Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin

Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin - Mengambil hak milik orang lain adalah salah satu perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah Swt, karena dapat merugikan kehidupan bagi orang yang diambil harta apalagi haknya untuk hidup seperti layaknya kita sebagai manusia di dunia ini.
Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin

Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin



Maka dari itu, Bukucatatan.net akan membagikan kepada anda semua informasi dan artikel yang akan membuat anda sadar semua, bahwa mengambil hak milik orang lain adalah salah satu perbuatan yang sangat merugikan buat kehidupan orang yang anda dzhalimi secara tidak langsung. Langsung saja anda menyimak artikel di bawah ini :

Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin :


Ingatlah, kekayaan tidak disebabkan harta yang melimpah. Namun kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan yang terdapat pada jiwa. Yaitu jiwa yang selalu qana’ah dan menerima dengan lapang dada setiap pemberian Allah kepadanya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ


Artinya : “Sungguh beruntung orang yang telah berserah diri, diberi kecukupan rizki dan diberi sifat qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya”. HR Muslim

Dengan sifat qana’ah ini, seorang muslim harus bisa menjaga dalam mencari rizki atau mata pencaharian. Ketika bermu’amalah dalam mencari penghidupan, jangan sampai melakukan tindak kezhaliman dengan memakan harta orang lain dengan cara haram. Inilah kaidah mendasar yang harus kita jadikan barometer dalam bermu’amalah. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” An Nisaa/4 : 29.

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ


Artinya : “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. Al Baqarah/2 : 188.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan :


كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ


Artinya : “Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, harga dirinya, dan hartanya”. HR Muslim.

Sudah jelas ayat dan hadist di atas, bahwa mengambil hak milik orang lain hukumnya adalah tidak boleh. Bahkan orang yang berani merampas dan mengambil hak orang lain dengan sengaja tapi mereka tahu itu adalah salah maka hukumannya adalah neraka jahannam. Beikut di bawah ini beberapa hadist membahas Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin ?

Hadist Tentang Ancaman Allah Bagi Orang Yang Mengambil Haq Orang Muslim Dengan Sumpah Palsu :


عن أبي أمامة أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} قال من اقتطع حق امرئ مسلم بيمينه فقد أوجب الله له النار وحرم عليه الجنة فقال له رجلٌ وإن كان شيئاً يسيراً يا رسول الله قال وإن قضيباً من أراك

1. Hadits-232, 

Dari Abu Umamah, “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah sunngguh telah mewajibkan untuknya dan mengharamkan surga atas dirinya.” Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, “Sekalipun hak tersebut berupa sesuatu yang sedikit wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Sedikitpun sebatang kayu arak (untuk siwak)"

عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ قَالَ : فَدَخَلَ الأَشْعَثُ بْنُ قَيْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَقَالَ : مَا يُحَدِّثُكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ ؟ قُلْنَا : كَذَا وَكَذَا قَالَ : فِيَّ نَزَلَتْ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ خُصُومَةٌ فِي أَرْضٍ لَنَا ، فَخَاصَمْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَكُنْ لِي بَيِّنَةٌ ، فَقَالَ : احْلِفْ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِذًا يَحْلِفُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ ذَلِكَ : مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ يَقْتَطِعُ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ وَهُوَ فِيهَا فَاجِرٌ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ ، فَنَزَلَتْ : "إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا" (أل عمران: 77)

2. Hadits-233, 

Dari Abdullah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah untuk mengambil harta seorang muslim sedangkan dia berdusta dalam sumpahnya tersebut, maka dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan murka kepadanya. “Perawi berkata, Al Asy’ats bin Qais datang sembari berkata, “Apa yang diberitahukan oleh Abu Abdirrahman kepada kalian benar? “Orang orang menjewab, ‘Dia memberitahukan’ begini dan begitu. “Al Asy’ats berkata, “Abu Abdirrahman telah berkata benar. Telah turun yat Al Qur’an tentang aku. Dulu di antara diriku dan seorang laki lalki telah terjadi sengketa mengenai sebidang tanah di Yaman. Maka aku melaporkannya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kami memiliki bukti?” Maka aku menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, ‘kalau begitu hendaknya dia mengutarakan sumpahnya.” Ketika itu Rasululla shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang sengaja bersumpah untuk mengambil harta seorang muslim sedangkan dia berdusta dalam sumpahnya tersebut, maka dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan murka keapdanya. “Lantas turunlah ayat Al Qur’an “Sesungguhnya orang-orang yang menukat janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali Imran: 77)

عن عبد الله قال من حلف على يمين يستحق بها مالا وهو فيها فاجر لقي الله وهو عليه غضبان. ثم ذكر نحو حديث الأعمش. غير أنه قال: كَانَتْ بَيْنِى وَبَيْنَ رَجُلٍ خُصُومَةٌ فِى بِئْرٍ فَاخْتَصَمْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ شَاهِدَاكَ أَوْ يَمِينُهُ

3. Hadits-234, 

Dari Abdillah,  ia berkata: “Barangsiapa yang bersumpah untuk tujuan memiliki harta orang lain yang bukan haknya sedangkan dia berdusta dalam sumpahnya tersebut, maka dia akan berjumpa Allah sedangkan Dia dalam keadaan murka kepadanya.” Kemudian dia menyebutkan redaksi seperti dalam hadits riwayat Al A’masy. Hanya saja dia menyebutkan dengan redaksi, “Dulu di antara diriku dan seseorang terdapat masalah sengketa mengenai sebuah sumur. Lantas kami berhukum di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau pun bersabda, “Datangkanlah dua orang saksimu atau hendaklah dia mengutarakan sumpahnya”.

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَرَجُلٌ مِنْ كِنْدَةَ أَتَى رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ : يَا رَسُولَ اللهِ ، هَذَا غَلَبَنِي عَلَى أَرْضٍ كَانَتْ فِي يَدِي ، فَقَالَ الْكِنْدِيُّ : هِيَ فِي يَدِي أَزْرَعُهَا لَيْسَ لَهُ فِيهَا حَقٌّ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِلْحَضْرَمِيِّ : أَلَكَ بَيِّنَةٌ ؟ قَالَ : لا قَالَ : فَلَكَ يَمِينُهُ ، فَقَالَ : يَا نَبِيَّ اللهِ إِنَّهُ رَجُلٌ فَاجِرٌ لَيْسَ يُبَالِي مَا حَلَفَ عَلَيْهِ لَيْسَ يَتَوَرَّعُ مِنْ شَيْءٍ قَالَ : فَقَالَ : لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلا ذَلِكَ قَالَ : فَانْطَلَقَ يَحْلِفُ لَهُ قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَئِنْ حَلَفَ عَلَى مَالِهِ لِيَأْكُلَهُ ظُلْمًا لَيَلْقَيَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَنْهُ مُعْرِضٌ

4. Hadits-236, 

Dari Alqamah bin Wail, dari bapaknya, ia berkata: “Telah datang seorang laki-laki dari Hadhraumaut dan seorang laki-laki dari Kindah menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang berasalah dari Hadhraumaut berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya orang ini telah berhasil memenangkan putusan hak milik sebuah tanah atas diriku yang dulu merupakan milik ayahku. “Orang yang berasal dari Kindah itu berkata, “Tanah itu adalah mulikku yang biasa aku pergunakan untuk bercocok tanam. Dia samak tidak memiliki hak atas tanah tersebut. “Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang yang berasal dari Hadhraumaut “Apakah kami memilki sebuah buktu? Dia menjawab, “Tidak”. Rasulullah bersabda, “Kalau begitu kamu hanya memiliki pilihan untuk mendengarkan sumpahnya. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia dalah pendusta yang tidak peduli dengan kebohongan apa yang dia sumpahkan. Bahkan dia tidak memiliki sifat wara’ dalam sesuatu apapun. “Maka Rasulullah bersabda, “Kamu tidak memiliki cara apapun terhadapnya kecuali hanya hal itu.” Lantas orang dari Kindah itu bersumpah. Ketika orang itu berpaling, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah, jika dia bersumpah atas harta rekannya untuk dimakan secara zhalim, pasti dia kelak akan bertemu Allah sedangkan Dia dalam keadaan berpaling darinya".


Demikianlah informasi dan artikel yang kami bagikan kepada anda semua pada kesempatan yang sama berkah ini. Semoga bermanfaat dan dengan adanya artikel di atas, anda tidak mengambil hak milik orang lain dengan cara apapun. Karena perbuatan seperti itu, itu hanya akan mencelakakan hidup anda bersama dengan keluarga dan anak-anak anda kelak. Sekian dan terima kasih.

0 Response to "Bagaimana Hukum Mengambil Hak Milik Orang Lain Tanpa Izin"

Post a Comment