Kuliner Dan Makanan Khas Daerah Barru

Kuliner Dan Makanan Khas Daerah Barru – Jika anda melintas di kampung Jalange, Desa Mallawa, Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, tampak berjejer para penjual gogos. Masyarakat Barru menyebut gigoso, yakni nasi ketan dibungkus daun pisang, kemudian dipanggang di atas bara api.
Betapa ruginya jika anda saat melintas di Kampung Jalange, namun tidak mampir mencicipi gigoso, makanan khas masyarakat Kabupaten Barru ini. “Gigoso ini Lebih nikmat dimakan saat panas dengan telur asin,” kata Anton, karyawan swasta asal Makassar, sambil menikmati gigoso dengan telur asin.
Telur Asing
Begitu nikmatnya, membuat gigoso ini cocok sebagai pengganjal perut saat lapar melanda, apalagi melakukan perjalanan jauh. “Setiap saya melintas dari Kota Palopo menuju Makassar membawa penumpang pasti saya singgah dan mencicipi gigoso di sini. Penumpang yang saya bawa pun kerap memaksa untuk singgah mencicipi gigoso dengan telur asin sembari beristirahat,” kata Silong, sopir angkutan kota yang melayani rute Palopo–Makassar.
Gigoso
Penjual gigoso di Kampung Jalange ini buka 24 jam. Jadi jangan takut kehabisan. Setiap anda melintas singgah saja, pilih lapaknya di mana pun gigoso yang anda santap pasti nikmat. Satu bungkus gigoso ditambah telur asin hanya Rp 6.000 di mana harga gigoso dan telur asin masing-masing Rp 3.000. “Kami di sini dalam sehari memasak nasi ketan 6 hingga 7 liter per hari atau 160 bungkus gigoso,” kata Ani ditemani Ibunya, Sia, penjual gigoso di Kampung Jalange.
Kuliner Padongko, Dari Es Teler Hingga Barongko

Barongko

Banyak jalan menuju Roma. Demikian pesan kaum bijak. Itu pula yang menyemangati para penantang kehidupan, menerjang taufan kemiskinan dengan berdagang aneka jenis makanan. Salah seorang yang dipercaya yang tidak disebutkan namanya dari sumber terpercaya yang menyusuri kota Barru, 102 Km di sebelah Utara Kota Makassar, Ibu kota Sulawesi Selatan. Daerah ini berbatasan dengan Parepare, Soppeng, dan Pangkep. Bagi setiap pengendara jarak jauh, Kabupaten Barru terbilang sebagai daerah terpanjang. Secara historis, Barru dahulu kala merupakan sebuah kerajaan kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja, yaitu: 
Kerajaan Berru (Barru), Kerajaan Tanete, Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Mallusetasi. Di masa pemerintahan Belanda dibentuk Pemerintahan Sipil Belanda dimana wilayah Kerajaan Barru, Tanete dan Soppeng Riaja dimasukkan dalam wilayah Onder Afdelling Barru yang bernaung di bawah Afdelling Parepare. Sebagai kepala Pemerintahan Onder Afdelling diangkat seorang control Belanda yang berkedudukan di Barru. 
Sedangkan ketiga bekas kerajaan tersebut diberi status sebagai Self Bestuur (Pemerintahan Kerajaan Sendiri) yang mempunyai hak otonom, menyelenggarakan pemerintahan sehari-hari baik terhadap eksekutif maupun di bidang yudikatif. Melewati penghubung Pangkep dan Pare-pare ini terasa cukup menjenuhkan. Pantas saja jika sejak dahulu kala, wilayah seluas 1.174,72 km² dan berpenduduk sebanyak 159.235 jiwa ini menjadi tempat persinggahan. Dari sekedar menyeruput kopi, belanja buah hingga melepas lapar. Bukan hanya di pusat kota, namun juga hingga ke pinggiran yang berbatasan dengan laut. Di sisi barat Kota Barru, anda akan menemukan sebuah fakta baru. Tepatnya di Desa Padongko. Letak Padongko sendiri berada di wilayah bekas Self Bestuur Barru yang sekarang menjadi Kecamatan Barru dengan lbu Kotanya Sumpang Binangae. 
Sejak semula memang merupakan suatu bekas kerajaan kecil yang berdiri sendiri. Sebelumnya, suasana malam hari wilayah Padongko hanya ramai oleh kerumunan anak-anak muda yang sedang jatuh cinta, meramu kasih dalam pancaran cahaya bulan purnama. Namun sejak sebulan lalu, desa ini kian ramai dikunjungi warga. Bukan sebatas kelas muda-mudi, namun juga menyentuh segala usia. 
Pasalnya, Padongko telah menjadi pusat kuliner Kota Barru. Pantas saja, ketika mengunjungi tempat ini, terdapat deretan kios panjang, tempat menjajakan makanan. Mulai dari Sop Ceker Ayam, Sop Kikil, Ubi Goreng, Nasi Kuning, Pisang Goreng, Bakwan, Jagung Rebus, Jagung Bakar, Pisang Epe, Barongko, Es teler, Aneka Juice, Saraqba, Kopi Susu dan berbagai jenis makanan khas lainnya. Dari mana awal mula kehadiran pusat jajanan ini? Salah seorang penjual, Darna menyebutkan, awalnya pendirian kios-kios dilakukan salah satu Koperasi di Barru. “Kami cuma setor uang Rp. 250 ribu untuk menjadi anggota. Setelah itu kami berhak menempati satu petak kios yang sudah disiapkan di sini,” kata Darna yang sore itu tampak sibuk meladeni pelanggangnya. 
Menurut Darna, letak Padongko yang berdekatan dengan Pelabuhan Garongkong jelas memiliki masa depan bisnis yang menggiurkan. “Ini saja baru satu bulan sudah ramai sekali. Bagaimana kalau pelabuhan juga sudah makin ramai,” ungkap Darna sambil membayangkan kesuksesan usaha barunya itu. “Penjual di sini hanya dimintai Rp. 25 ribu per hari untuk biaya pemeliharaan,” kata Hardiansyah, warga setempat. Bagi para penikmat kuliner, jelas sangat menikmati suasana Padongko ini. Letaknya yang tepat berada di bibir pantai, makin melengkapi daya eksotik saat senja tiba. 
Makin lama makin asik. Aslia, pengunjung setia jajanan kuliner mengaku, sudah beberapa kali dirinya menggelar arisan di tempat ini. “Kalau sudah ada pertemuan antar Ibu-Ibu, pasti saya pilih tempat ini. Di samping murah, juga relatif bersih,” sebut Aslia, salah seorang Ibu rumah tangga. Bagi warga Mandar Sulawesi Barat, jelas ini tak asing. Dari segi menu jelas beda. Di Somba ada Bau Tapa dan Cumi Piapi. Kios di Somba pun dibangun atas usaha warga setempat. Sementara di Padongko, kios yang seluas 3 x 2 meter itu terbangun atas sponsor sebuah Koperasi. Pusat Kuliner Padongko itu kini menjadi tumpuan hidup warga sekitarnya. Sekedar mengingatkan, begini caranya hidup bagi siapa pun yang hendak menerjang badai kemiskinan. 
Semoga dengan adanya artikel ini yang membahas mengenai Makanan Khas Daerah Barru. Kita dapat mengetahui beberapa kuliner dan makanan khas daerah Barru.
Kuliner Dan Makanan Khas Daerah Barru | admin | 4.5