Hakikat Dan Makna Hari Raya Idul Fitri

Hakikat Hari Raya Idul Fitri - Alhamdulillah waktu tak terasa, sekarang sudah di penghujung merayakan hari hara Idul Fitri. Insya Allah akan di laksanakan besok di pagi hari. Maka dari itu, admin akan membagikan informasi dan artikel dari sumber bacaan bermanfaat yang membahas mengenai Hakikat Hari Raya Idul Fitri. Untuk lebih afdholnya, langsung saja anda menyimak ulasan artikel penuh dengan makna dan barokah.

Setiap tanggal 1 syawal seluruh umat Islam diseluruh dunia selalu merayakan Hari Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Hari Raya Idul Fithri merupakan puncak dari seluruh rangkaian prosesi badah selama bulan Ramadhan, dimana dalam bulan tersebut kita melakukan ibadah shaum dengan penuh keimanan kepada Allah Subhanahu wata'ala. Penetapan Hari Raya Idul Fitri oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dimaksudkan untuk menggantikan Hari Raya yang biasa dilaksanankan orang­-orang Madinah pada waktu itu. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yaitu : 
Hakikat Dan Makna Hari Raya Idul Fitri
Hakikat Dan Makna Hari Raya Idul Fitri

Artinya : "Jabir ra. Berkata : Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam datang ke Madinah, sedangkan bagi penduduk Madinah ada dua hari yang mereka ( bermain-main padanya dan merayakannya dengan berbagai permainan). 

Maka Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bertanya : " Apakah hari yang dua ini ?" 
Penduduk Madinah menjawab : "Adalah kami di masa jahiliyah bergembira ria padanya ". 
Kemudian Rasulullah bersabda : " Allah telah menukar dua hari itu dengan yang lebih baik yaitu Idul Adha dan IdulFithri ".(HR Abu Dawud) 

Hari Raya Idul Fithri juga merupakan puncak pengalaman hidup sosial dan spiritual keagamaan masyarakat. Dapat dikatakan bahwa seluruh kegiatan masyarakat selama satu tahun diarahkan untuk dapat merayakan hari besar itu dengan sebaik-baiknya. Mereka bekerja dan banyak yang menabung untuk kelak mereka nikmati pada saat tibanya Idul Fitri. Mudik rakyat Indonesia semuanya merasakan dorongan amat kuat untuk bertemu ayah-ibu dan sanak saudara, karena justru dalam suasana keakraban kekeluargaan itu hikmah Idul Fitri dapat dirasakan sepenuh-penuhnya. Sebagai hari raya keagamaan, Idul Fitri mengandung makna keruhanian. Tapi karena dimensi sosialnya sedemikian besarnya, khususnya dimensi kekeluargaannya, maka Idul Fitri juga memiliki makna sosial yang amat besar. 

Dilihat dari segibagaimana orang bekerja dan menabung untuk berlebaran, Idul Fitri juga mempunyai makna ekonomis yang besar sekali bagi masyarakat Indonesia. Cukup sebagai indikasi tentang hal itu ialah bagaimana daerah-­daerah tertentu memperoleh limpahan ekonomi dan keuangan dari para pemudik, sehingga pemerintah daerah bersangkutan merasa perlu menyambut dan mengelu-elukan kedatangan warganya yang bekerja di kota-kota besar. 

1. Pengertian Idul Fitri 


Idul Fitri berkaitan langsung dengan ajaran dasar Islam. Karena itu makna Idul Fitri merupakan rangkuman nilai-nilaiIslam dalam sebuah kapsul kecil,dengan muatan simbolik yang sangat sentral.Mayoritas umat Islam mengartikan Idul Fithri dengan arti "kembali menjadi suci ", pendapat ini didasari oleh sebuah hadits Rasullullah Shalallahu 'alaihi wassalam yaitu :“Barang siapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah Shalallahu alaihi wassalam maka apabila ia memasuki Idul Fitri ia akan kembali menjadi Fithrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya "(HR Bukhari ). 

Ditilik kembali, pendapat yang mengartikan idul Fitri dengan "kembali menjadi suci" tidak sepenuhnya benar, karena kata "Fitri"apabila diartikan dengan "Suci"tidaklah tepat. Sebab kata "Suci" dalam bahasa Arabnya adalah "Al Qudus"atau "Subhana". Menurut enurut saya istilah Idul Fitri dapat ditelusuri minimal dalam tiga pengertian yaitu : 

Untuk memperoleh pengertian itu kita bisa memulainya dengan melihat makna asal ungkapan Arabid al-fithr. Kata id berasal dari akar kata yang sama dengan kata`awdah atau `awdat-un, `adab atau adat-un dan isti'adat-un. Semua kata-kata itu mengandung makna asal "kembali" atau "terulang" (perkataan Indonesia "adat-istiadat"adalah pinjaman dari bahasa Arab`adat-un wa isti 'adat-un yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dandiharapkan akan terus terulang, yakni,sebagai "adat kebiasaan"). Dan hari raya diistilahkan sebagai id karena ia datang kembali berulang-ulang secara periodik dalam daur waktu satu tahun. 

Makna asal kata-kata "fitri" kiranya sudah jelas, karena satu akar dengan kata "fitrah" (fithrah), yang artinya "Pencipta" atau "Ciptaan". 

Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah, yaitu "ciptaan" atau "penciptaan".Tuhan Yang Maha Pencipta disebut dengan A-Khaliq, atau Al-Fathir. Contoh, misalnya kita lihat dalam Al Qur'an :" Segala puji bagi Allah Pencipta langitdan bumi".(QS Al Fathir 35 : 1) 

Kesimpulannya bahwa kata Idul Fitri mempunyai minimal tiga pengertian yaitu : 

1. Idul Fitri Sebagai Proses Ke Awal Penciptaan 


Menurut ahli tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama yaitu bangunan jasmani dan bangunan rohani. Bangunan jasmanimanusia diciptakan oleh Allah melalui enam proses kejadian yaitu : 

  • Saripati tanah
  • Saripati mani
  • Segumpal darah
  • Segumpal daging
  • Pertumbuhan tulang belulalang)Pembungkusan tulang belulang dengan daging.
  • Peniupan Roh-Ku ke dalam janin. 

Proses tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an yaitu : 

Artinyan : "Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kami jadikan saripati tanah itu menjadi air mani yang ditempatkan dengan kokoh ditempat yang teguh. Kemudia air mani itu Kami jadikan segumpal darah., dari segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging kembali ".(QS Al Mu'minun 23: 12 – 14 )". 

Kemudian Ia menyempurnakan penciptaan-Nya dan Ia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur".(QS AsSajadah 32 : 9) 

Berdasarkan firman Allah tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa setiap manusia lahir atau diciptakan pasti akan melalui proses kejadian bayi dalam kandungan yang telah mendapat tiupan Roh dari Allah (Roh-Ku). 

Dapat diketahui fase-fase perkembangan seorang bayi dalam kandungan dan juga keadaan dan ciri-ciri dari bayi tersebut yaitu : Seorang bayi dalam kandungan selalu dibungkus oleh lapisan Amnion yangberisi air ketuban (amnion water atau kakang kawah). Karena seorang bayi berada didalam air ketuban, maka sembilan lubang yang ada pada jasmaninya secara otomatis tertutup atau belum berfungsi secara sempurna. 

Kesembilan lubang itu adalah : dua lubang telinga, dua lubang mata, dual ubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan dan satu lubang anus. Tetapi ada satu lubang yang kesepuluh yang justru terbuka yaitu lubang pusar yang dihubungkan oleh tali plasenta ke rahim ibu. Tali plasenta ini berfungsi sebagai alat untuk menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari rahim ibu kepada bayi tersebut. Dengan tertutupnya sembilan lubang yang terdapat pada jasmani seorang bayi dalam kandungan rahim ibu,maka secara otomatis seluruh indera bayi belum berfungsi secara sempurna, dengan kata lain, bayi tersebut pada saat itu belum bisa melihat, mendengar, bernafas, berkata-kata secara sempurna, dan juga belum bisa buang air besar maupun buang air kecil. Tetapi Rohani bayi tersebut pada saat itu sudah berfungsi sifat ma'aninya. Apa yang dirasakan oleh bayipada saat berada dalam rahim ibu,tidak seorangpun mengetahuinya, kecuali oleh bayi itu sendiri. Sayangnya setiap bayi yang telah tumbuh dewasa tidak dapat mengingat apa yang telah ia rasakan pada waktu ia berada dalam kandungan rahim ibunya. 

2. Idul Fitri Sebagai Proses Kembali Ke Penciptaan Yang Awal 


Semua segi kehidupan seperti makan, minum, tidur, dan apa saja yang wajar, tanpa berlebihan, pada manusia dan kemanusiaan adalah fitrah. Semuanya itu bernilai kebaikan dan kesucian, karena semuanya berasal dari design penciptaan oleh Allah. 

Karena itu berbuka puasa atau "kembali makan dan minum" disebut ifthar, yang secara harfiah dapat dimaknakan "memenuhi fitrah" yang suci dan baik. 

Makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fithrahnya yang suci. Dari sudut pandang ini kita mengerti mengapa Islam tidak membenarkan usaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar pada manusia seperti makan, minum, tidur, berumah tangga, dan seterusnya. 

Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam pernah memberi peringatan keras kepada salah seorang sahabat beliau, bernama `Utsman ibn Mazh'um', yang ingin menempuh hidup suci dengan tindakan semacam pertapaan. Nabi juga dengan keras menolak pikiran sementara sahabat beliau yang ingin menempuh hidup tanpa kawin. Semua tindakan meninggalkan kewajaran hidup manusia adalah tindakan melawan fithrah, jadi juga tidak sejalan dengan sunnah. 

Maka dalam hari raya Idul Fithri terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan. Kewajaran itu adalah pemenuhan keperluan untuk makan dan minum sehingga makna sederhana Idul Fithri dapat diartikan "Hari Raya Makan dan Minum" setelah berpuasa sebulan. 

3. Idul Fitri Sebagai Proses Kembali ke Sang Maha Pencipta 


Pangkal mula pengertian Idul Fithri ialah ajaran dasar agama bahwa manusia diciptakan Allah dalam fitrah kesucian dengan adanya ikatan perjanjian antara Allah dan manusia sebelum manusia itu lahir ke bumi. Perjanjian primordial itu berbentuk kesediaan manusia dalam alam ruhani untuk mengakui dan menerima Allah, (TuhanYang Maha Esa), sebagai "Pangeran" atau "Tuan" baginya yang harus dihormati dengan penuh ketaatan dan sikap berserah diri yang sempurna (Islam). Dalam al-Qur'an, demikian : 
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari anak-cucu Adam, yaitu dari pungung-punggung mereka,keturunan mereka dan dia mempersaksikan atas diri mereka sendiri, "Bukankah Aku ini Tuhan kamu? ‘ 
Mereka semua menjawab :” Benar, kami bersaksi”.Demikianlah, supaya kamu tidak berkata kelak pada hari kiamat : "sesungguhnya kami lalai tentang hal ini”(QS Al A 'raf 7 : 127). 

Karena setiap jiwa manusia menerima perjanjian persaksian itu, maka setiap orang dilahirkan dengan pembawaan alami untuk menemukan kembali Tuhan dengan hasrat berbakti dan berserah diri kepada-Nya ("ber-islam"). 

Melalui wahyu kepada Rasulnya, Allah mengingatkan akan adanya perjanjian itu, akan kelak di hari kiamat, ketika setiap jiwa menyaksikan akibat amal perbuatannya sendiri yang tidak menyenangkan, dikarenakan tidak mengenal Allah, janganlah mengajukan gugatan kepada Allah dengan alasan tidak menyadari akan adanya perjanjian itu. Sebab, terkias dengan dunia bawah sadar dalam susunan kejiwaan kita, perjanjian primordial tersebut tidak dapat kita ketahui dan rasakan dalam alam kesadaran, tetapi tertanam dalam bagian diri kita yang paling dalam,yaitu ruhani kita. 

Maka kita semua sangat rawan untuk lupa dan lalai kepada kenyataan ruhani. "Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan akan menemui Allah sehingga apabila datang Hari Berbangkit dengan tiba-tiba mereka berkata : "Aduhai penyesalan kami atas kelengahan kami (karena tidak mau menemui Allah ketika masih hidup) di dunia Sungguh mereka memikul dosa, amat berat apa yang mereka pikul itu ".(QSAl An 'am 6 : 31). 

Biarpun jauh sekali berada dalam bagian-bagian dasar kedirian kita, yang berhubungan dengan alam kejiwaan bawah sadar, namun karena adanya perjanjian primordial itu maka kesadaran kita tetap mempengaruhi seluruh hidup kita. Adanya perjanjian primordial itu, yang sama denganalam bawah sadar, merupakan asal muasal pengalaman tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Kita dapat periksa secara analitis kedirian kita yang terdiri dari paling tidak tiga jenjang kewujudan : 
  1. Wujud kebendaan atau jasmani (jimani,fisiologis)
  2. Wujud kejiwaan atau nafsani (nafsani, psikologis)
  3. Wujud kesukmaan atau ruhani (ruhani, spiritual). P 
Pengalaman bahagiaatau sengsara yang berpangkal dari keberhasilan atau kegagalan memenuhi perjanjian dengan Allah adalah merupakan pengalaman ruhani. Keutuhan atau keterpecahan psikologis merupakan pangkal pengalaman senang atau susah yang lebih tinggi dan mengatasi perasaan nyaman dan tidak nyaman oleh keadaan badan yang sehat atau sakit. Dan pengalaman bahagia atau sengsara dalam dimensi ruhani mengatasi dan lebih tinggi dari pada pengalaman manapun, psikologis,apalagi fisiologis, hidup manusia. Jadi lebih hakiki, lebih abadi, dan lebih wujud dari pada lain-lainnya itu. 

  • Semua pengalaman fisiologis nyaman atau tidak. nyaman, 
  • Pengalaman psikologis senang atau tidak senang,dan 
  • Pengalaman spiritual bahagia atau tidak bahagia. Selalu terkait dengan terpenuhi atau tidak terpenuhi hasrat untuk kembali kepada asal. 

Sejak dari bayi yang merindukan ibunya dan merasa tenteram setelah berkumpul dengan ibunya itu, sampai kepada kerinduan setiap orang untuk berkumpul dengan keluarganya dan kembali ke kampung halaman tempat ia dilahirkan atau dibesarkan yang merupakan dasar kejiwaan dorongan mudik. Hasrat untuk kembali ke asal langsung berkaitan dengan pengalaman-pengalaman mendalam pada masing-masing diri manusia. Hasrat untuk kembali yang paling hakiki ialah hasrat untuk kembali menemui Allah, asal segala asal hidup manusia. Terkias dengan hasrat seorang anak untuk kembali kepada orang tuanya yang diwujudkan dalam keinginan naluriah untuk berbakti kepada keduannya, hasrat untuk kembali kepada Allah juga disertai dengan keinginan naluriah untuk berbakti atau menghambakan diri ('abda, ber-ibadah) dan berserah diri (aslama, ber-Islam) kepada-Nya.

Tidak ada bakat atau pembawaan manusia yang lebih asli dan alami dari pada hasrat untuk menyembah dan berbakti. Karena itu semua, maka ada ungkapan suci, "Kita semua berasal dari Allah dan kita semua kembalikepada-Nya"(QS 2:156). 

Maka, wajar sekali bahwa seruan dalam Kitab Suci agar semua manusia kembali (ber-inabah) kepada Allah sekaligus dibarengi dengan seruan untuk berserah diri (ber-islam) kepada-Nya. 

Lebaran hakikatnya bukanlah bagi mereka yang berbaju baru melainkan di peruntukkan mereka yang nilai takwa dan taatnya meningkat dari sebelumnya.Pemaknaan `Ied tidaklah seperti yang di bayangkan banyak orang : yaitu Saat-saat moment pemaknaan`ied, nya lepas dan hilang begitu saja karena di sibukkan dengan berbagai aktivitas dan urusan permainan demi kesenangan-kesenangan pragmatis dengan cenderung melalaikan kewajiban-kewajiban mereka kepada-Nya”. 

Hakikat `Ied itu lebih dimaknai sebagai : 


  • Demi tegaknya Dzikrullah (mengingat keagungan Allah AzzawaJalla). 
  • Mempertegas penampakan segala nikmatNya yang dianugerahkan kepada setiap hambaNya. 
  • Memperbanyak puji-pujian dengan mengagung-agungkan nama-Nya, mensucikan dan memperbanyak tahmid dan syukur kepadaNya. 

Allah Subhanahu wata'ala menyerukan hamba-Nya :


  • Saat dimana hitungan hari-harinya telah sempurna. 
  • Untuk banyak-banyak membaca takbir, mengagung- agungkan asma-Nya dan bersyukur atas-Nya : 


,,,فقال سبحانه وتعالى : وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَوَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.[البقرة: 


Maksudnya ”Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan dan supaya kamu mengagungkan Allah terhadap sesuatu yg Allah telah menunjukan kamu (kepada-Nya) dan mudah-mudahan kamu mensyukuriNya”. (Surat Al- Baqoroh:185). 

Adalah hak mereka semata-mata yang nilai taqwa dan taatnya kepada Allah bertambah yang berhak menyandang `Ied, sedang kesengsaraan tentu bagi mereka pelaku maksiyat. Maka sejatinya, lebaran itu diperuntukkan bagi orang-orang yang disiang harinya berpuasa sedang dimalam harinya berusaha menghidupkan dengan berbagai amalan-amalan ibadah dan kegiatan Ramadhan : sholat terawih, qiyamul-lail, tadarrus, berdzikr kapada Allah Subhanahu wata'ala, dan lain lain. 

Lebaran diperuntukkan bagi mereka yang menghabiskan waktunya dengan membiasakan dirinya larut dalam bacaan-bacaan al-Quran, bukan bagi mereka yang mendendangkan lagu-lagu dan nyanyian. 

Lebaran adalah moment kebahagian dan kemenangan. Ialah kebahagiaan dan kemenangan yang terpancar bagi orang-orang beriman saat di dunia. Sesungguhnya, dalam pandangan Allah, merekalah yang telah senyata temukan hakikat kebahagiaan karena telah meraih tingkat kesempurnaan ketaatan dalam sebenar-benarnya,ialah mereka yang menuai banyak pahala dengan meraup keuntungan yang besar, memperoleh fadhilah dan ampunan-Nya sebagaimana ketegasan Allah Subhanahu wata'ala dalam alQuran : 

…كما قال تعالى : قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِفَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ. (يونس:58)ـ 

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus.58) 

Bilakah Fajar-Nya di pagi ini, Senin 1 syawal 1435 H adalah fajar yang terakhir disepanjang perjalanan Ramadhan tahun ini, maka beruntunglah aku yang masih sempat saksikan dan nikmati cahaya jingganya hingga hari ini karena Fitri yang kita nanti, maka bersedihlah saya jika harus meniggalkannya tanpa jejak cahaya-Nya terbenam dalam diri, dan merugilah bila di dalamnya tanpa ada kebaikan sedikitpun yang bisa kita petik darinya.

Ya Allah ya Robb !!,.. 
Mungkinkah suasana yang sama akan kembali kita temui setahun ke depan ?!, 
Mungkinkah jiwaku yang rapuh ini akan kembali terbangun setelah melewati masa-masa stagnasi di sepanjang Ramadhan yang seakan tubuh ini kembali terkapar di lautan yang dalam tak bertepi ?!, 
-waAllahu A`lam, hanya keputusan sakralMu yang aku harap- seraya aku bermohon kepada-Mu ya Allah ya Tuhanku : Ampuni segala dosa dan khilaf,maafkan segala tindak dan lakuku yang salah selama ini meski akupun tersadar bahwa semuanya takkan ada arti jika tanpa terlebih dahulu berusaha mencari dengan mengetuk ke-halal-an kalian sahabatku dan handai-taulan, wahai sahabat dan teman, wahai Cintaku dan sayang ..karenanya, -dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati ,aku bersimpuh seraya memohon agar kiranya aku dibukakan pintu maaf dari segala salah dan dosa, semua khilaf dan kata-kata hina, baik disengaja ataupun tidak, seraya berucap : 

..تقبّل الله منا ومنكم ,. صيامنا وصيامكم ., من العائدين والفائزين 

Mohon Maaf Lahir dan Bathin :


عيدُكم سعيدٌ. وعيدُكم مُبارَك ,.كلّ عام وأنتم بخير .ـ 

Supaya kelak, Insya Allah kitabenar-benar dikembalikan dengan suasana baru dan melangkah dengan semangat baru, penuh kemenangan dan kebahagiaan dalam indahnya nuansa Fitri nan suci

ليسالعيد لمن لبس الجديد وإنّما العيد لمن طاعته تزيد .. وليس العيد كما يظن كثير منالناس أوقاتاً ضائعة في اللهو واللعب والغفلة، بل شُرع العيدلإقامة ذكر اللهوإظهار نعمته على عباده، والثناء عليه سبحانه بها، وشكره عليها، وقد أمر اللهسبحانه وتعالى عباده عند إكمال العدة بتكبيره وشكره فقال سبحانه : وَلِتُكْمِلُواْالْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ[البقرة: العيدلمن أطاع الله، والحسرة لمن عصاه,. إنّما العيد لمن أحسنفي نهاره الصيام، وأحياليله بالقيام. العيد لمن سهر على تلاوة القرآن، لا على الأغاني والألحان.. وهوموسم الفرح والسرور، وأفراح المؤمنين وسرورهم في الدنيا إنما هو بخالقهم ومولاهمإذافازوا بإكمال طاعته، وحازوا ثواب أعمالهم بفضله ومغفرته، كماقال تعالى: قُلْبِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌمِّمَّايَجْمَعُونَ [يونس


Makna Idul Fitri


Ada tiga pengertian tentang idul fitri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan idul fitri dengan kembali kepada kesucian. Artinya setelah selama bulan Ramadhan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan ruhaninya, dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, maka memasuki hari lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin.

Ada yang mengartikan idul fitri dengan kembali kepada fitrah atau naluri religius. Hal ini sesuai dengan Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya.

Adapula yang mengartikan idul fitri dengan kembali kepada keadaan dimana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum di siang hari seperti biasa.

Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki idul fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Dalam surah Al-Ma’un ayat 1-3 disebutkan bahwa, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong mereka memberi makan orang miskin.” Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara.

Oleh karena itu dapat kita pahami, bahwa umat Islam yang mampu, wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin, pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan shalat idul fitri. Aturan ini dimaksudkan agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan idul fitri, orang-orang miskin pun dapat merasakan hal yang sama.

Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. Orang-orang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta) untuk dibagikan kepada kaum fakir miskin. Dan dapat dilihat dari ayat di atas bagaimana penekanan untuk menghindari adanya kesenjangan sosial, dimana ketika menyebutkan anak yatim dan orang miskin. Dapat dilihat bahwa anak yatim dan orang miskin tidak hanya untuk orang Islam tapi seluruh manusia yang menyandang yatim dan kemiskinan.

Dari uraian di muka dapat disimpulkan, bahwa idul fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin, memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi, dan memelihara hubungan sosial yang harmonis.

Apa Yang Tertinggal Setelah Idul Fitri Berlalu


Seiring hari-hari yang bergerak kian ke depan, suasana Idul Fitri semakin memudar dari kehidupan kita. Simbol-simbol lebaran dan ramadhan yang beberapa waktu lalu digembar-gemborkan, dikibar-kibarkan demikian kencang diberbagai media baik cetak maupun elektronik kini satu-persatu mulai raib. Tetapi adakah spirit ramadhan dan idul fitri tetap tegar menggaung di lubuk jiwa kita?. Kita bergegas, ranah-ranah kebudayaan bergegas, pasar bergegas, budaya pop kita bergegas memburu sesuatu yang lebih baru, tersedot oleh segala yang lebih segar, trendy dan top. Mungkin kita kembali kepada kesibukan kita yang dulu, problem-problem yang dulu dan juga kebiasaan-kebiasaan yang dulu, juga kriminalitas yang tetap seperti dulu.

Harus kita akui, bahwa kelemahan kita dalam masalah keberagamaan bukan sekedar tekstualisme atau skriptualisme yang sempit dan stagnan, tetapi juga momentualisme yang tidak berefek dan seremonial belaka. Selama ini ramadahan dan IdulFitri bukan menjadi berkontemplasi dengan intens dan penuh kesungguhan, tetapi kesempatan untuk berpesta simbol. Sikap seperti ini kemudian dikawinkan dengan kebiasaan yang sangat buruk. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mengidap amnesia sejarah. Sebuah tragedi nasional datang hari ini, idul fitri seakan telah menjadi sesuatu yang “out of date” sehingga rasanya mungkin membosankan dan tak penting lagi. Benarkah…..?

Idul fitri secara formal memang bagian dari hukum dan ajaran agama umat Islam. Tetapi secara perenial dan estoteris ia adalah milik semua manusia. Dan saling memaafkan adalah proses menuju perdamaian dan kedamaian itu.

Memaafkan yang Tak Termaafkan


“Memaafkan (sejatinya) adalah memaafkan yang tak ter-maafkan” ujar Jacques Terrida dalam buku “On Cosmopolitanism and Forgiveness”. Bila kita memaafkan perbuatan salah orang lain yang levelnya kecil, maka itu adalah hal biasa.

Tetapi bila kita sanggup memaafkan perbuatan manusia bahkan yang paling kejam dan tak ter-ampunkan kepada kita, maka disinilah sesungguhnya makna memaafkan yang hakiki, yang benar-benar menantang sejauh mana keluasan hati kita untuk keluar dari luka sejarah, baik pribadi ataupun kolektif. Dengan tradisi saling memaafkan, kita mungkin selesai dan clear dalam persoalan-persoalan personal, tetapi selesai jugakah kita dalam problem-problem struktural? Misalnya, konflik etnis dan konflik horizontal antar-agama di Poso. Bila dihitung dengan logika ‘untung-rugi’, rasanya sulit—apalagi seandainya kita menjadi orang yang terlibat dalam konflik-konflik itu, untuk memaafkan berbagai perbuatan kejam dan tak manusiawi yang menimpa kita. Tetapi, bisakah—dengan ‘kegilaan’ dan keluasan hati kita melupakan luka sejarah yang teramat pahit itu? Memaafkan adalah suatu hal yang melampaui keadilan. Keadilan dalam arti tertentu menuntut suatu pembalasan atau hukuman yang (dianggap) setimpal dengan perbuatan melanggar etika sang pelaku kejahatan. Hukuman itu biasanya dimaksudkan untuk kejeraan si pelaku. Dapat dikatakan, hukuman yang setimpal adalah syarat dari keadilan. Tetapi hukuman dari memaafkan adalah ‘hukuman yang bijak’ yang membuat si pelaku menjadi malu untuk mengulangi kejahatan serupa. Dengan memaafkan nurani pelaku—yang menghukum dirinya sendiri itu, akan berdaya telak berkali lipat. Tidakkah justru ini hakikat hukuman dan keadilan yang sesungguhnya?

Memaafkan pun membutuhkan suatu keahlian untuk ‘melupakan’, tetapi tentunya bukan ‘lupa’ dalam artian keliru. Melupakan di sini berarti melupakan semua kesalahan orang lain, dan memandang hari esok adalah hari baru yang terbebas dari jejak masa lampau yang buruk.

Tidak mungkinkah hal ini diaplikasikan pada ranah kehidupan yang lebih besar lagi? Misalnya memaafkan dalam konteks konflik politik regional, atau bahkan mungkin konflik politik global. Konflik-konflik dunia yang bekepanjangan—sehingga menjadi labirin konflik, menunjukkan bahwa manusia sangat lemah untuk memaafkan. Kelihatannya utopis, memang. Tetapi bukankah filsuf Jerman, Ernst Broch mengatakan bahwa hakikat utopia adalah “the not-yet ontology”, yakni suatu bentuk ontologi yang belum ada, tetapi ia sangat mungkin untuk ada? Mungkin proses kolosal memaafkan akan kita mulai dengan suatu awalan yang amat puitis dan terkesan amat aneh; memaafkan adalah ketika kita bangun tidur dan mendapati hidup serta dunia seakan-akan baru saja dimulai. Tak ada masa lalu, tak ada sejarah, tak ada hasrat untuk menjajah yang lain, tak ada hasrat untuk memperumit perseteruan. Percayalah, bahwa segala yang bisa diharapkan, bisa terjadi. Seberapa utopis pun itu.

Saatnya kita memilih, apakah momentum ritual keberagamaan akan kita posisikan semata sebagai momentum atau seremoni ataukah kita ingin sungguh-sungguh menjadikannya sebagai kaldera waktu dimana kita akan meraih kekuatan untuk menjadikannya sebagai spirit baru untuk meraih hari esok yang cerah yakni dunia yang damai dan merdeka dari luka sejarah.

Dengan spirit perdamaian dan etos memaafkan yang sungguh-sungguh diterapkan sebagai prinsip fundamental dalam paradigma setiap lini kebudayaan kita, perdamaian dunia niscaya bukan angan-angan lagi. Waktu kosmologis kita mungkin telah melaju meningalkan 1 Syawal. Tetapi waktu spiritual kita selalu berporos kepadanya. Hati kita ber-Idul Fitri setiap saat. Semoga.

Mari kita telaah bersama sebuah kisah dari Ali bin Abi Thalib kw,

Dalam suasana Idul Fitri, seseorang berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib kw. Didapatinya, Ali sedang memakan roti keras. Lalu orang itu berkata : “Dalam suasana hari raya engkau memakan roti keras ? ” Ali, tokoh ilmuan di zaman Rasulullah ini menjawab,

“Hari ini adalah Id orang yang diterima puasanya, disyukuri usahanya dan diampuni dosanya. Hari ini Id bagi kami, demikian juga esok, malah setiap hari yang engkau tidak membuat durhaka kepada Allah, itu menurut pandangan kami adalah Id.”

Jadi menurut ayah dari dua cucu kesayangan Nabiullah Muhammad Saw ini, setiap hari yang dilalui dapat diisi dengan ketaatan kepada Allah dan menjauhi dosa maka ia merupakan hari kegembiraan, Id yang bukan Idul Fitri dan Idul Adha. Dengan kata lain, kilah Allahuma Yarham Nawawi Dusky dalam tulisannya ‘Falsafah Idul Fitri’ : “Idul Fitri adalah manifestasi kesanggupan pribadi Mukmin untuk mentaati Allah dengan berpuasa siang dan beribadah malam hari.” Kemampuan demikian disambut dengan kegembiraan Id. Sehingga ada seorang ahli hikmah bertutur : “Hari demi hari mendatang merupakan lembaran hidup yang bersih, maka abdikanlah dia dengan amal karya yang indah.”

Jadi adakah idul fitri yang kita lakoni ini bukan hanya sekedar rutinitas tahunan saja dan adakah sesuatu yang membekas di jiwa setelahnya?

Adakah kita termasuk orang yang pantas merayakan Idul Fitri atau kita hanyalah orang-orang yang merasa pantas untuk itu? Dan jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Demikianlah artikel yang kami bagikan pada kesempatan berkah ini, tentang Hakikat Dan Makna Hari Raya Idul Fitri. Semoga bermanfaat dan selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga kita semua kembali dalam keadaan futra dan kembali dalam kesucian. Allahumma Aamiiin.

0 Response to "Hakikat Dan Makna Hari Raya Idul Fitri"

Post a Comment