Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah

Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah – Pada kesematan kali ini, admin akan bagikan artikel yang berkaitan dengan Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah. Untuk lebih lengkapnya, langsung saja anda menyimak penjelasan di bawah ini.Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah

A. Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

Mengapa dalam sejarah ada penelitian? Apakah tujuan Mengapa dalam sejarah ada penelitian? Apakah tujuan dilakukannya penelitian? Bagaimanakah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelitian sejarah? Dalam sejarah ada penelitian karena sejarah merupakan suatu ilmu. Apakah yang disebut dengan ilmu? Apa ciri-ciri dari ilmu?

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘alama yang berarti pengetahuan. Istilah tersebut kemudian disamakan dengan science dalam bahasa Inggris. Science berasal dari bahasa Latin, yaitu scio atau scire yang juga berarti pengetahuan. Apabila pengetahuan itu tersusun secara sistematis dari suatu subjek yang pasti, maka disebut dengan ilmu pengetahuan. Jadi, tidak setiap pengetahuan adalah ilmu, sedangkan setiap ilmu pengetahuan mengandung unsur pengetahuan. Ilmu pengetahuan memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:

  • merupakan seperangkat pengetahuan yang sistematis;
  • memiliki metode yang efektif;
  • memiliki objek;
  • memiliki rumusan kebenaran-kebenaran umum;
  • bersifat objektif;
  • dapat memberikan perkiraan atau prediksi.

Sebuah pengetahuan dapat disusun secara sistematis dengan menggunakan metode yang dimilikinya. Secara sederhana, metode dapat diartikan sebagai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menjelaskan objek yang dikajinya. Setiap ilmu pengetahuan memiliki objeknya masing-masing, seperti sejarah objeknya adalah manusia sehingga sejarah dimasukkan ke dalam kelompok ilmu sosial. Hasil dari penjelasan terhadap objek yang ditelitinya, akan melahirkan rumusan-rumusan kebenaran atau sering disebut dengan teori. Rumusan kebenaran dalam sejarah bersifat unik tidak umum atau universal. Unik dalam pengertian ini yaitu kebenaran sejarah hanya berlaku pada situasi atau tempat tertentu saja, belum tentu berlaku pada situasi dan tempat yang lainnya. Contohnya, penjelasan tentang penyebab-penyebab terjadinya pemberontakan. Ada beberapa penyebab timbulnya pemberontakan. Misalnya, orang berontak karena lapar atau miskin, ada yang karena hak-hak dirinya yang sudah mapan terganggu, ada yang karena rasa frustasi dan tertekan, ada yang karena harga dirinya terasa terinjak-injak, ada yang karena memimpikan hadirnya seorang ratu adil yang akan menciptakan kemakmuran, dan faktor-faktor lainnya.

Baca juga Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara Dan Masa Aksara

Dalam sejarah Indonesia banyak sekali terjadi pemberontakan-pemberontakan, yang masing-masing penyebabnya berbeda-beda. Misalkan berdirinya Negara Pasundan 1947 yang diproklamirkan oleh Surya Kartalegawa. Sikap Kartalegawa ini dianggap sebagai pemberontakan, sebab dia menentang negara yang sah yaitu Republik Indonesia. Menurut sumber, faktor penyebab tindakan Kartalegawa tersebut ialah karena Kartalegawa sebagai orang Sunda dan mantan pegawai pemerintah (Bupati) merasa berhak untuk menjadi Gubernur di Jawa Barat. Sementara itu sejak awal kemerdekaan, Presiden Soekarno mengangkat Gubernur Jawa Barat bukan berasal dari orang Sunda.

Lain halnya dengan kasus pemberontakan yang dilakukan oleh Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Kahar Muzakar melakukan pemberontakan disebabkan ia merasa tidak dihormati sebagai pejuang yang telah ikut berjuang melawan Belanda. Akibatnya, harga dirinya merasa tidak dihargai. Sebagai orang Sulawesi Selatan, timbul sikap siri yang artinya mempertahankan atau memperjuangkan harga diri yang merasa dihina oleh orang lain. Sikap siri itu ia lakukan dengan cara memberontak kepada pemerintah Republik Indonesia dalam bentuk gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan.

Sartono Kartodirdjo melihat pemberontakan-pemberontakan petani yang terjadi pada akhir abad ke-19 di Indonesia, disebabkan oleh adanya keinginan dari para petani akan datangnya seorang Ratu Adil, yaitu seorang figur yang diharapkan dapat membawa kehidupan yang lebih baik dari zaman yang sedang dialami oleh petani. Para petani merasa tertekan secara struktural oleh penjajah. Akibat tekanan itu, para petani memimpikan lahirnya seorang Ratu Adil. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa ilmu sejarah memiliki rumusan-rumusan kebenaran atau teori yang unik, bersifat kasuistis, belum tentu berlaku untuk kondisi dan tempat yang lainnya.

Penelitian dilakukan bertujuan untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran menurut ukuran ilmu pengetahuan. Ciri umum dari kebenaran ilmu pengetahuan yaitu bersifat rasional, empiris, dan sementara.

Rasional artinya kebenaran itu ukurannya akal. Sesuatu dianggap benar menurut ilmu apabila masuk akal. Sebagai contoh dalam sejarah kita menemukan adanya bangunan Candi Borobudur yang sangat menakjubkan. Secara akal pembangunan Candi Borobudur dapat dijelaskan, misalnya bangunan tersebut dibuat oleh manusia biasa dengan menggunakan teknik-teknik tertentu sehingga terciptalah sebuah bangunan yang megah. Janganlah kita menjelaskan bahwa Borobudur dibangun dengan menggunakan kekuatan-kekuatan di luar manusia, misalnya jin, sihir, setan, atau jenis makhluk-makhluk lainnya. Kalau penjelasan seperti ini, maka sejarah bukanlah sebagai ilmu pengetahuan.

Empiris artinya ilmu itu berdasarkan kenyataan. Kenyataan yang dimaksud di sini yaitu berdasarkan sumber yang dapat dilihat langsung secara materi atau wujud fisik. Empiris dalam sejarah yaitu sejarah memiliki sumber sejarah yang merupakan kenyataan dalam ilmu sejarah. Misalnya kalau kita bercerita tentang terjadinya Perang, maka perang itu benar-benar ada berdasarkan bukti-bukti atau peninggalan-peninggalan yang ditemukannya. Kemungkinan masih adanya saksi yang masih hidup, adanya laporan-laporan tertulis, adanya tempat yang dijadikan pertempuran, dan bukti-bukti lainnya. Dengan demikian, cerita sejarah merupakan cerita yang memang-memang empiris, artinya benar-benar terjadi. Kalau cerita tidak berdasarkan bukti, bukan sejarah namanya, tetapi dongeng yang bersifat fiktif.

Sementara artinya kebenaran ilmu pengetahuan itu tidak mutlak seperti halnya kebenaran dalam agama. Kemutlakan kebenaran agama misalkan dikatakan bahwa Tuhan itu ada dan memiliki sifat yang berbeda dengan makhluknya. Ungkapan ini tidak dapat dibantah harus diyakini atau diimani oleh manusia. Lain halnya dengan ilmu pengetahuan, kebenarannya bersifat sementara, artinya dapat dibantah apabila ditemukan teori-teori atau bukti-bukti yang baru. Dalam sejarah, kesementaraan ini dapat dalam bentuk perbedaan penafsiran terhadap suatu peristiwa. Perbedaan ini dapat diterima selama didukung oleh bukti yang akurat. Kesementaraan inilah yang membuat ilmu pengetahuan itu berkembang terus.

Sejarah sebagai ilmu memiliki metode atau langkah-langkah dalam penelitiannya. Langkah-langkah dalam penelitian sejarah yaitu sebagai berikut.

Pemilihan topik

Sebelum melakukan penelitian sejarah, langkah pertama yang harus dilakukan ialah menetapkan topik yang akan diteliti. Topik yang diteliti haruslah merupakan topik yang layak untuk dijadikan penelitian dan bukan merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian sebelumnya. Kelayakan topik penelitian sejarah dapat dilihat dari ketersediaan sumber yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk penelitian. Jangan sampai kita menetapkan topik yang menarik untuk diteliti, tetapi sumbernya ternyata tidak ada. Berbeda dengan penelitian ilmu pengetahuan lainnya, penelitian sejarah sangat bergantung pada ketersediaan sumber. Jadi, topik yang diteliti harus merupakan hal yang baru dan diharapkan dapat memberikan informasi yang baru atau ditemukan suatu teori baru.

Pemilihan topik ini penting agar penelitian sejarah lebih terarah dan terfokus pada masalah yang akan diteliti. Untuk mengarahkan masalah yang akan diteliti dalam topik tersebut, sebaiknya kita ajukan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi masalah yang akan diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi sebagai berikut ini.

Pertama apa (what) yang akan kita teliti, apakah kita akan meneliti aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, keluarga, militer, dan lain-lain. Pertanyaan tentang apa, lebih melihat pada aspek-aspek yang akan kita teliti. Misalnya kita ingin membuat sejarah desa kita, maka apanya yang ingin kita lihat dari desa tersebut, apakah ekonominya, sosialnya, politiknya, budayanya, dan aspek-aspek lainnya.

Kedua, yaitu siapa (who) yang akan diteliti. Dalam menulis sejarah desa misalnya, kita harus menetapkan siapa-siapa saja yang akan kita teliti, atau kelompok-kelompok sosial mana yang akan diteliti, apakah para tokohnya, masyarakat petani, masyarakat pengrajin, aparat desanya, kaum wanitanya, dan lain-lain. Kalau kita ingin meneliti bagaimana perkembangan sosial ekonomi suatu desa, maka salah satu komponen yang harus kita teliti yaitu kaum petani dan pengrajin dari desa tersebut. Pengrajin dan petani ini perlu kita teliti karena kelompok inilah yang berhubungan langsung dengan kehidupan ekonomi. Kita bisa melihat berapa jumlah petani dan pengrajin di desa tersebut, berapa pendapatannya, bagaimana cara mereka bekerja, berapa jumlah produksi yang dihasilkannya, dan lain-lainnya.

Ketiga, pertanyaan yang diajukan yaitu di mana (where) yang akan kita teliti. Pertanyaan ini merupakan aspek spasial atau keruangan yang menjadi ciri dari disiplin ilmu sejarah. Spasial dapat berupa tempat atau geografis yang akan diteliti. Apakah kita akan meneliti kota atau desa, atau wilayah yang bersifat administratif seperti desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara. Kalau kita meneliti geografis desa, maka harus jelas batasan geografis desa yang kita teliti.

Keempat, yang diajukan adalah kapan (when). Maksud dari pertanyaan ini adalah menyangkut aspek batasan waktu atau periodisasi yang akan dijadikan objek penelitiannya. Salah satu ciri penting dari ilmu sejarah adalah adanya konteks waktu. Misalnya perubahan sosial desa 1950-1955. Penetapan angka tahun ini harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang bersifat akademis, misalnya karena pada tahun tersebut merupakan awal dari perubahan sampai dengan tahun menurunnya perubahan-perubahan penting. Perubahan tersebut bisa dalam konteks sosial, ekonomi, politik, dan konteks lainnya.

Kelima, pertanyaan berikutnya yaitu mengapa (why). Pertanyaan ini lebih bersifat analitis dan mendalam. Dengan contoh tema penulisan tentang perubahan sosial desa 1950-1955, pertanyaan mengapa dapat menyangkut mengapa pada tahun tersebut terjadi perubahan sosial? Perubahan sosial ini bisa dilihat dari berbagai ciri, misalkan status pekerjaan, pemilikan tanah, pendidikan, dan lain-lain. Perubahan pada status pekerjaan misalnya perubahan dari petani menjadi buruh bangunan, menjadi buruh perkebunan, menjadi buruh pabrik, dan perubahan ke arah pekerjaan-pekerjaan lainnya. Perubahan pemilikan tanah bisa dilihat, misalnya adanya pemilikan lahan yang semakin sempit atau pemindahan pemilikan dari penduduk setempat ke orang lain atau orang di luar desanya. Perubahan sosial dalam pendidikan, misalnya terjadi peningkatan masyarakat yang terlibat langsung dalam pendidikan sekolah, jumlah anak yang sekolah baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun di tingkat Perguruan Tinggi semakin meningkat.

Berbagai faktor dapat menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial, misalnya akibat kebijakan-kebijakan politik pemerintah atau bisa saja merupakan akibat terjadinya perubahan geografis atau iklim. Dari pertanyaan mengapa, dapat dicari jawaban yang lebih mendalam dengan mengajukan pertanyaan bagaimana (How) perubahan itu terjadi. Pertanyaan bagaimana ini, misalnya bagaimana hubungan kebijakan politik pemerintah terhadap perubahan sosial di pedesaan. Misalnya, kebijakan pemerintah yang mengembangkan sektor industri berakibat berdirinya pabrik-pabrik di daerah pedesaan. Sektor industri ini kemudian memakan lahan pertanian yang ada di pedesaan. Akibatnya, penduduk yang berpenghidupan dari pertanian beralih ke sektor industri. Akibat perubahan iklim, misalnya terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga para petani berpindah pekerjaan dari mengerjakan atau menggarap sawah, menjadi buruh bangunan di kota.

Pertanyaan-pertanyaan di atas amatlah penting dalam menetapkan topik penelitian. Fungsi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk mengarahkan ketika kita mencari sumber-sumber yang akan dijadikan data penelitian. Misalnya kita ingin melihat bagaimana perubahan sosial yang dicirikan dengan perubahan status pekerjaan, maka kita harus mencari apa saja pekerjaan masyarakat pedesaan tersebut, berapa jumlahnya, apa saja produk yang dihasilkan, dan berapa jumlah pendapatan mereka selama kurun waktu yang telah kita tentukan.

Pengumpulan sumber

Setelah menetapkan topik penelitian, langkah berikutnya adalah pengumpulan sumber atau istilah lainnya disebut dengan heuristik. Sumber yang kita cari adalah sumber yang berkaitan dengan topik yang telah kita tetapkan. Ke manakah kita harus mencari sumber?

Banyak sekali tempat yang dapat kita jadikan sebagai tempat sumber sejarah. Tempat yang kita jadikan sebagai pencarian sumber sejarah tergantung pada jenis sumber yang kita butuhkan. Kalau kita membutuhkan sumber tertulis, dapat kita peroleh di perpustakaan-perpustakaan, kantor arsip, kantor-kantor pemerintah, dan tempat-tempat lainnya. Lokasi yang kita jadikan penelitian pun dapat dijadikan tempat pencarian sumber. Di tempat ini kita dapat menemukan sumber-sumber yang berbentuk benda atau artefak, seperti bentuk geografis daerah, atau mungkin saja kita menemukan benda-benda peninggalan sejarah. Selain sumber-sumber benda, di lokasi penelitian kita dapat pula menemukan orang-orang yang masih hidup dan menjadi saksi dari peristiwa sejarah yang kita teliti.

Salah satu tempat yang sangat penting sebagai sumber sejarah yaitu Arsip Nasional yang berada di Jakarta. Di tempat itu banyak sekali tersimpan arsip-arsip sejak zaman kolonial. Berbagai topik penelitian sejarah dapat kita lakukan berdasarkan arsip yang tersedia, misalnya kalau kita ingin menulis sejarah perkebunan pada zaman kolonial Belanda, kita dapat menemukan arsip khusus tentang perkebunan yang tersedia cukup banyak. Dari arsip perkebunan ini, kita tidak hanya bicara perkebunannya saja, kita juga bisa secara khusus meneliti tentang kehidupan kaum buruh perkebunannya. Di beberapa daerah pun terdapat kantor-kantor arsip daerah yang menyimpan sumber-sumber sejarah daerahnya. Dari bahan-bahan yang terdapat di arsip daerah, kita dapat menulis topik tentang sejarah lokal.

Pada kantor-kantor pemerintah yang lainnya, kita dapat pula mencari sumber, termasuk kantor pemerintahan desa. Kalau kita menulis, misalnya tentang Perubahan Sosial Desa 1970-1980, barangkali laporan-laporan tertulis atau arsip-arsip yang ada di desa dapat kita lacak. Dengan tema tentang perubahan sosial di desa, kita dapat mencari arsip-arsip tentang pertanahan, berapa luasnya, bagaimana kepemilikannya, bagaimana pengalihan kepemilikannya, untuk apa tanah di desa, apakah untuk pertanian atau industri. Selain laporan-laporan tertulis di kantor desa, kita pun dapat mewancarai masyarakat di desa tersebut yang hidup pada masa periode penelitian kita. Dengan tema tentang perubahan sosial di desa, kita bisa mewancarai para petani di desa tersebut. Kita bisa menanyakan, bagaimana gambaran mereka tentang pertanian pada saat itu; bagaimana kehidupan mereka dari hasil pertaniannya; apakah mereka sebagai pemilik tanah atau penggarap; apakah dari pekerjaannya itu dapat mencukupi kehidupannya; dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Di perpustakaan, sumber yang kita cari lebih banyak pada sumber sekunder atau sumber kedua yang berupa buku-buku. Buku-buku yang kita cari sudah barang tentu buku-buku yang berkaitan dengan topik penelitian yang akan kita teliti. Untuk memudahkan cara mencari sumber di perpustakaan, sebaiknya sebelum kita datang ke perpustakaan terlebih dahulu kita catat judul-judul buku atau sumber yang akan kita cari. Setelah itu kita mencarinya di perpustakaan. Cara mencari sumber di perpustakaan sebaiknya terlebih dahulu kita lihat katalog yang tersedia di perpustakaan. Kalau di perpustakaan itu tidak ada katalognya, tanyakanlah buku-buku yang akan kita cari kepada petugas perpustakaan.

Kritik sumber

Penelitian sejarah sebagaimana telah dikatakan merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang peneliti untuk mencari kebenaran. Dalam penelitian sejarah, seorang peneliti berusaha menduga dan membuktikan kebenaran tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Untuk membuktikan kebenaran tersebut, maka harus berdasar pada sumber sejarah. Akan tetapi, sumber sejarah yang digunakan pun harus sumber yang memang benar-benar bukti yang sesuai dengan apa yang terjadi pada masa lalu. Dengan demikian, sumber sejarah pun harus memiliki kebenarannya. Untuk menguji kebenaran sumber sejarah tersebut, maka dilakukanlah kritik sumber.

Kritik sumber dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal adalah kritik yang ingin melihat keaslian atau orisinalitas dari sumber. Jadi, kritik ini lebih bersifat fisik, bukan isi dari sumber tersebut. Kalau kita menemukan sumber tertulis, kritik eksternal yang kita lakukan adalah melihat jenis kertasnya, jenis tulisannya, jenis hurufnya. Jadi, kritik eksternal lebih melihat pada aspek luarnya. Misalkan, kita meneliti tentang Perubahan Sosial Desa 1950-1955. Kita menemukan sumber tertulis misalnya laporan pemerintah dari kecamatan tempat kita melakukan penelitian. Dalam laporan tersebut, kita temukan jumlah penduduk desa, mata pencahariannya, pendapatannya, luas wilayah lahan pertanian, dan kegiatan ekonomi penduduk desa. Setelah kita teliti sumber tersebut ternyata ditulis dengan menggunakan ketikan komputer dan jenis kertas HVS A4 dan dijilid dengan menggunakan jilid hard cover. Kalaulah kita teliti dengan melihat fisik dari sumber tersebut, maka pertanyaan kita adalah aslikah sumber tersebut? Jawabannya tentu sumber tersebut tidak asli. Mengapa demikian? Sebab, penelitian sejarah kita periodisasinya tahun 1950-1955, pada tahun tersebut belum ada penggunaan komputer dalam pengetikan administrasi di pemerintahan. Begitu pula jenis kertas dan penjilidan yang demikian, belum ada pada tahun itu. Jadi, sumber tersebut bukan sumber yang asli.

Bagaimana halnya dengan isi sumber tersebut? Dalam sumber tersebut kita temukan angka tahunnya 1950-1955, bahkan ejaan yang digunakannya pun menggunakan ejaan yang lama belum menggunakan EYD. Ada kemungkinan sumber tersebut diketik ulang oleh petugas administrasi. Jadi, bisa saja isinya kemungkinan bisa benar, tetapi dari segi fisiknya bukan sumber asli. Walaupun demikian, kita harus hati-hati dalam menggunakan sumber tersebut, sebab dapat saja ada kesalahan pengetikan sehingga data yang tercantum dalam sumber tersebut kurang dapat dipercaya.

Lain halnya kalau laporan tersebut menggunakan kertas yang sudah agak menguning dan diketik dengan mesin tik atau ditulis tangan. Dari segi fisik tersebut, sumber tersebut bisa dikatagorikan ke dalam sumber yang asli. Sebab kalau kita lihat dari periode penelitian kita, pada tahun 1950-1955 sudah ada penggunaan mesin tik di kantor administrasi pemerintahan.

Dalam kritik eksternal dibutuhkan pula pengetahuan-pengetahuan yang bersifat umum dalam konteks zaman. Misalkan kapan mulai adanya penggunaan komputer, mesin tik, fotokopi, dan jenis-jenis alat tulis lainnya. Pengetahuan pun bukan hanya dalam konteks zaman, tetapi juga dalam konteks wilayah, misalkan apakah pada tahun 1950-an sudah ada penggunaan mesin tik di desa kita. Bisa saja pada tahun tersebut di desa kita belum mengenal mesin tik, sementara di kabupaten sudah ada.

Setelah melakukan kritik eksternal, kemudian kita melihat secara kritis terhadap isi dari sumber tersebut, apakah isi sumber itu dapat dipercaya atau tidak. Langkah ini disebut dengan kritik internal. Jadi, kritik internal adalah kritik terhadap isi sumber atau kritik terhadap kredibilitas sumber. Misalkan perubahan agraria di pedesaan pada tahun 1950-1955. Kita me-nemukan sebuah laporan tertulis dari kecamatan yang berisi tentang laporan yang dibuat oleh Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Dalam laporan tersebut dicantumkan pula nama-nama pengurus LKMD.

Bagaimanakah kritik yang kita lakukan terhadap sumber yang kita temukan tersebut. Apakah sumber laporan tersebut dapat dipercaya? Sumber tersebut tidak bisa dipercaya kalau dilihat dari segi isinya. Mengapa demikian? Sebab, dalam sumber tersebut disebutkan adanya lembaga yang bernama LKMD. Dalam hal ini kita harus kritis, karena istilah LKMD merupakan istilah baru. Pada tahun itu belum ada di desa suatu lembaga yang bernama LKMD. Jadi, kritik secara internal atau isi harus kita lakukan seperti itu.

Pada umumnya para sejarawan tidak terlalu banyak melakukan kritik terhadap sumber bangunan. Kritik terhadap sumber bangunan lebih banyak dilakukan para ahli arkeologi. Para ahli arkeologi dengan teknologi yang dimilikinya melakukan pengujian terhadap bahan-bahan yang digunakan dalam pembangunan bangunan-bangunan sejarah. Dengan demikian, akan ketahuan mana bangunan yang asli dan yang tidak.

Kritik yang dilakukan oleh para peneliti sejarah dilakukan terhadap sumber-sumber lisan. Cara ini dilakukan terutama untuk melihat apakah yang disampaikan oleh informan mengandung kebenaran, atau ia hanya berbohong. Peneliti sejarah melakukan kritik dengan cara sebagai berikut.

Pertama melihat usia dari informan. Semakin tua usia informan tersebut, kemungkinan akan semakin lupa apa yang ia ingat. Kedua, melihat peran yang dilakukan oleh informan dalam peristiwa yang diteliti. Apakah ia menyaksikan langsung kejadian itu atau tidak. Ketiga, melakukan cek silang antara informan yang satu dengan informan yang lainnya.

Interpretasi

Interpretasi artinya penafsiran. Penafsiran dilakukan terhadap sumber-sumber yang ditemukan. Dalam melakukan penafsiran, peneliti sejarah melakukan analisis sesuai dengan fokus penelitiannya. Kajian sejarah yang bersifat ilmiah, dalam penafsiran biasanya menggunakan teori-teori dari ilmu-ilmu sosial. Dengan cara seperti ini, diharapkan penulisan sejarah akan lebih objektif dalam batas keilmiahannya. Walau demikian, penafsiran dalam sejarah tidak bisa terlepas sama sekali dari unsur subjektivitas penulisnya. Subjektivitas terjadi disebabkan penulis sejarah memiliki pandangan tersendiri terhadap sumber yang ia temukan. Bahkan data yang sama tidak menutup kemungkinan menimbulkan interpretasi yang berbeda. Apabila hal ini terjadi, dalam penelitian sejarah sah-sah saja dan dibenarkan, asalkan peneliti menggunakan sumber yang valid.

Dalam melakukan penafsiran, kita harus memiliki keterampilan membaca sumber. Keterampilan yang dimaksud ini bisa berupa keterampilan dalam menfsirkan bahasa yang digunakan oleh sumber yang ditemukan, terutama untuk sumber-sumber tertulis. Misalkan sumber itu berbahasa Belanda atau bahasa-bahasa daerah yang kuno, misalkan bahasa Sunda Kuno atau Jawa Kuno. Apalagi bahasa-bahasa yang lama, struktur kalimatnya akan berbeda dengan struktur kalimat bahasa yang sekarang. Bahasa Indonesia pun, mengalami perkembangan. Kalau kita membaca sumber berbahasa Indonesia yang terbit tahun 1950-an, sudah barang tentu memiliki struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia saat sekarang.

Penafsiran sumber pada dasarnya merupakan langkah yang kita lakukan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari topik yang kita teliti. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, maka kita mencoba menguraikan data-data atau sumber-sumber yang sudah kita pilih atau seleksi. Misalnya, tema penelitian Perubahan Sosial Desa Tahun 1950-1955. Dengan tema ini, maka kita akan menguraikan berbagai sumber yang menunjukkan adanya perubahan sosial. Sumber-sumber atau data-data yang diuraikan misalnya adanya laporan tentang jumlah orang-orang yang sekolah, jenis-jenis sekolah yang dimasuki, jenis-jenis pekerjaan penduduk dan jumlah pendapatannya, jumlah luas tanah di desa, adanya catatan tentang transaksi pembelian hasil-hasil pertanian oleh petani dengan pedagang yang berasal dari kota, catatan rapat di desa dan kecamatan tentang penyuluhan pertanian yang akan dilakukan oleh petugas pertanian kepada petani di desa, dan laporan dari desa tentang program pengembangan pertanian.

Bagaimanakah penulis sejarah atau sejarawan memberikan penafsiran berdasarkan contoh sumber-sumber yang ditemukan tersebut? Sumber-sumber tersebut harus dihubungkan antara yang satu dengan yang lainnya, terutama bisa dihubungkan dalam konteks hubungan sebab akibat atau adanya hubungan yang sangat signifikan. Berdasarkan sumber-sumber tersebut, sejarawan bisa memberikan penafsiran bahwa di desa itu pada tahun 1950-1955 terjadi perubahan sosial. Bagaimana perubahan sosial itu bisa dilihat? Perubahan sosial itu bisa dilihat, misalnya dengan semakin banyaknya atau meningkatnya jumlah anak-anak yang sekolah di desa itu, semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat desa. Pertanyaan berikutnya ialah bagaimana bisa terjadi peningkatan jumlah anak yang sekolah dan meningkatnya jenjang pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini bisa dihubungkan dengan menafsirkan sumber yang menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada masyarakat petani. Faktor penyebab meningkatnya pendapatan petani bisa disebabkan oleh peningkatan produksi pertanian.

Para petani dapat meningkatkan hasil produksinya, dari panen yang biasanya hanya dua kali setahun menjadi tiga kali setahun. Bahkan dalam mengelola sawahnya petani juga menggunakan tepian-tepian sawahnya dengan menanam palawija dan jenis-jenis tanaman lainnya yang bisa dijual, sehingga bisa menambah pendapatan petani. Mengapa produksi pertanian bisa meningkat? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka bisa dijawab dengan bukti dari sumber-sumber laporan desa yang menunjukkan adanya program pengembangan pertanian dan notulen rapat tentang penyuluhan pertanian dari petugas pertanian kepada petani. Berdasarkan sumber tersebut dapat ditafsirkan bahwa peningkatan produksi pertanian karena adanya intervensi langsung dari pemerintah yang melaksanakan program pengembangan bidang pertanian.

Dalam memberikan penafsiran, biasanya sejarawan akan melihat berbagai faktor yang menjadi faktor penentu perubahan. Secara garis besar, faktor penentu perubahan dalam sejarah dapat ditentukan oleh manusia sendiri dan faktor di luar manusia. Faktor di luar manusia misalnya lingkungan fisik atau alam di mana manusia itu hidup, seperti iklim, tanah, dan sumber-sumber daya alam lainnya.

Interpretasi sejarah dengan melihat manusia sebagai faktor penentu perubahan dalam sejarah, bisa dilihat dari manusia sebagai individu maupun manusia sebagai kelompok atau masyarakat. Contoh interpretasi sejarah yang melihat individu sebagai faktor penentu sejarah misalnya sejarah tentang “orang-orang besar” atau tokoh. Dalam sejarah-sejarah yang lama, sering ditampilkan peran sentral seorang tokoh dalam sebuah peristiwa. Tokoh tersebut sangat menentukan terjadinya sebuah peristiwa sejarah, misalnya Perang Dunia II banyak ditentukan oleh peran-peran individu yang menyebabkan perang tersebut terus berlangsung. Tokoh-tokoh individu yang menentukan dalam Perang Dunia II misalnya Hitler dari Jerman, Musolini dari Italia, dan Kaisar Hirohito dari Jepang.

Manusia sebagai kelompok dapat ditinjau dari manusia sebagai sebuah masyarakat. Masyarakat dalam pengertian di sini bisa didefinisikan sebagai sekumpulan individu yang terintegrasi dalam suatu struktur. Interpretasi dalam pendekatan ini dilakukan dengan melihat perubahan masyarakat secara struktur. Misalnya dengan tema penulisan sejarah Perubahan Sosial Desa 1950-1955, perubahan struktur yang terjadi yaitu dari struktur masyarakat yang tadinya berprofesi sebagai petani kemudian berubah menjadi buruh perkotaan.

Interpretasi sejarah dengan melihat lingkungan fisik atau alam sebagai faktor penentu dalam sejarah dapat berupa interpretasi geografis. Dalam interpretasi model ini, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh faktor geografis. Model seperti ini misalnya sejarah timbulnya peradaban-peradaban atau kerajaan-kerajaan kuno. Peradaban-peradaban kuno yang lahir banyak terletak di tepian sungai, seperti peradaban Lembah Sungai Indus di India, peradaban Cina di Lembah Sungai Huang Ho, peradaban Lembah Sungai Nil di Mesir, dan peradaban-peradaban lainnya. Mengapa peradaban-peradaban itu selalu terletak di tepi sungai? Dengan interpretasi geografis, dapat dikatakan bahwa sungai pada waktu itu merupakan sumber kehidupan dan tempat lalu lintas, karena pada saat itu belum ada kendaraan darat yang bermesin seperti sekarang ini. Kehidupan manusia masih banyak tergantung pada faktor alam. Pada daerah-daerah sungai yang demikian, akan muncul sebuah masyarakat manusia. Dengan demikian, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh faktor geografis.

Selain interpretasi geografis, terdapat pula interpretasi ekonomi. Interpretasi ekonomi artinya bahwa faktor ekonomi sangat menentukan perubahan dalam sejarah atau kehidupan manusia. Sejarah perang misalnya, tidak hanya dilihat dari faktor politik atau peran sentral individu atau tokoh. Sebuah perang dapat pula terjadi lebih disebabkan oleh faktor ekonomi. Misalnya perang itu terjadi disebabkan oleh adanya perebutan dari kedua negara terhadap sumber-sumber daya alam. Kedua negara itu ingin menguasainya. Bahkan penjajahan atau imperialisme bisa dilihat dari perspektif ekonomi. Negara-negara Barat melakukan penjajahan terhadap bangsa-bangsa Asia Afrika pada abad ke-19, lebih disebabkan oleh adanya keinginan bangsa-bangsa Barat menguasai sumber-sumber daya alam

Subjektivitas dalam interpretasi sejarah mungkin terjadi, karena seorang penulis sejarah atau sejarawan memiliki kewenangan untuk memberikan interpretasi terhadap sumber-sumber atau fakta-fakta yang telah ditemukannya. Walaupun demikian, seorang sejarawan harus berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari subjektivitas yang berlebih-lebihan, apalagi kepentingan pribadi atau golongannya yang mewarnai interpretasinya. Cara yang dilakukan untuk menghindari subjektivitas yaitu dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu yang bersifat ilmiah atau menggunakan konsep-konsep atau teori-teori, dalam menginterpretasikan sumber yang ditemukannya. Dengan cara seperti ini, diharapkan interpretasi sejarah akan lebih objektif.

Historiografi

Historiografi secara harfiah berarti penulisan sejarah. Langkah ini merupakan langkah terakhir dalam penelitian sejarah. Dalam langkah ini dapat dilihat bagaimana peneliti sejarah mengkomunikasikan hasil penelitiannya kepada orang lain atau dalam bentuk apa tulisannya dibaca untuk umum.

Menulis sejarah dalam bentuk historiografi pada dasarnya merupakan bentuk rekonstruksi sejarawan atau peneliti sejarah terhadap sumber-sumber yang telah ia temukan dan telah diseleksi dalam bentuk kritik. Historiografi ibarat membuat suatu bangunan. Dalam membuat suatu bangunan, seorang ahli bangunan mencoba memasang bahan-bahan yang telah disediakan. Dia memasang kayu untuk kusen, pintu, jendela; semen, pasir, dan batu bata untuk dinding; cat untuk mencat dinding. Apabila kita perhatikan bahan-bahan tersebut dalam keadaan masih tersimpan secara terpisah-pisah atau belum digunakan, maka kesan yang akan timbul dalam diri kita ialah menjadi tidak menarik. Akan tetapi, apabila bahan-bahan itu kita coba susun akan menjadi suatu bangunan yang indah. Hal tersebut sama pula halnya dalam merekonstruksi sumber-sumber sejarah. Ketika sumber-sumber sejarah masih dalam bentuk yang terpisah-pisah belum dikonstruksi, maka itu akan menjadi barang yang mati. Akan tetapi, ketika sumber-sumber sejarah itu kita rekonstruksi, akan menjadi suatu bangunan tulisan atau karya tulis yang hidup. Karya ini menjadi suatu cerita yang menarik dan enak dibaca.

Sebagai contoh kita menemukan catatan rapat desa, laporan jumlah penduduk desa beserta pendapatannya, jumlah luas tanah, jumlah orang-orang desa yang bersekolah, catatan transaksi jual beli hasil pertanian antara petani dengan pedagang dari kota, laporan program pengembangan pertanian di desa, dan sumber-sumber lainnya. Kalau sumber-sumber itu masih terserak-serak, belum direkonstruksi, belum bisa bercerita apa-apa akan barang-barang yang mati. Akan tetapi, ketika sumber-sumber itu direkonstruksi oleh sejarawan, sumber-sumber itu menjadi hidup. Dari sumber-sumber itu tersusunlah bagaimana cerita perkembangan desa tersebut.

Hal yang harus diperhatikan dalam historiografi adalah kemampuan menulis. Dalam menulis sejarah, dituntut kemampuan untuk berimajinasi. Dalam hal ini, tulisan sejarah ibarat suatu karya seni. Apabila seorang penulis sejarah memiliki kemampuan berimajinasi yang baik, maka tulisannya akan enak dibaca.

Pembaca akan diajak ke masa lampau. Apa yang diceritakan dalam tulisannya itu seolah-olah telah menghidupkan masa lampau yang telah mati.

Ada tiga bentuk penulisan sejarah, yaitu penulisan yang bersifat narasi, deskripsi, dan analitis. Penulisan yang naratif, lebih banyak bercerita sesuai dengan apa yang diinformasikan oleh sumber sejarah. Hal yang diceritakan dalam tulisannya itu hanya menjawab pertanyaan tentang apa dan di mana peristiwa itu terjadi. Deskriptif yaitu penulisan yang hampir sama dengan naratif, sama-sama berorientasi terhadap sumber. Selain menceritakan apa yang ada dalam sumber, dalam penulisan yang deskriptif lebih detail dan kompleks. Kekayaan sumber sangat menentukan deskripsi penulisannya sehingga banyak yang diceritakannya.

Penulisan sejarah sebenarnya merupakan bagian dari hasil penelitian. Langkah utama yang harus dilakukan dalam penelitian adalah membuat pertanyaan masalah yang akan dijadikan masalah penelitian. Penulisan yang bersifat analitis pada dasarnya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan. Uraian penulisannya bersifat problem solving, yaitu memecahkan masalah. Pertanyaan lebih diperluas tidak hanya terbatas pada apa, siapa dan di mana, tetapi mengajukan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Untuk menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana, dibutuhkan kemampuan yang bersifat analitis dari peneliti sejarah. Sebagai contoh, sejarah pemberontakan. Dalam penulisan yang bersifat naratif, hanya banyak bercerita tentang bagaimana awal pemberontakan itu timbul, berlangsung, dan sampai dengan berakhirnya. Jadi, uraian lebih bersifat kronologis semata.

Penulisan yang bersifat deskriptif akan menguraikan lebih detail mengenai pemberontakan itu, tidak hanya keberlangsungan dan berakhirnya, tetapi mungkin menguraikan sebab-sebab yang lebih detail dan kompleks serta bagaimana kondisi masyarakat sebelum terjadinya pemberontakan. Dengan demikian, akan memberikan informasi yang lebih banyak dalam menguraikan pemberontakan itu dibandingkan dengan uraian yang bersifat naratif. Adapun pendekatan yang bersifat analitis, melihat pemberontakan dari berbagai faktor. Pemberontakan sebagai sebuah tema penelitian, diuraikan dengan pembagian tema-tema atau topik-topik yang lebih kecil. Misalkan dililihat dari aspek politik, sosial, dan ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah terjadinya pemberontakan. Dengan uraian yang lebih analitis, diharapkan dapat diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang bersifat unik dan khas, yang bisa membedakan dengan pemberontakan lainnya. Bahkan dapat ditemukan satu model tersendiri tentang teori dari suatu pemberontakan.

Apabila kita perhatikan, langkah-langkah penelitian sejarah sepertinya harus melakukan tahapan-tahapan yang sifatnya berjenjang. Artinya, kita harus mendahulukan nomor yang awal, baru kemudian nomor langkah berikutnya. Misalnya kita harus melakukan dulu kritik, baru memberikan interpretasi.

Dalam prakteknya, sesungguhnya tahapan-tahapan penelitian sejarah tidaklah kaku. Artinya, kita tidak seharusnya mengikuti tahapan-tahapan awal baru berikutnya. Kita dapat melakukan tahapan tersebut secara bersamaan, misalnya ketika kita sedang melakukan kritik sesungguhnya kita pun sudah melakukan interpretasi. Karena pada saat itu, kita sudah bisa menentukan mana sumber sejarah yang cocok dengan topik penelitian. Begitu pula ketika kita sedang melakukan interpretasi, kita sendiri sudah melakukan penulisan. Sebab, ketika kita melakukan penulisan, pada dasarnya kita pun sedang memberikan penafsiran terhadap sumber-sumber sejarah yang digunakan.

B. Sumber Sejarah 

Apakah yang disebut dengan sumber sejarah? Sumber sejarah adalah sesuatu yang secara langsung atau tidak langsung me-nyampaikan kepada kita tentang sesuatu kenyataan pada masa lalu. Suatu sumber sejarah mungkin merupakan suatu hasil aktivitas manusia yang memberikan informasi tentang kehidupan manusia. Bagi sejarawan, sumber sejarah ini merupakan alat, bukan tujuan akhir. Adanya sumber sejarah merupakan bukti dan fakta adanya kenyataan sejarah.

Dengan sumber sejarah inilah, sejarawan dapat mengetahui kenyataan sejarah. Tanpa adanya sumber, sejarawan tidak akan bisa berbicara apa-apa tentang masa lalu; begitu pula tanpa sentuhan sejarawan, sumber sejarah pun belum bisa banyak bicara apa-apa. Sumber sejarah sendiri bukanlah sejarah. Sejarah itu ada karena konstruksi dari sejarawan terhadap sumber sejarah.

Dilihat dari sifatnya, sumber sejarah dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Apabila dilihat dari bentuknya, maka terdapat sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber dalam wujud benda fisik atau artefak. Sumber primer dapat berupa orang yang langsung menyaksikan kejadian suatu peristiwa atau catatan yang dibuat pada zamannya dengan bentuk tulisan, isi, dan bahan yang sezaman. Tetapi apabila orang yang tidak langsung menyaksikan suatu peristiwa tetapi ia mengetahuinya, maka termasuk sumber sekunder. Sumber sekunder dalam bentuk tertulis dapat berupa catatan tertulis yang bentuk tulisan dan bahannya tidak sezaman.

Untuk memudahkan perbedaan sumber primer dan sekunder, baiklah berikut ini diberikan contoh. Misalnya kita ingin melihat bagaimana kehidupan petani di suatu desa pada tahun 1945-1950. Untuk menulis tema tersebut, kita mencari arsip. Misalnya kita menemukan arsip tentang jumlah petani di desa tersebut pada tahun 1945-1950. Arsip yang kita temukan, ternyata ditulis dengan ketikan komputer dan dibuat di atas kertas HVS. Jelas bahwa sumber tersebut bukanlah sumber primer, karena bentuk ketikan yang digunakan tidak sezaman. Pada tahun 1945-1950 belum ada komputer. Jika data dalam sumber itu benar, maka dapat dimasukkan ke dalam sumber sekunder.

Dalam sumber lisan pun kita dapat membedakan sumber primer dan sekunder. Misalnya kita akan menulis pertempuran melawan Belanda di suatu kota pada masa revolusi. Untuk menulis peristiwa tersebut, kita mewawancarai orang yang pernah terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Kita menemukan misalnya seorang tentara yang sekarang sudah purnawirawan dan pernah ikut bertempur dalam peristiwa itu. Perwira yang kita wawancarai itu bisa dikatakan sebagai sumber primer. Apabila kita mewawancari anak perwira tersebut, dan anaknya tidak terlibat dalam peristiwa tersebut, tetapi mengetahuinya mungkin dari cerita ayahnya, maka anak perwira tersebut dapat dikategorikan ke dalam sumber sekunder.

Sumber tertulis

Penggunaan sumber tertulis dalam penelitian sejarah amatlah penting. Biasanya sumber tertulis dapat memberikan informasi aspek-aspek yang akan kita teliti, misalnya aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lain-lain. Dilihat dari segi bentuknya, sumber tertulis dapat berbentuk tulisan yang tercetak dan tulisan yang masih ditulis tangan atau manuskrip.

Ada beberapa contoh sumber tertulis yang dapat dijadikan sumber penelitian sejarah, yaitu sebagai berikut .

Laporan-laporan

Laporan yang lengkap akan banyak memberikan informasi yang penting bagi penelitian sejarah. Kita dapat menggunakan laporan, baik yang dibuat oleh lembaga resmi pemerintah maupun nonpemerintah. Biasanya, laporan dibuat setiap akhir tahun, sehingga dikenal sebagai laporan tahunan. Dalam laporan ini, biasanya lebih banyak berisi tentang data-data kuantitatif atau angka-angka, misalnya data angka jumlah penduduk, jumlah jenis-jenis pekerjaannya, angka kesehatan masyarakat, jumlah luas tanah, dan lain-lain. Dari angka-angka yang ada itu, kita bisa melihat bagaimana pasang surutnya perkembangan penduduk. Biasanya dalam laporan resmi tidak begitu banyak penjelasan terhadap angka-angka tersebut, misalnya mengapa pada tahun-tahun tertentu pendapatan petani naik dan pada tahun-tahun tertentu juga pendapatan petani menurun. Dengan tidak lengkapnya penjelasan tersebut, memaksa kita untuk mencarinya dari sumber lain seperti notulen rapat, surat-surat, catatan pribadi, dan sumber-sumber pendukung lainnya.

Dalam membaca laporan-laporan pemerintah, kita harus lebih kritis. Sebab, biasanya terdapat laporan-laporan yang dibuat tidak berdasarkan data yang nyata di lapangan. Hal ini terjadi karena si pembuat laporan merasa malas untuk mengecek atau melihat ke lapangan atau membuat laporan asal jadi. Oleh sebab itulah, kita perlu melakukan cek silang dengan sumber-sumber lainnya.

Adapun laporan nonpemerintah, misalnya laporan perusahaan. Apabila kita ingin membuat sejarah suatu perusahaan, laporan tahunan perusahaan itu merupakan salah satu sumber yang berarti. Tiap tahun misalnya perusahaan membuat laporan keuangan, berapa keuntungan yang diperoleh, atau rugi yang diderita, berapa jumlah karyawan, dan laporan-laporan lainnya. Dengan adanya laporan tahunan perusahaan, kita akan mengetahui bagaimana perkembangan perusahaan dalam periode tertentu.

Notulen rapat

Hal-hal yang menjadi materi pembicaraan rapat biasanya dicatat oleh salah seorang petugas. Catatan tersebut disebut notulen rapat. Notulen rapat memberikan informasi yang berharga dalam penelitian sejarah, apalagi bila notulen rapat yang kita temukan itu masih dalam bentuk tulisan tangan si petugas penulis. Apabila kita menemukan bentuk notulen rapat yang demikian, maka itu termasuk sumber primer. Dalam notulen rapat, biasanya terdapat materi penting yang menjadi bahasan rapat. Misalnya kita menemukan notulen rapat sebuah partai pada tahun 1950. Berdasarkan notulen tersebut, kita dapat menulis sejarah politik.

Surat-surat

Surat biasanya dapat berupa tulisan yang singkat, dapat pula surat yang panjang dan ada lampirannya. Baik surat yang pendek maupun surat yang panjang merupakan sesuatu yang berharga dalam penelitian sejarah. Apabila kita menemukan surat yang ada lampirannya, maka kita kemungkinan akan menemukan banyak data atau informasi yang kita butuhkan dalam penelitian. Misalnya dalam penelitian tentang perubahan sosial desa 1950-1955, ditemukan adanya surat dari kepala desa kepada masyarakat yang berisi undangan rapat tentang program pengembangan pertanian desa.

Berdasarkan surat tersebut, kita bisa memberikan tafsiran bahwa perubahan sosial yang terjadi di desa itu karena adanya kerja sama antara pihak pemerintah dan masyarakat. Dengan adanya undangan rapat itu, menunjukkan bahwa pemerintah desa mendialogkan programnya dengan masyarakat. Mungkin pula kita menemukan surat yang berasal dari masyarakat yang ditujukan kepada Kepala Desa. Dari surat yang seperti ini pun, kita bisa menjelaskan tentang hal yang diteliti. Misalnya surat itu berisi keluhan-keluhan masyarakat dalam melaksanakan program yang telah disepakati. Keluhan-keluhan itu misalnya banyak terjadi pencurian terhadap hasil-hasil pertanian dan ternak yang dipelihara, terjadinya serangan hama, permohonan bantuan pupuk, dan keluhan-keluhan lainnya. Berdasarkan surat ini, kita bisa memberikan tafsiran bahwa dalam melaksanakan program pengembangan pertanian terdapat pula hambatan-hambatan.

Surat kabar

Dalam surat kabar biasanya banyak berita yang memuat tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat. Berita-berita tersebut merupakan sumber yang berharga bagi peneliti sejarah. Peneliti sejarah dapat menyeleksi bagian mana dari berita itu yang dapat dijadikan sumber bagi penelitiannya, sebab surat kabar biasanya menyajikan berita yang beragam misalnya berita ekonomi, politik, budaya, sosial, pendidikan dan lain-lain. Apabila peneliti sejarah ingin meneliti sejarah ekonomi, maka berita ekonomi yang menjadi pilihannya untuk dijadikan sebagai sumber sejarah.

Berita yang disajikan oleh surat kabar yang satu dengan yang lainnya, kemungkinan akan menunjukkan suatu analisis yang beragam. Perbedaan ini disebabkan oleh kepentingan dari masing-masing penerbit surat kabar. Setiap surat kabar memiliki kepentingan atau misi untuk membentuk opini atau pendapat masyarakat. Surat kabar yang diterbitkan oleh pemerintah dan nonpemerintah tentu akan memiliki perbedaan dalam menilai suatu peristiwa. Apalagi surat kabar yang diterbitkan oleh partai politik, bisanya dijadikan sebagai alat untuk mempropagandakan program-program atau misi partai tersebut.

Dalam menghadapi keragaman tersebut, seorang peneliti sejarah harus menyikapinya secara kritis. Dalam menggunakan surat kabar sebagai sumber sejarah, hendaknya peneliti sejarah dapat membedakan mana fakta dan opini. Fakta adalah kenyataan yang sesungguhnya terjadi atau ada, sedangkan opini merupakan penilaian terhadap fakta itu sendiri. Kalau sudah masuk dalam bentuk opini, maka subjektivitas akan sangat menonjol. Selain itu, peneliti sejarah sebaiknya juga dapat mengetahui siapa yang menerbitkan surat kabar tersebut, apakah pemerintah, partai politik, atau lembaga-lembaga lainnya. Dengan mengetahui siapa penerbitnya, diharapkan peneliti sejarah akan lebih mudah mengetahui maksud opini yang ditampilkan oleh surat kabar tersebut.

Catatan pribadi

Catatan pribadi adalah catatan yang dibuat oleh seorang individu yang menceritakan pengalamannya yang ia pandang penting untuk dicatat. Biasanya ada orang-orang tertentu yang memiliki kebiasaan untuk menulis pengalamannya. Bahkan yang ia catat bukan sekedar apa yang terjadi pada dirinya, tetapi mungkin mencatat pengalaman orang lain yang ia lihat. Misalnya Mohammad Hatta mencatat pengalamannya dalam bentuk memoar. Dalam memoarnya itu, kita bisa melihat bagaimana Mohammad Hatta berjuang menuju kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang ia catat bukan hanya pengalaman pribadinya, tetapi ia mencatat pula bagaimana perilaku pejuang lainnya dalam suatu peristiwa, misalnya ketika perumusan proklamasi.

Orang-orang tertentu memiliki kebiasaan untuk mencatat berbagai peristiwa yang ia anggap penting dalam catatan pribadinya atau sering disebut dengan buku catatan harian. Peristiwa-peristiwa penting itu baik yang menyangkut dirinya maupun orang lain. Catatan pribadi ini dapat memberikan informasi yang mungkin saja tidak terdapat dalam laporan-laporan resmi, misalnya laporan resmi pemerintah. Ada kemungkinan beberapa pejabat pemerintah memiliki catatan-catatan khusus pribadi mengenai kegiatan-kegiatan yang ia lakukan di departemennya. Misalnya catatan-catatan tentang rapat-rapat yang dilakukan. Mungkin saja informasi yang diberikan dalam catatan pribadi pejabat tidak tercantum dalam laporan resmi, sehingga akan banyak memberikan informasi. Dalam catatan pribadi, mungkin kita dapat menemukan informasi yang tersembunyi, misalnya tentang perbedaan pendapat di antara para pejabat tentang suatu keputusan pemerintah. Dalam laporan resmi pemerintah, kita tidak menemukan adanya perbedaan pendapat, tetapi dalam catatan harian kita menemukan berbagai argumen di antara para pejabat yang berbeda pendapat.

Ada pula dari catatan-catatan pribadi ini yang kemudian disusun oleh si pemilik catatan tersebut menjadi sebuah autobiografi atau memoar. Dalam menghadapi sumber seperti ini, kita harus lebih kritis. Sebab, tidak menutup kemungkinan subjektivitas akan dominan. Si penulis memoar atau autobiografi akan lebih menonjolkan peran-peran pribadinya. Orang-orang lain yang memiliki peran, tidak banyak ditonjolkan. Sering sekali terjadi ketika autobiografi itu dipublikasikan bisa menimbulkan kontroversial, terutama dari orang-orang yang merasa tidak bisa menerima apa yang diuraikan dalam autobiografi atau memoar tersebut.

Dalam menggunakan catatan pribadi pun, kita tidak akan menggunakan seluruh informasi yang ada dalam catatan tersebut. Data yang kita cari dari catatan pribadi hanya data yang berkaitan dengan tema penelitian kita. Misalnya dari memoar Hatta, kita hanya mengambil bagian tentang perumusan proklamasi karena penelitian kita hanya bicara bagaimana sikap para pemuda dalam menghadapi proklamasi.

Sumber lisan

Sumber lisan diperoleh melalui wawancara. Metode yang digunakan dalam pengumpulan sumber lisan tersebut dikenal sebagai Oral History. Data sejarah yang kita peroleh dalam sejarah lisan ialah apa yang ada dalam memori informan, baik sebagai saksi langsung maupun tidak langsung. Kebenaran sumber lisan ini sangat tergantung pada penuturan informan yang diwawancarai.

Dalam melakukan wawancara, dibutuhkan kemampuan teknik-teknik tertentu. Ketrampilan tersebut baik pada saat sebelum wawancara dilaksanakan maupun pada saat pelaksanaan. Peneliti sejarah terlebih dahulu harus memiliki persiapan yang matang sebelum wawancara dilaksanakan. Sebelum wawancara dilaksanakan, peneliti sejarah harus menguasai terlebih dahulu materi yang akan ditanyakan. Misalnya kita akan meneliti pertempuran menghadapi Belanda yang terjadi di suatu daerah pada masa revolusi. Kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zaman revolusi, bagaimana gambaran umum zaman revolusi, dan lain-lain. Dengan pengetahuan seperti ini, diharapkan wawancara yang kita lakukan akan lebih mendalami pengetahuan yang sebelumnya telah diketahui.

Agar wawancara yang dilakukan lebih terarah, maka sebaiknya terlebih dahulu kita harus membuat daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan ini menjadi pedoman ketika kita akan melakukan wawancara. Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan sebelum wawancara dilaksanakan adalah alat perekam yang akan digunakan. Persiapkan alat perekam dengan baik, apakah berfungsi ataukah tidak? Jangan sampai ketika kita melakukan wawancara ternyata alat perekamnya tidak berfungsi. Apabila hal ini terjadi, maka wawancara yang kita lakukan menjadi sia-sia.

Sebaiknya orang yang kita wawancarai lebih banyak mengungkapkan fakta, bukan interpretasi dia terhadap fakta. Kalau interpretasi yang diungkapkan, maka hal itu akan menimbulkan subjektivitas yang tinggi terhadap sumber sejarah. Misalnya kita akan meneliti tentang perjuangan masyarakat di suatu desa dalam melawan pendudukan Belanda pada masa revolusi. Dalam mewancarai tokoh yang terlibat pada masa itu, kita tidak perlu menanyakan bagaimana penilaian tokoh tersebut terhadap peran tokoh-tokoh yang lainnya, apakah tokoh lainnya itu baik atau tidak. Tetapi yang kita tanyakan adalah bagaimana proses perlawanan itu terjadi, di mana, kapan, dan siapa-siapa saja yang terlibat. Biarkanlah tokoh tersebut mengisahkannya sendiri.

Sebagaimana telah dikemukan, terhadap sumber lisan harus dilakukan kritik. Kritik yang dilakukan terhadap sumber ini ialah untuk melihat kebenaran fakta yang diungkapkan oleh informan. Langkah yang dilakukan untuk menilai keabsahan sumber tersebut adalah dengan melakukan cek silang (cross check). Oleh sebab itu, dalam wawancara sebaiknya tidak hanya dilakukan terhadap satu orang informan saja, tetapi dilakukan terhadap beberapa informan. Cara seperti ini dilakukan untuk memudahkan cek silang. Peneliti melakukan perbandingan antara apa yang dituturkan oleh seorang informan dengan informan yang lainnya.

Pengujian keabsahan sumber tidak hanya dilakukan dengan cek silang antarinforman. Peneliti dapat menguji keabsahan apa yang disampaikan oleh penutur dengan sumber tertulis, misalnya dengan arsip. Mungkin saja arsip akan memberikan informasi yang berbeda dengan informan mengenai suatu peristiwa yang sama.

Penggunaan sumber lisan pada dasarnya apabila kita menganggap kurang sumber data yang diperoleh melalui sumber tertulis. Misalnya kita meneliti perlawanan pada masa revolusi, dalam arsip tidak mencantumkan kapan peristiwa itu terjadi dan berapa korban dari pihak republik. Untuk mengetahui hal tersebut, maka kita melakukan wawancara terhadap orang yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.

Daya ingat yang dimiliki oleh informan merupakan kelemahan utama dalam penggunaan sumber lisan. Semakin jauh jarak peristiwa dengan usia informan, maka kemungkinan sumber itu kurang valid. Informan kemungkinan lupa terhadap peristiwa yang ia alami. Selain kelupaan, subjektivitas informan merupakan bagian dari kelemahan sumber lisan. Biasanya ada informan yang menyampaikan informasinya lebih banyak menonjolkan tentang peran dirinya. Oleh sebab itu, kita harus bersikap kritis terhadap sumber lisan.

C. Jenis Jenis Sejarah

Studi sejarah merupakan studi terhadap kehidupan manusia. Kehidupan manusia memiliki aspek budaya, ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Selain itu, ruang lingkup kehidupan manusia bisa dalam bentuk ruang lingkup yang kecil hingga ruang lingkup yang besar. Ruang lingkup yang kecil misalnya keluarga, sedangkan ruang lingkup yang besar misalnya masyarakat.

Aspek kehidupan dan ruang lingkup manusia dapat menjadi tema-tema penelitian sejarah. Tema-tema tersebut dapat menjadi jenis-jenis sejarah yang dapat ditulis oleh peneliti. Jenis sejarah yang bisa ditulis misalnya sejarah keluarga, sejarah politik, sejarah militer, sejarah ekonomi, sejarah sosial, dan sejarah intelektual. Masih banyak lagi jenis sejarah yang dapat ditulis.

Sejarah keluarga

Sejarah keluarga menarik untuk ditulis menjadi suatu karya sejarah. Dalam penulisannya sudah barang tentu harus menjadi suatu karya ilmiah. Bukanlah suatu cerita yang bersifat narasi belaka. Agar tulisan itu menarik, maka seorang penulis sejarah terlebih dahulu memahami batasan keluarga. Secara sosilogis keluarga merupakan ikatan terkecil dari bentuk masyarakat. Dalam keluarga terdapat sekumpulan individu-individu. Individu-individu yang ada dalam keluarga minimal ayah, ibu, dan anak.

Sebagaimana telah dikemukakan, keluarga adalah ruang lingkup terkecil dari suatu masyarakat. Dalam keluarga terdapat individu-individu yang saling berinteraksi. Interaksi yang dilakukan oleh mereka menunjukkan berbagi perilaku yang beragam. Perilaku-perilaku individu tersebut dapat menjadi kajian bidang ilmu sosial khususnya seperti antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, dan lain-lain. Secara mikro, keluarga merupakan suatu bangunan struktur. Struktur dalam penelitian sejarah dapat dilihat sebagai sesuatu yang berubah. Dengan demikian, penulisan sejarah keluarga dapat dilihat dari berbagai pendekatan.

Pendekatan yang dilakukan dalam menulis sejarah keluarga tergantung pada batasan ilmu yang digunakan. Sebagaimana telah dikemukakan, keluarga secara sosilogis adalah sebuah bentuk terkecil dari masyarakat yang dapat membentuk suatu struktur. Sebagai suatu struktur, maka keluarga dapat membangun suatu perubahan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Misalnya kita akan menulis sejarah asal usul suatu daerah, maka kita dapat melihat asal-usul keluarga yang berpengaruh pada daerah tersebut. Misalnya di Tasikmalaya Jawa Barat, asal usul kota tersebut bisa dilihat dari keluarga bupati keturunan Wiradadaha. Sebagian besar Bupati yang memerintah di Tasikmalaya berasal dari keluarga Wiradadaha.

Selain pendekatan sosilogis, penulisan sejarah keluarga bisa dilihat pula dari pendekatan antropologi. Dalam pendekatan ini, biasanya lebih mementingkan aspek budaya. Misalnya kita menulis sejarah keluarga dengan cara melihat nilai-nilai apa yang yang ditanamkan oleh keluarga tersebut. Sebuah keluarga yang berasal dari lingkungan santri sudah barang tentu akan berbeda dengan yang bukan dari kalangan santri, dalam hal nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga. Aspek budaya ini dapat kita kaji dari segi perilaku. Misalnya kita ingin melihat peran politik yang dimainkan oleh keluarga tersebut. Kalau keluarga yang berasal dari kalangan santri mungkin dalam peran politik yang dilakukan lebih banyak diwarnai oleh nilai-nilai keagamaan. Dengan demikian, pendekatan antropologi dan politik dapat dilakukan dalam penulisan sejarah keluarga.

Pendekatan ekonomi pun dapat dilakukan dalam menulis sejarah keluarga. Keluarga dalam konteks ini bisa dilihat sebagai unit ekonomi. Dalam sebuah keluarga, terdapat hubungan individu-individu yang membentuk suatu jaringan.

Jaringan yang dibangun dapat menjadi suatu jaringan ekonomi. Bahkan jaringan tersebut dapat meluas, dari suatu ruang lingkup keluarga kecil menjadi ruang lingkup keluarga yang besar. Bahkan jaringan ini membentuk suatu daerah. Misalnya dalam sebuah kampung pengrajin terdapat ikatan-ikatan keluarga di antara sesama pengrajin. Sejarah ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari perilaku ekonomi yang ditanamkan dalam keluarga. Pengkajian seperti ini akan menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa perekonomian tumbuh dengan baik pada daerah tersebut.

Sejarah politik

Salah satu bagian dari perilaku manusia adalah kekuasaan. Kajian tentang kekuasaan merupakan fokus utama dalam sejarah politik. Dalam pendekatan yang konvensional, sejarah politik biasanya dikaitkan dengan sejarah “orang-orang besar”. Orang-orang ini biasanya berkuasa dalam sebuah kerajaan atau negara. Orang-orang tersebut misalnya raja atau penguasa.

Kalau kita menulis sejarah Perang Dunia II sebagai sejarah politik, maka kita akan menampilkan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai “orang-orang besar”. Tokoh-tokoh tersebut misalnya Hitler, Kaisar Hirohito, dan Musolini. Kita akan mendeskripsikan bahwa tindakan tokoh-tokoh tersebut sangat menentukan perubahan dunia. Perang tidak mungkin terjadi kalau tokoh-tokoh tersebut tidak menghendakinya. Pada tangan-tangan kekuasaan merekalah, dunia terjerumus dalam Perang Dunia II.

Dalam penulisan sejarah yang lama, kita sering menemukan sejarah politik, misalnya jatuh bangun dan pergantian pada dinasti-dinasti lama. Pergantian dinasti lebih dilihat sebagai ulah atau perilaku dari rajanya sendiri. Penulisan sejarah pada periode kerajaan-kerajaan Hindu atau Islam misalnya, menunjukkan bagaimana peran sentral para raja dalam menentukan kebijakan negerinya.

Penulisan sejarah politik yang kontemporer misalnya penulisan tentang peran parlemen. Sejarah Indonesia pada masa demokrasi liberal bisa ditulis dengan penulisan sejarah politik. Pada masa demokrasi liberal, Indonesia mengalami jatuh bangunnya parlemen akibat adanya mosi tidak percaya. Kita yang menulis sejarah tersebut harus bisa melihat dari aspek politik, mengapa pada masa itu parlemen sering jatuh. Untuk menjawabnya kita bisa melihat dari undang-undang yang berlaku saat itu, partai-partai politik yang terlibat, ideologi, dan misi dari masing-masing partai politik, program-program dari masing-masing kabinet, dan aspek-aspek politik lainnya.

Sejarah militer

Dalam banyak catatan sejarah dunia, perang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perilaku manusia. Kajian tentang perang merupakan bagian penting dari sejarah militer. Dalam sejarah militer, bisa dikaji strategi yang digunakan, kekuatan pasukan yang berperang, dan senjata yang digunakan. Penulisan sejarah militer sesungguhnya tidak hanya melihat aspek politik dari militer itu sendiri. Perang dapat pula menjadi budaya pada suatu masyarakat tertentu. Dengan pemahaman seperti ini, maka dalam menulis sejarah militer bisa dilihat dari aspek budaya.

Dalam sejarah Indonesia, sejarah militer merupakan tema yang cukup banyak untuk ditulis. Misalnya periode kedatangan VOC. Kegiatan VOC ketika berada di Indonesia tidak lepas dari peperangan. Sebagai kongsi dagang, VOC memiliki kewenangan untuk memerangi lawan-lawannya. Bagaimana VOC dengan cara berperang mampu menguasai dan menjajah Indonesia. Dari sejarah militer tentang VOC, kita bisa dengan mudah mengetahui bagaimana awalnya penjajahan Barat di Indonesia. Mengapa VOC yang berasal dari negeri yang cukup jauh dan dapat menguasai wilayah Indonesia yang sangat luas?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita harus memperhatikan teknologi dan strategi perang yang dimiliki oleh VOC. VOC memiliki kapal-kapal yang cukup besar yang dilengkapi dengan persenjataan yang cukup maju pada saat itu. Teknologi pelayaran dan perang yang dimiliki oleh VOC jauh lebih maju dibandingkan dengan teknologi yang dimiliki orang pribumi. Perdagangan yang dilakukan oleh VOC adalah perdagangan sambil berperang. Dengan cara seperti ini, VOC mampu menguasai wilayah lautan di Nusantara pada saat itu dan menjajah Indonesia.

Dalam mempelajari sejarah perang, perhatian kita bukan hanya pada persenjataan saja. Perang dapat berhasil harus didukung oleh faktor-faktor lainnya seperti dukungan logistik. Contoh hal ini bisa kita lihat dalam perang antara Mataram dengan VOC. Sultan Agung sebagai raja Mataram mengirimkan pasukannya ke Batavia (Jakarta). Dalam melakukan perang dengan VOC, Mataram ternyata mengalami kekalahan. VOC berhasil membakar gudang persediaan makanan pasukan Mataram di daerah Krawang. Dengan cara seperti ini, bantuan logistik pasukan Mataram menjadi lemah.

Pada masa penjajahan Belanda selama periode berikutnya, peperangan banyak terjadi, seperti perlawanan-perlawanan di beberapa daerah terhadap Belanda. Perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada saat itu dilakukan dengan cara berperang. Beberapa perang yang terjadi seperti Perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Paderi, Perang Banjarmasin, Perang Puputan di Bali, dan beberapa perang lainnya. Di antara perang-perang tersebut, yang memakan waktu lama adalah Perang Aceh, bahkan pasukan Belanda pun banyak yang meninggal. Salah satu faktor yang menjadi penyebab kegigihan rakyat Aceh dalam berperang melawan Belanda adalah ideologi yang begitu kuat tertanam dalam diri orang-orang Aceh. Ideologi yang dipegangnya adalah ideologi perang sabil. Dalam ideologi ini perang adalah jalan untuk mencapai kemuliaan agama (Islam). Dengan contoh pada perang Aceh ini, maka sejarah perang harus pula menampilkan adanya ideologi yang dimiliki oleh pasukan yang berperang. Kekuatan perang ternyata bukan hanya terletak pada kekuatan teknologi persenjataan yang dimilikinya, tetapi juga ideologi yang dianut oleh pasukan yang berperang.

Sejarah ekonomi

Secara sederhana ekonomi dapat didefinisikan sebagai kegiatan manusia yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka manusia melakukan berbagai aktivitas. Aktivitas manusia tersebut misalnya produksi, penjualan, pembelian, penawaran, dan permintaan barang-barang, penggunaan sumber-sumber ekonomi, dan lain-lain. Aktivitas-aktivitas tersebut akan menyebabkan adanya hubungan di antara sesama individu, baik dalam ruang lingkup yang kecil maupun yang besar. Aktivitas ekonomi manusia menjadi kajian penting dalam penulisan sejarah ekonomi.

Ruang lingkup penulisan sejarah ekonomi bisa dalam skala yang lebih mikro maupun makro. Ruang lingkup yang lebih mikro, misalnya kita menulis sejarah ekonomi pedesaan. Hal-hal yang bisa kita kaji dari sejarah ekonomi pedesaan, yaitu bagaimana kegiatan sehari-hari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya: apakah mereka berdagang, bagaimana cara berdagang yang mereka lakukan; apakah mereka bertani, bagaimana cara bertani yang mereka lakukan; berapa pendapatan yang mereka peroleh; apakah dari pendapatan yang mereka peroleh itu dapat menyejahterakan hidupnya; dan masih banyak faktor-faktor lainnya. Dalam penulisan sejarah ekonomi pedesaan, kajian kita yang terpenting ialah bagaimana perkembangan ekonomi masyarakat pedesaan dalam suatu periode tertentu? Apakah perkembangan ekonomi itu mengarah pada kesejahteraan atau kemiskinan? Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab tumbuhnya perekonomian masyarakat pedesaan tersebut? Apakah pertumbuhan itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah? Apakah disebabkan oleh kreativitas masyarakat pedesaan sendiri?

Kajian sejarah ekonomi bisa dalam bentuk aktivitas sekelompok masyarakat, seperti kelompok masyarakat pedesaan, dapat pula kajian terhadap lembaga-lembaga ekonomi. Misalnya perkembangan ekonomi suatu perusahaan. Dalam menulis sejarah ekonomi perusahaan, kita bisa mengkaji bagaimana perkembangan ekonomi perusahaan tersebut dalam suatu periode jangka waktu tertentu? Apakah mengalami suatu kemajuan atau keuntungan? apakah mengalami kemunduran atau kerugian? Faktor-faktor apakah yang menjadi penyebab kemunduran atau kemajuan dari ekonomi perusahaan tersebut? Apakah disebabkan oleh faktor internal atau oleh faktor eksternal perusahaan tersebut?

Dalam skala yang lebih makro atau lebih luas, kajian sejarah ekonomi bisa dalam ruang lingkup yang lebih luas misalnya skala nasional. Sejarah ekonomi Indonesia pada zaman kolonial memiliki kajian yang cukup banyak. Periode yang cukup penting bagi penulisan sejarah ekonomi Indonesia pada masa kolonial yaitu pada masa Tanam Paksa dan masa berlakunya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Pada zaman Tanam Paksa penulisan sejarah ekonomi dapat mengkaji hal-hal seperti jenis-jenis tanaman apa yang diwajibkan untuk ditanam, bagaimana pemerintah kolonial membuka lahan-lahan perkebunan, bagaimana pengelolaan Tanam Paksa yang bisa menguntungkan pemerintah kolonial secara ekonomi, bagaimana keuntungan yang diperoleh pemerintah kolonial dari Tanam Paksa, bagaimana kehidupan ekonomi kaum pribumi dengan adanya Tanam Paksa.

Sejarah sosial

Sebagaimana telah dibahas bahwa masyarakat pada dasarnya merupakan kumpulan individu-individu yang membangun suatu struktur. Struktur secara sosiologis dapat berubah. Ada yang berubah karena interaksi dari dalam dan ada pula yang berubah karena adanya interaksi dari luar. Perubahan struktur inilah yang merupakan kajian penting dalam sejarah sosial. Sehingga sejarah sosial dapat pula disebut sebagai sejarah masyarakat atau sejarah struktur.

Pada mulanya, sejarah sosial lahir sebagai respon terhadap penulisan sejarah yang konvensional. Sejarah konvensional yang dimaksud adalah sejarah yang hanya menekankan orang-orang besar saja seperti para raja atau penguasa. Penulisan sejarah yang konvensional memberikan kesan seolah-olah sejarah adalah milik orang-orang besar saja. Respon terhadap sejarah konvensional tersebut kemudian melahirkan sejarah “orang-orang kecil”. Orang-orang kecil yang dimaksud seperti petani, buruh, rakyat kecil, dan kelompok-kelompok marginal lainnya. Dalam hal ini, peran-peran yang dilakukan oleh orang-orang kecil harus menjadi kajian sejarah. Kajian inilah yang pertama kali menjadi fokus penulisan sejarah sosial.

Kehidupan buruh di perkebunan pada zaman penjajahan merupakan salah satu tema yang dapat dijadikan penulisan sejarah sosial. Buruh dapat dilihat sebagai suatu masyarakat yang terstruktur. Bahkan kehidupan di perkebunan menunjukkan adanya suatu struktur masyarakat, ada pemilik perkebunan sebagai penguasa, pejabat perkebunan, dan buruh. Kajian yang bisa kita lakukan dengan sejarah buruh di perkebunan yaitu bagaimana latar belakang lahirnya kaum buruh di perkebunan, bagaimana kehidupan sehari-hari kaum buruh, bagaimana hubungan antara buruh dengan pejabat dan pemilik perkebunan, bagaimana kebijakan pemilik perkebunan atau pemerintah terhadap kesejahteraan kaum buruh, bagaimana reaksi kaum buruh terhadap kebijakan pemilik perkebunan atau pemerintah, apakah ada gejolak dalam kehidupan kaum buruh, faktor apakah yang menjadi penyebab terjadinya gejolak tersebut, dan faktor-faktor lainnya.

Sejarah intelektual

Fokus utama sejarah intelektual adalah bagaimana lahirnya pemikiran-pemikiran manusia. Pemikiran-pemikiran yang dikaji dalam sejarah intelektual adalah pemikiran yang memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia, baik dalam ruang lingkup yang kecil maupun ruang lingkup yang besar.

Hasil pemikiran manusia dapat berupa filsafat atau ilmu pengetahuan. Apabila filsafat yang dikaji, maka akan melahirkan sejarah filsafat, misalnya aliran-aliran filsafat yang berkembang di Yunani. Hal ini menjadi kajian sejarah yang menarik karena pemikiran filsafat Yunani memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perubahan dunia.

Sejarah intelektual bisa dikaji dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Misalnya perkembangan ilmu pengetahuan di Barat. Untuk melihat bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, maka harus dilacak ke belakang, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Islam. Orang-orang Barat pada masa itu banyak mempelajari pemikiran-pemikiran dari para cendikiawan muslim, seperti ilmu kedokteran dari Ibnu Sina, sehingga di Barat nama Ibnu Sina dikenal dengan sebutan Avicena. Kajian tentang perkembangan ilmu pengetahuan di Barat dapat merupakan tema dalam sejarah intelektual.

Sejarah intelektual di Indonesia dapat kita kaji. Kita dapat mengkaji beberapa pemikiran tentang tokoh-tokoh. Bagaimana kita mengkaji pemikiran-pemikiran para tokoh pejuang Indonesia, kita dapat mulai mempelajarinya dari latar belakang pendidikannya. Kebanyakan dari tokoh-tokoh pejuang Indonesia berlatar belakang pendidikan Barat (Belanda). Walaupun mereka belajar dari pemikiran-pemikiran Barat, tetapi dalam prakteknya para tokoh tersebut mencoba menyesuaikan dengan kondisi objektif masyarakat di Indonesia. Misalnya gagasan tentang ekonomi kerakyatan menurut Mohammad Hatta, gagasan marhaenisme menurut Soekarno, gagasan nasionalisme manurut Ki Hajar Dewantara, gagasan tentang negara menurut Mohammad Natsir, gagasan sosialisme menurut HOS Cokroaminoto. Gagasan-gagasan dari para tokoh pemimpin Indonesia ini penting kita pelajari, karena gagasan-gagasan mereka cukup berpengaruh dalam perubahan sosial politik di Indonesia. Marhaenisme Soekarno pada dasarnya merupakan bentuk sosialisme yang ditafsirkan dengan kondisi nyata bangsa Indonesia. Nasionalismenya Ki Hajar Dewantara adalah nasionalisme yang berakar dari kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa. Gagasan nasionalismenya kemudian ia terapkan pada sistem persekolahan yang didirikannya, yaitu Sekolah Taman Siswa. Sekolah ini memberikan peran sejarah yang cukup penting dan sampai sekarang sekolah ini masih tetap ada. Sosialisme Cokroaminoto merupakan bentuk reaksi terhadap komunisme yang waktu itu masuk ke dalam tubuh Syarekat Islam. Gagasan nasionalisme Cokroaminoto berakar dari nilai-nilai agama Islam. Ekonomi kerakyatan yang dimaksud oleh Mohammad Hatta dan cocok dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia adalah koperasi, karena dalam diri bangsa Indonesia terdapat nilai kekeluargaan yang merupakan ciri dari koperasi.

D. Prinsip Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Lisan

Sejarah lisan adalah pencarian sumber-sumber yang berdasarkan pada sumber lisan atau disebut dengan oral history. Metode sejarah lisan sesungguhnya sudah lama digunakan. Orang yang pertama kali menggunakan metode ini adalah Herodotus sejarawan Yunani yang pertama. Dia mengembara ke tempat-tempat yang jauh untuk mengumpulkan bahan-bahan sejarah lisan. Selain Herodotus, terdapat pula orang Yunani, yaitu Thucydides. Untuk mengetahui sejarah perang Poloponesa, dia mencari kisah kesaksian langsung para prajurit yang ikut dalam perang.

Penggunaaan sejarah lisan di Indonesia, sebenarnya juga sudah lama dilakukan. Hal ini dapat dilihat dalam historiografi tradisional. Ciri adanya penggunaan sejarah lisan yaitu adanya kalimat seperti “Kata Sahibul Hikayat”, atau “Menurut yang empunya cerita”, dan sebagainya. Kalimat tersebut mengandung arti bahwa penulis historiografi tradisional mengumpulkan sumber-sumber melalui sumber lisan.

Sejarah lisan menjadi suatu metode mengalami perkembangan. Metode ini kembali dilihat oleh para ahli terutama di Amerika Serikat pada abad ke-20. Penggunaan sejarah lisan mulai diperhatikan kembali oleh para sejarawan karena adanya kekhawatiran orang-orang yang masih hidup dan menyaksikan peristiwa akan meninggal, sedangkan mereka sendiri tidak membuat catatan-catatan tertulis. Memori yang dimiliki oleh para saksi peristiwa tersebut merupakan sumber informasi yang berharga.

Sejarah lisan dalam pelaksanaannya sebagai suatu metode yang modern dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Para ahli pada saat itu menggunakan penelitian dengan metode lisan untuk melihat kenangan bekas para budak hitam. Penelitian yang dilakukan para ahli ini kemudian mengalami perkembangan. Sumber lisan yang dikumpulkan, tidak hanya dari orang-orang besar saja atau para tokoh, tetapi orang-orang kecil pun mereka wawancarai bahkan orang-orang yang buta huruf. Orang-orang ini sangat sulit mewariskan sumber-sumber tertulis.

Hal terpenting dari sejarah lisan adalah untuk mencari informasi-informasi yang luput atau lolos dari sumber tertulis. Banyak pembicaraan yang tidak terekam dalam sumber tertulis. Penemuan-penemuan teknologi memberikan bantuan penting terhadap metode sejarah lisan, misalnya telepon. Barangkali ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang berangkat dari pembicaraan-pembicaraan telepon dan tidak tercatat dalam arsip resmi. Pembicaraan-pembicaraan ini, kalau terekam, tentu akan menjadi sumber lisan yang berharga. Perkembangan teknologi sangat menunjang terhadap perkembangan sejarah lisan. Penemuan teknologi tersebut seperti ditemukannya alat perekam (phonograph) pada tahun 1877. Perkembangan alat perekam pada tahun 1960, dengan ditemukannya tape recorder, semakin memudahkan untuk menyimpan data atau sumber lisan.

Ada beberapa hal atau prinsip yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian sejarah lisan, yaitu sebagai berikut.

1. Perencanaan wawancara

Perencanaan yang baik akan menghasilkan pengumpulan sumber lisan yang sangat baik. Oleh sebab itu, perencanaan wawancara harus benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang akan melaksanakan wawancara lisan. Langkah pertama dalam perencanaan adalah menetapkan orang yang akan kita wawancarai. Agar wawancara itu berjalan dengan lancar sebaiknya sebelum wawancara itu dilaksanakan kita mempelajari latar belakang dari orang tersebut. Selain itu seorang pewancara harus menguasai materi yang akan ditanyakan. Untuk menguasai materi yang akan ditanyakan, sebaiknya pewancara terlebih dahulu membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan materi pembicaraan. Kedua, sebelum kita melakukan wawancara langsung, sebaiknya orang yang akan kita wawancarai dihubungi terlebih dahulu dan mengadakan perjanjian kapan wawancara itu dilakukan. Langkah ketiga ialah menetapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan kita tanyakan. Sebaiknya kita membuat daftar pertanyaan dan pertanyaan yang kita ajukan bukan pertanyaan yang menghendaki jawaban berupa “ya” atau “tidak”. Jadi, yang ditanya hendaknya “Mengapa?”, “Bagaimana?”, “Di mana”. Jenis pertanyaan ini untuk menghindari jawaban “ya”, atau “tidak”. Kalau kita mendapatkan jawaban “ya”, atau “tidak”, maka kita tidak akan mendapatkan sumber yang banyak. Sebaiknya ikhtisar pertanyaan yang akan kita tanyakan dikirim terlebih dahulu kepada informan atau diberikan terlebih dahulu secara lisan. Diharapkan dengan dikirimkannya pertanyaan-pertanyaan kepada informan, maka informan akan mempersiapkan diri dalam memberikan jawaban-jawaban dan memberikan informasi yang lebih banyak. Langkah keempat adalah menyiapkan alat perekam atau tape recorder. Kita harus terampil menggunakan alat perekam, jangan sampai pada saat wawancara dilakukan tape recorder tidak berfungsi. Kita harus menyiapkan berapa kaset yang kita butuhkan. Jumlah kaset yang kita butuhkan tergantung pada lamanya waktu yang kita perlukan pada saat wawancara.

2. Pelaksanaan wawancara

Dalam melaksanakan wawancara, sebaiknya pewancara mampu menciptakan situasi yang kondusif. Wawancara yang dilakukan bukanlah suatu dialog. Dalam dialog biasanya terjadi interpretasi terhadap fakta, baik yang dilakukan oleh pewancara maupun informan. Hal yang harus diperhatikan dalam wawancara adalah mendapatkan kisah pengalaman dari orang yang sedang diwawancarai. Pewancara berbicara hanya sebatas mengarahkan pertanyaan yang diajukan kepada informan. Jangan sampai pewancara banyak berbicara dan menggurui informan. Dalam rekaman sebaiknya suara yang banyak terekam adalah suara informan, bukan pewancara. Apabila suara informan banyak terekam, maka akan memberikan fakta sejarah yang cukup banyak.

3. Orang yang diwawancarai

Siapakah orang yang diwawancarai? Orang yang kita wawancarai seharusnya orang yang langsung menyaksikan peristiwa yang kita teliti. Hal ini perlu dilakukan agar informasi yang diberikan lebih akurat. Seberapa banyak orang yang diwawancarai? Hal itu tergantung pada kebutuhan informasi yang kita perlukan, bisa individu maupun kelompok. Kalau kita hanya menulis biografi seorang tokoh, mungkin hanya satu orang, tetapi kalau kita menulis sebuah peristiwa mungkin bisa mewawancari orang yang lebih banyak.

4. Materi wawancara

Agar materi wawancara yang kita cari sesuai dengan yang kita harapkan, sebaiknya kita menetapkan tema apa yang menjadi penelitian kita. Tema penelitian menjadi pegangan utama dalam menetapkan materi yang akan kita tanyakan kepada informan. Oleh sebab itu, materi harus disesuaikan dengan informan, artinya informan yang kita cari adalah orang yang mengetahui materi yang akan kita tanyakan. Misalnya kita akan menulis sejarah dengan tema kehidupan sosial ekonomi suatu daerah pada masa revolusi, maka kita harus merumuskan dahulu apa yang dimaksud dengan kehidupan sosial ekonomi dalam penelitian itu. Faktor-faktor apakah yang menjadi ciri-ciri sebuah kehidupan sosial ekonomi, misalnya pendidikan, lapangan pekerjaan, pendapatan, kehidupan kegamaan, dan lain-lain. Dengan telah dirumuskannya kehidupan sosial ekonomi, maka faktor-faktor tersebutlah yang akan kita tanyakan kepada informan.

Sebagai ringkasan dari materi di atas, mengenai Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah berikut :

Salah satu ciri penting dari sejarah sebagai ilmu adalah sejarah memiliki metode. Metode adalah langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam suatu penelitian. Tujuan dari penelitian dalam sejarah adalah untuk memperoleh kebenaran sejarah sehingga menghasilkan suatu karya ilmiah yang objektif dan rasional.

Hal terpenting yang harus dilakukan dalam penelitian sejarah adalah penggunaan sumber sejarah. Sejarah dapat diteliti dan ditulis apabila tersedianya sumber yang sesuai dengan tema atau judul penelitian. Sumber-sumber tersebut dapat berupa sumber benda, sumber tertulis dan sumber lisan. Rekonstruksi dari sumber-sumber sejarah yang dilakukan oleh seorang peneliti akan menjadi suatu cerita sejarah atau tulisan sejarah.

Demikianlah postingan artikel yang kami bagikan membahas tentang Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Untuk Kelas X, Semester 1 SMA/MA. Semoga bermanfaat

Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah | admin | 4.5