlangga hendak membagi wilayah kerajaannya kepada anaknya.

Ciri keenam, ialah gambaran dari tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerita naskah tersebut merupakan tokoh yang mistis (raja dianggap titisan dewa). Penokohan raja sebagai titisan dewa tersebut hampir pada semua naskah yang menceritakan tentang hal itu. Pada naskah-naskah lontarak di Sulawesi Selatan, ada sebutan To Manurung, yang menceritakan tentang raja yang berkuasa itu hasil perkawinan antara manusia dengan dewa. Di Jawa Barat, silsilah para Bupati selalu dihubungkan dengan tokoh mitos yaitu Prabu Siliwangi. Silsilah tersebut dibuat dengan tujuan agar dapat memberikan dasar legitimasi bagi raja atau penguasa bahwa dia adalah keturunan tokoh yang sakral atau berpengaruh.

D. Perkembangan Penulisan Sejarah Di Indonesia 

Bangsa Indonesia telah lama memiliki kesadaran sejarah. Bukti kesadaran ini ditunjukkan oleh banyaknya karya naskah yang bersebaran di daerah-daerah Indonesia. Naskah-naskah tersebut merupakan bagian awal dari per-kembangan penulisan sejarah di Indonesia.

Awal perkembangan penulisan sejarah di Indonesia dimulai dengan adanya penulisan sejarah dalam bentuk naskah. Beberapa sebutan untuk naskah-naskah yaitu babad, hikayat, kronik, tambo, dan lain-lain. Bentuk penulisan sejarah pada naskah-naskah tersebut, sebagaimana telah dikemukakan, termasuk dalam kategori historiografi tradisional. Sebutan historiografi tradisional, untuk membedakannya dengan historiografi modern. Historiografi modern sudah lebih dahulu berkembang di Barat. Ciri utama historiografi modern dan yang membedakan dengan historiografi tradisional adalah penggunaan fakta. Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa historiografi tradisional tidak terlalu mementingkan kebenaran fakta, sedangkan historiografi modern sangat mementingkan fakta.

Sebagaimana telah dikemukakan artikel sebelumnya tentang Asal-Usul Kata Sejarah. Sejarah mengungkapkan tentang kenyataan. Kenyataan dalam sejarah adalah fakta. Jadi, apabila sejarah hanya sekedar cerita yang tidak memiliki fakta, berarti itu bukan suatu kenyataan, itu hanyalah sebuah fiksi belaka. Salah satu ciri bahwa fakta itu benar ialah sumber-sumber yang dijadikan rujukan cerita itu harus masuk akal.

Uraian historiografi tradisional yang bersifat fiksi, disebabkan oleh alam pikiran masyarakat yang belum bersifat rasional dan objektif. Uraian historiografi tradisional merupakan gambaran dari pikiran masyarakat yang magis-religius. Maksud dari uraian ini yaitu isi dari naskah-naskah lama sangat dipengaruhi oleh uraian unsur-unsur kepercayaan masyarakat setempat di mana naskah itu dibuat. Pada masyarakat yang masih tradisional, terdapat kepercayaan-kepercayaan yang memandang bahwa kehidupan manusia sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar manusia. Kekuatan-kekuatan itu dapat berupa alam, para dewa, benda-benda yang dianggap sakral, dan lain-lain. Manusia tidak mampu mengubah diri oleh dirinya sendiri. Kedudukan manusia dalam suatu perubahan lebih berperan sebagai objek, bukan subjek atau penentu.

Di beberapa daerah di Indonesia terdapat cerita yang bersumber dari historiografi tradisional tentang asal usul daerah tersebut. Di dalam sumber-sumber tersebut misalnya, diceritakan bahwa sebelum terbentuknya suatu tatanan kehidupan yang teratur dalam daerah tersebut, keadaannya krisis atau serba tidak menentu. Dalam keadaan yang demikian, maka sang dewa menurunkan utusannya untuk memperbaiki keadaan krisis. Utusan dewa itu kemudian menikah dengan wanita yang ada di daerah tersebut. Setelah turunnya utusan dewa maka keadaan di daerah itu menjadi baik dan mulailah tersusun suatu pemerintahan atau kerajaan. Hasil perkawinan antara utusan dewa dengan wanita yang dinikahinya ini kemudian menjadi pewaris atau silsilah penguasa kerajaan. Dalam masyarakat di Sulawesi Selatan, contoh cerita tersebut merupakan mitos Tomanurung.

Berdasarkan contoh cerita historiografi tersebut, terlihat bagaimana manusia tidak menjadi penentu dalam suatu cerita sejarah. Terbentuknya asal usul suatu daerah berdasarkan cerita historiografi tradisional, bukan ditentukan oleh manusia. Penentunya adalah dewa. Ketika dewa menurunkan utusannya ke muka bumi, maka terbentuklah suatu tatanan masyarakat.

Historiografi di Indonesia mengalami perkembangan. Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, historiografi Indonesia diawali dengan perkembangan historiografi tradisional. Bentuk historiografi tradisional tersebut adalah naskah kuno sebagaimana yang telah dibahas. Setelah historiografi yang tradisional, kemudian berkembang penulisan sejarah modern.

Penulisan sejarah yang moderen diawali dengan penulisan sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Penulisan sejarah ini dilakukan oleh para ahli sejarah yang merupakan suatu team. Team penulis sejarah ini dipimpin oleh Dr. FW. Stapel. Buku yang ditulis oleh team ini berjudul Geschedenis van Nederlandsch Indie (Sejarah Hindia Belanda).

Pendekatan yang digunakan oleh Stapel dalam menulis buku tersebut sangat diwarnai para penulisnya. Buku tersebut pada dasarnya tidak banyak menceritakan tentang peran bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan, bangsa Indonesia pada saat itu sedang dijajah. Buku ini lebih tepat sebagai buku sejarah penjajahan orang Belanda di Indonesia. Penjajah Belanda merupakan subjek atau pemeran utama dalam cerita sejarah. Aspek-aspek yang positif lebih banyak ditekankan pada orang Belanda, sedangkan bangsa Indonesia hanyalah sebagai pelengkap penderita. Penulisan sejarah yang demikian disebut dengan pendekatan yang neerlandosentris, yaitu penulisan sejarah yang dilihat dari peran orang Belanda (penjajah).

Tokoh-tokoh penting dari orang Belanda dianggap sebagai orang besar, sedangkan tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap sebagai pahlawan, dianggap sebagai orang yang jelek, orang jahat, dan berbagai citra negatif lainnya. Misalnya diceritakan bagaimana kompeni merasa kehilangan besar ketika J.P. Coen seorang Gubernur Jenderal meninggal. Dia dikuburkan dengan acara penguburan yang besar. Ketika akan dikuburkan, rakyat Betawi mengusungnya. Contoh sebaliknya adalah cerita tentang Sultan Banten. Diceritakan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang yang cerdik, bijaksana, dan taat menjalankan ajaran agamanya (Islam). Tetapi dibalik itu semua diceritakan pula dia memiliki kelakuan yang bengis, hatinya jelek, selamanya memusuhi kompeni dan ingin memajukan Banten dan membinasakan Betawi (Jakarta).

Buku oleh Stapel tersebut, bukanlah merupakan sejarah Indonesia, tetapi merupakan suatu penulisan sejarah penjajahan Belanda atau sejarah Belanda di negeri jajahan. Karena penulisan sejarah yang lebih menampilkan orang Belanda, maka orang Belanda (penjajah) menjadi subjek dalam cerita sejarah, sedangkan bangsa Indonesia sebagai objek dari cerita sejarah. Bangsa Indonesia dikenal dengan sebutan kaum pribumi. Sebutan ini lebih menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan sebagai bangsa, tidak memiliki suatu negara. Kedudukan bangsa Indonesia sebagai pelayan orang Belanda.

Semangat kebangsaan memberikan warna terhadap penulisan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah yang neerlandosentris dalam pandangan pada penulis sejarah Indonesia kuranglah berkenan di mata bangsa Indonesia. Timbul kritikan terhadap penulisan sejarah yang neerlandosentris. Hal yang perlu dilakukan sebagai bentuk nasionalisme dalam historiografi adalah penulisan sejarah yang dilihat dari kaca mata bangsa Indonesia. Dalam penulisan sejarah yang demikian, bangsa Indonesia harus ditempatkan sebagai tokoh sentral, pemeran utama. Bangsa Indonesia tidak ditampilkan sebagai figur yang negatif. Model penulisan sejarah yang demikian dikenal dengan sebutan penulisan sejarah yang indonesiasentris. Penulisan sejarah model ini merupakan bentuk dari dekolonisasi terhadap historiografi, artinya pelepasan penjajahan dalam penulisan sejarah.

Kesadaran tentang pentingnya penulisan sejarah yang indonesiasentris muncul sejak awal kemerdekaan. Hal ini diperlukan khususnya bagi pengajaran sejarah di sekolah. Sudah sewajarnyalah, pada awal kemerdekaan semangat nasionalisme masih begitu kental. Semangat nasionalisme tercermin pula dalam pengajaran sejarah. Untuk menanamkan semangat nasionalisme melalui pelajaran sejarah, sudah barang tentu diperlukan adanya penulisan Sejarah Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan ialah terbitnya buku-buku pelajaran sejarah dengan judul “Sejarah Indonesia”. Walaupun demikian, isi buku itu masih berbau neerlandosentris, sebab buku-buku tersebut masih merujuk pada buku Stapel.

Pada masa pendudukan Jepang, sebenarnya sudah ada istilah “Sejarah Indonesia”. Sebelum tahun 1942 pelajaran sejarah yang ada yaitu Sejarah Hindia Belanda (Gechiedenis van Nederlands-Indie) dan Sejarah Tanah Hindia (Indische Gechiedenis). Pendudukan Jepang bersikap anti Barat termasuk Belanda, sehingga buku yang diterbitkan oleh Belanda pun dilarang, termasuk penulisan sejarah penjajahan Belanda. Buku-buku sejarah yang diterbitkan mendapatkan pengawalan yang ketat dari pemeritahan pendudukan Jepang. Istilah “Sejarah Tanah Hindia” (Indische Geschiedenis) diubah menjadi “Sejarah Indonesia”.

Sebagaimana telah dikemukakan, sejak awal kemerdekaan muncul adanya keinginan untuk menulis kembali sejarah Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya kekecewaan terhadap buku-buku pelajaran yang ada di sekolah ketika itu. Pada umumnya buku-buku yang digunakan, masih merujuk kepada buku Stapel, walaupun diberi judul “Sejarah Indonesia”. Buku-buku pelajaran yang ada tidak memenuhi penulisan sejarah yang indonesiasentris.

Penulisan sejarah yang bersifat indonesiasentris harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  • Sejarah yang mengungkapkan “sejarah dari dalam” , yang menempatkan bangsa Indonesia sebagai pemeran utama.
  • Penjelasan sejarah Indonesia diuraikan secara luas, dengan uraian yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
  • Erat berhubungan dengan kedua pokok di atas, perlu ada pengungkapan aktivitas dari pelbagai golongan masyarakat, tidak hanya para bangsawan atau ksatria, tetapi juga dari kaum ulama atau petani serta golongan-golongan lainnya.
  • Untuk menyusun sejarah Indonesia sebagai suatu sintesis, yang menggambarkan proses perkembangan ke arah kesatuan geo-politik seperti yang kita hadapi dewasa ini, maka prinsip integrasi perlu dipergunakan untuk mengukur seberapa jauh integrasi itu dalam masa-masa tertentu telah tercapai.

Untuk memecahkan persoalan penulisan sejarah yang indonesiasentris, maka diadakanlah Seminar Sejarah Nasional I pada tanggal 14 sampai dengan 18 Desember 1957 di Yogyakarta. Seminar ini dilaksanakan melalui Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan tanggal 13 Maret 1957 No.28201/5. Topik yang dibicarakan dalam seminar tersebut meliputi :

  • Konsep filosofis sejarah nasional;
  • Periodisasi sejarah Indonesia;
  • Syarat penulisan buku pelajaran sejarah nasional Indonesia;
  • Pengajaran Sejarah Indonesia di sekolah-sekolah;
  • Pendidikan Sejarawan;

Pendidikan dan pengajaran bahan-bahan sejarah.

Pemerintah memiliki kepentingan dalam penyelenggaraan seminar tersebut. Bangsa Indonesia saat itu belum lama merdeka. Untuk membangun karakter kebangsaan pada diri masyarakat Indonesia adalah melalui pengajaran sejarah. Jadi, bagi pemerintah penulisan sejarah yang indonesiasentris merupakan suatu keharusan.

Pembicaraan yang berkembang pada seminar ini menurut Moh. Ali, forum Seminar Sejarah Nasional belum mengarah pada penulisan dan pengajaran sejarah Indonesia sebagai Sejarah Nasional. Hal ini dapat dimaklumi mengingat pada saat itu di Indonesia belum banyak ahli sejarah yang benar-benar berlatar belakang pendidikan sejarah atau sejarawan. Dalam forum tersebut, pembicaraan yang lebih menonjol yaitu pemikiran mengenai mungkin tidaknya penyusunan suatu filsafat Sejarah Nasional. Pembicaraan tentang filsafat sejarah nasional banyak dibicarakan oleh Moh. Yamin dan Sujatmoko.

Pentingnya penulisan sejarah yang indonesiasentris tidak selesai setelah seminar sejarah yang pertama di Yogya. Pembicaraan hal tersebut terus bergulir. Untuk mewujudkan penulisan sejarah yang indonesiasentris, pemerintah kemudian membuat suatu team yang bertugas melaksanakan penulisan kembali Sejarah Indonesia. Team ini dibentuk pada tahun 1963, akan tetapi team ini tidak dapat melaksanakan tugasnya dikarenakan terjadinya ketegangan sosial dan krisis politik negeri kita pada saat itu.

Semangat penulisan sejarah yang indonesiasentris muncul kembali dalam Seminar Sejarah Nasional Kedua di Yogyakarta pada tahun 1970. Seminar ini relatif lebih berkualitas dibandingkan dengan seminar yang pertama. Hal ini dikarenakan mulai adanya generasi baru sejarawan yang mempresentasikan kertas kerjanya. Pokok pembicaraan sudah mulai mengarah kepada periodisasi Sejarah Indonesia, yaitu mulai dari periode prasejarah sampai dengan periode yang paling modern.

Dalam seminar yang kedua ini juga muncul perkembangan pemikiran, yaitu perlunya penulisan buku sejarah untuk digunakan di sekolah. Keperluan ini sangat mendesak. Untuk melaksanakan aspirasi yang berkembang dalam seminar sejarah yang kedua itu, akhirnya pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan SK. No.0173/1970 mengangkat Panitia Penyusunan Buku Standard Sejarah Nasional Indonesia berdasarkan Pancasila yang dapat digunakan di Perguruan Tinggi dan sekaligus akan dijadikan bahan dari buku teks sejarah untuk sekolah dasar sampai dengan sekolah lanjutan tingkat atas. Panitia ini berhasil menyusun buku teks Sejarah Nasional sebanyak enam jilid.

Buku tersebut disusun dengan periodisasi sebagai berikut.

  • Jilid I, zaman prasejarah di Indonesia.
  • Jilid II, zaman kuno (awal masehi sampai 1600 M).
  • Jilid III, zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia (1600 M-1800 M).
  • Jilid IV, abad kesembilan belas (1800 M-1900 M).
  • Jilid V, zaman kebangkitan nasional dan masa akhir Hindia Belanda (1800-1900 M)
  • Jilid VI zaman Jepang dan zaman Republik Indonesia (1942-sekarang).

Kegiatan seminar tidak berhenti sampai seminar sejarah yang kedua. Dalam beberapa waktu kemudian, diadakan kembali Seminar Sejarah Nasional. Seminar Sejarah Nasional yang ketiga di Jakarta pada tanggal 10 sampai dengan 15 November 1981, dan Seminar Sejarah Nasional yang keempat di Jogyakarta pada tanggal 16 sampai dengan 19 Desember 1985. Kongres Nasional Sejarah yang terakhir dilaksanakan di Jakarta dari tanggal 14-17 November 2006. Kongres sejarah atau seminar yang dilaksanakan itu pada dasarnya merupakan upaya untuk menemukan kembali penulisan-penulisan sejarah Indonesia, baik dari aspek sumber maupun metodologi.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa bangsa Indonesia telah memiliki perkembangan dalam penulisan sejarah. Perkembangan penulisan itu mulai dari yang magis-religius sampai pada saintifis. Magis religius merupakan ciri perkembangan historiografi tradisional, sedangan saintifis perkembangan penulisan sejarah lebih bersifat kritis. Selain itu, perkembangan penulisan sejarah di Indonesia juga sangat ditentukan oleh alam pikiran bangsa Indonesia dalam memahami perubahan dirinya dan lingkungan di sekitarnya.

Sebagai ringkasan dari materi di atas, mengenai Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara berikut ini :

Kesadaran sejarah yang tumbuh dalam suatu masyarakat tertentu sudah muncul sejak kelompok masyarakat tersebut belum mengenal tulisan. Kesadaran sejarah tersebut biasanya diungkapkan dalam bentuk cerita mengenai asal usul suatu kehidupan baik kehidupan suatu tempat maupun seorang tokoh. Cerita yang ditampilkan pada masa sebelum mengenal tulisan ini biasanya dibumbui oleh hal-hal yang irrasional. Cerita tersebut biasanya diwariskan dari generasi ke generasi dalam bentuk tradisi lisan.

Lihat juga Pengertian Dan Ruang Lingkup Sejarah

Demikianlah postingan artikel yang kami bagikan pada kali ini, membahas tentang Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara Untuk Kelas X, Semester 1 SMA/MA. Semoga bermanfaat.

Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara | admin | 4.5