Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram

Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram – Alhamdulillah pada kesempatan yang penuh dengan berkah dan hikmah ini, admin akan membagikan informasi dan artikel yang sangat erat hubungannya dengan Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram. Simak dan perhatikanlah penjelasannya di bawah ini.

Tahun baru Islam adalah pergantian tahun dalam Islam menggunakan perhitungan bulan. Tahun baru Islam dihitung sejak Nabi Muhammad Saw hijrah dari Mekah menuju Madinah sehingga penanggalan dalam Islam dinamakan Hijriah.
Berbeda dengan penanggalan nasional dan dunia pada umumnya menggunakan perhitungan Masehi dengan sistem matahari dan dimulai pada zaman Nabi Isa As.
Tahun baru Islam dalam tradisi Jawa disambut dengan awal bulan satu Suro. Dalam Jawa, malam 1 Suro identik dengan nuansa mistis yang dipercaya menjadi malam yang disukai mahkluk gaib.

Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram
Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram
Sedangkan bulan Muharram sendiri merupakan bulan pertama yang ada didalam penanggalan Hijriyah. Bln. ini merupakan salah satunya di antara 4 bulan Islam yang dimuliakan. Tahun baru Islam adalah perubahan tahun didalam kalender Islam berlandaskan pada perhitungan bulan. Tahun baru Islam dihitung sejak mulai Nabi Muhammad SAW pindah dari Mekkah ke Madinah. Oleh karena itu juga lah penanggalan didalam kalender Islam disebut yaitu Hijriyah. Baca juga Bacaan Doa Akhir Tahun Dan Awal Tahun
Makna dari tahun baru Islam sendiri bahwa Nabi Muhammad yang hijrah dari Mekkah ke Madinah adalah sebuah peristiwa yang sangat penting, dimana Islam lahir menjadi agama yang berjaya. Lewat peristiwa hijarahnya Nabi Muhammad tersebut, agama Islam kemudian berkembang pesat di Madinan dan diteruskan sampai meluas ke berbagai daerah di sekitar Mekkah. Hijrah yang dilakukan oleh Nabi SAW tentu punya alasan.
Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dan juga hijrah tersebut sebagai bentuk tanggapan terhadap masyarakat Arab yang saat itu kurang berkenan dengan ajaran Islam. Hikayat hijrahnya Nabi Muhammad pun memberikan dampak berupa Islam mulai menunjukkan kekuatanya, serta negara Islam atau daulah islamiyah pun terbentuk. Daulah Islamiyah kala itu di zaman Nabi SAW sangatlah menghargai toleransi yang termaktum pada Piagam Madinah.
Dapat disimpulkan bahwa puncak kejayaan agama Islam menjadi sebuah agama yang rahmatan lil alamin atau agama yang rahmat untuk alam semesta membawa kebaikan, membawa kebenaran, mengajarkan cinta serta kasih sayang dan menjadi tanda lahirnya keadilan diawali dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai peletak dasar kalender Islam, Hijriyah.
Adapun beberapa arti dan makna lain yang terkandung dalam tahun baru Islam berikut ini :

Momentum Pergantian Tahun

Apabila dilihat dari sejarah mengenai kalender Islam pertama kali, maka tahun baru Islam memiliki arti momentum pergantian tahun Islam dari tahun satu menuju tahun berikutnya.

Nabi Muhammad SAW Hijrah

Tahun baru Islam juga memiliki arti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah menuju ke Madinah dna menjadi peristiwa penting lahirnya Islam sebagai agama yang berjaya. Dari hijrah tersebut, Islam mulai mengalami perkembangan yang pesat dan semakin luas sampai ke Mekah dan beberapa daerah di sekitarnya. Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah bukan tanpa alasan, namun karena memperoleh wahyu dan juga sebuah bentuk respon untuk menanggapi masyarakat Arab yang tidak terlalu berkenan dengan ajaran Islam.
Dengan hijrahnya Nabi Muhammad tersebut, Islam juga mulai mengalami peningkatan dalam menunjukkan diri dan menjadi negara Islam [Daulah Islamiyah] terbentuk. Daulah Islamiyah di zaman Nabi Muhammad sangat menjunjung tinggi toleransi yang termaktib dalam Piagam Madinah.
Artinya : “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” (QS. Alhasyar: 9).

Pengingat Pentingnya Akhlak Mulia

Makna tahun baru Islam berikutnya adalah saat untuk menegaskan kembali pentingnya menerapkan akhlak yang mulia dalam kehidupan di dunia yang hanya bersumber dari Al Quran. Beberapa contoh hal memperbaiki akhlak yang bisa dilakukan adalah meninggalkan minuman beralkohol, meninggalkan judi, kebiasaan berzinah, mencuri, korupsi, meninggalkan narkoba dan semua hal yang melanggar apa yang sudah dilarang Allah SWT dan menggantinya dengan taat melaksanakan perintah Allah Taala.

Semangat Perjuangan Tanpa Putus Asa

Bersangkutan dengan hijrahnya Nabi Muhammad tersebut, maka ini sekaligus memiliki arti semangat perjuangan tanpa mengenal kata putus asa serta rasa optimis yang tinggi yakni semangat hijrah dari hal buruk menuju hal yang penuh dengan kebaikan. Rasulullah SAW serta para sahabatnya melawan rasa sedih dan juga takut saat hijrah dimana mereka harus meninggalkan tanah kelahiran, saudara dan juga harta benda yang mereka miliki.

Bukti Maha Adil Allah

Tidak seperti tahun Masehi dimana permulaan hari atau pergantian hari terjadi di jam 00:01, namun tahun baru Islam dimulai saat matahari terbenam atau munculnya bulan. Inilah yang menyebabkan Tahun Masehi dari Isa Al Masih dalam Islam dinamakan Tahun Syamsyiah [matahari], sementara untuk tahun Hijriah atau tahun Islam dinamakan tahun Qimariah [bulan]. Apabila tahun baru Masehi berjumlah 30 atau 31 hari kecuali Februari 28 atau 29, maka tahun baru Islam memiliki 29 atau 30 hari. Ini yang menyebabkan terjadi selisih sekitar 10 sampai 12 hari setiap tahunnya.
Bukti maha adil Allah SWT terlihat di daerah dekat equator atau khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia dan beberapa negara Arab yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar, gluktuasi lamanya berpuasa untuk setiap tahun hampir tidak banyak memiliki perbedaan. Hal ini tidak terjadi di beberapa belahan bumi lain dimana waktu berpuasa bisa lebih singkat atau lebih lama.

Intropeksi Diri atau Muhasabah

Dengan memasuki tahun baru Islam atau Hijriah, maka kita akan memasuki 1 Muharram dengan arti sudah meninggalkan tahun yang sudah berlalu dan memasuki tahun yang baru. Dalam urusan menyambut tahun baru Islam, berbeda dengan orang non-Muslim seperti saat merayakan tahun baru Masehi. Umat Islam merayakan tahun baru Islam seperti yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW.
Dalam menyambut tahun baru Islam, sangat penting untuk berkaca pada diri sendiri sekaligus menimbang serta menilai apa saja amalan yang sudah diperbuat dan juga dosa atau kemaksiatan yang sudah dilakukan. Ini dilakukan supaya pada tahun mendatang, akan lebih banyak ibadah serta amalan saleh yang dilakukan untuk mengurangi perbuatan dosa dan juga amal yang salah.

Menghindari Kultus Individu

Penentuan tahun baru Islam tidak didasari dengan kelahiran namun pada peristiwa. Ini memperlihatkan jika Islam merupakan agama yang progresif, bergerak terus maju, tidak stagnan dan juga bergerak dari satu peristiwa menuju ke peristiwa yang lainnya sesuai dengan perkembangan zaman, kebutuhan tempat dan juga kebutuhan manusia yang hidup pada saat tersebut.

Paling Dihormati

Sementara Muharram memiliki arti yang diharamkan atau paling dihormati. Pada bulan haram tersebut, umat Islam diharamkan untuk berperang dan melakukan gencatan senjata. Dengan kata lain, semangat Muharram adalah semangat penuh perdamaian. Ini membuat saat mengenal esensi tahun Hijriah yang dimulai pada 1 Muharram, umat muslim sudah memiiki kesadaran akan perdamaian dan menjadikan kehadirannya sebagai berkah untuk alam semesta.
Artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. Attaubah : 36)
Artinya : “Ketahuilah bahwa zaman itu akan terus berputar seperti bentuknya. Hari menciptakan Allah Swt pada langit dan bumi itu dalam setahun sebanyak 12 bulan diantaranya ada 4 bulan Haram, 3 yang berturutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram sedangkan bulan Rajab dihimpit antara bulan Jumadi (Jumadil Awwal dan Jumadil Akhir) dan bulan Sya’ban.”( HR. Bukhari- Muslim)

Perubahan Menuju Kebaikan

Tahun baru Islam juga mengandung makna perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan juga untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang. Ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. Al-Baqarah : 218)

Merenungkan Eksistensi Bangsa Indonesia

Tahun baru Islam atau Hijriah juga menjadi momentum untuk merenungkan kembali eksistensi bangsa Indonesia pada titik paling nadir. Tahun baru Islam yang diperingati umat Islam dan juga bangsa Indonesia ini diharapkan menjadi refleksi yang panjang supaya bisa merajut perubahan dalam arti yang sebenarnya, subtantif, produktif dan juga populistik. Semangat hijrah ini nantinya akan dijadikan modal untuk mengembalikan inisiatif pada perubahan tersebut sehingga sangat sayang jika hanya direfleksikan sebatas seremonial saja.

Pengingat Memori Keemasan Sejarah

Setiap umat muslim akan kembali diingatkan dengan memori keemasan sejarah dengan memasuki tahun baru Islam. Setiap tahun juga semangat dan juga makna Hijriah akan menjadi kekuatan untuk revitalisasi sekaligus mendorong semangat umat Islam. Semangat Hijrah ini diharapkan bisa menjadi semangat umat Islam dalam memulai sejarah pada detik ini dan juga untuk masa selanjutnya.

Sejarah Tahun Baru Islam

Sejarah tahun baru Islam berawal dari kebimbangan umat Islam saat menentukan tahun. Hal ini tidak lepas dari fakta sejarah pada zaman sebelum Nabi Muhammad, orang-orang Arab tidak menggunakan tahun dalam menandai apa saja, tetapi hanya menggunakan hari dan bulan sehingga membingungkan.
Sebagai contoh, pada waktu itu Nabi Muhammad lahir pada tahun Gajah. Hal ini menjadi bukti bahwa pada waktu itu kalangan umat Arab tidak menggunakan angka dalam menentukan tahun sehingga membingungkan.
Berawal dari sini, pada sahabat berkumpul untuk menentukan kalender Islam, salah satu di antaranya yang hadir adalah Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, dan Thalhan bin Ubaidillah.
Mengenai sejarah kalender Islam, mereka ada yang mengusulkan kalender Islam berdasarkan hari kelahiran Nabi Muhammad, ada yang mengusulkan sejak Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul.
Namun, usul yang diterima adalah usulan dari Ali Bin Abi Thalib di mana beliau mengusulkan agar kalender hijriah Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah dan Madinah.
Dari usul Ali inilah sejarah kalender Islam pertama kali dibuat dan sejarah tahun baru Islam pada mulanya ada.
Demikianlah postingan yang kami bagikan pada kali ini berkaitan dengan Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram. Semoga bermanfaat dan di tahun baru Islam ini, kita semakin meningkatkan iman dan taqwa kita hanya kepada Allah Semata saja. Aamiiin. Lihat juga Makna Syahadatain, Rukun, Syarat, Konsekuensi Dan Yang Membatalkannya
Arti Dan Makna Tahun Baru Hijriah Islam 1 Muharram | admin | 4.5