Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran

Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran - Alhamdulillah pada kesempatan yang penuh dengan berkah ini, Bukucatatan.net akan membagikan artikel mengenai Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran. Untuk lebih jelas dan lengkapnya, langsung saja anda menyimak artikel berkut :

Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran
Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran

Pengertian Pernikahan :

Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam.

3 Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran :

1. Karena sesusuan (Rodlo’), meliputi :

Firman Allah Swt :

وَ اُمَّهَاتُكُمُ الّتِيْ اَرْضَعْنَكُمْ وَ اَخَوَاتُكُمْ مّنَ الرَّضَاعَةِ. . النساء:23


Artinya : Diharamkan atas kamu ibumu yang menyusui kamu dan saudara-saudara perempuan sepesusuan. (QS. An-Nisa : 23)

Dan sabda Rasulullah SAW :

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ. البخارى و مسلم و ابو داود و احمد و النسائى و ابن ماجه


Artnya :“Diharamkan karena hubungan susuan sebagaimana yang diharamkan karena hubungan nasab”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُرِيْدَ عَلَى اِبْنَةِ حَمْزَةَ فَقَالَ: اِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِى، اِنَّهَا اِبْنَةُ اَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ. وَ يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ الرَّحِمِ. مسلم 2:1071


Dari IbnuAbbas bahwasanya para shahabat menginginkan Nabi SAW menikahi anak perempuan Hamzah. Maka beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya dia tidak halal bagiku, karena dia adalah anak saudaraku sepesusuan. Sedangkan, haram sebab susuan itu sebagaimana haram sebab nasab (keluarga)”. (HR. Muslim II : 1071)

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا اَخْبَرَتْهُ اَنَّ عَمَّهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ يُسَمَّى اَفْلَحَ اِسْتَأْذَنَ عَلَيْهَا فَحَجَبَتْهُ. فَاَخْبَرَتْ رَسُوْلَ اللهِ ص، فَقَالَ لَهَا: لاَ تَحْجِبِى مِنْهُ، فَاِنَّهُ يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ. مسلم


Artinya : Dari ‘Urwah, dariAisyah bahwasanya ia mengkhabarkan kepadaUrwah, bahwa paman susunya yang bernama Aflah minta ijin padaAisyah untuk menemuinya. LaluAisyah berhijab darinya. KemudianAisyah memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, “Kamu tidak perlu berhijab darinya, karena haram sebab susuan itu sebagaimana haram sebab nasab”. (HR. Muslim II : 1071)
Berdasarkan ayat dan hadits di atas, dapat dipahami bahwa haramnya wanita untuk dinikahi karena hubungan pesusuan ini sabagai berikut :
  • Ibu susu :Yakni ibu yang menyusuinya. Maksudnya ialah wanita yang pernah menyusui seorang anak, dipandang sebagai ibu bagi anak yang disusui itu, sehingga haram keduanya melakukan perkawinan. 
  • Nenek susu : Yakni ibu dari wanita yang pernah menyusui atau ibu dari suami wanita yang pernah menyusuinya. 
  • Anak susu : Yakni wanita yang pernah disusui istrinya. Termasuk juga cucu dari anak susu tersebut. 
  • Bibi susu : Yakni saudara perempuan dari wanita yang menyusuinya atau saudara perempuan suaminya wanita yang menyusuinya. 
  • Keponakan susu : Yakni anak perempuan dari saudara sepesusuan. 
  • Saudara sepesusuan.
Adapun wanita yang haram sementara karena suatu sebab, jika sebabnya itu sudah tidak ada maka wanita itu boleh dinikahi :
  • Mengumpulkan dua wanita yang semahram (dua bersaudara,keponakan dan bibinya). 
  • Istri orang lain atau yang sedang dalam keadaan iddah.
  • Mantan istrinya yang sudah dicerai tiga kali sehingga menikah dengan lelaki lain. 
  • Sedang dalam kedaan ihram haji atau umrah.
  • Menikahi budak sedangkan dia mampu menikahi wanita merdeka.
  • Wanita yang pernah berzina sehingga dia bertaubat. 
  • Wanita musyrikah sampai dia masuk islam.
Referensi : (Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq : 2 / 85 – 96)

2. Karena nasab, yang meliputi :

حُرّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهَاتُكُمْ وَ بَنَاتُكُمْ وَ اَخَوَاتُكُمْ وَ عَمَّاتُكُمْ وَ خَالاَتُكُمْ وَ بَنَاتُ اْلاَخِ وَ بَنَاتُ اْلاُخْتِ. النساء:23

Artinya : Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, (QS. An-Nisaa’ : 23).

Berdasar ayat di atas, dapat dipahami bahwa wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab itu sebagai berikut :  
  1. Ibu kandung, nenek sampai ke atas. 
  2. Anak putri, cucu putri sampai ke bawah. 
  3. Saudara perempuan kandung seayah atau seibu. 
  4. Bibi dari ayah atau dari ibu. 
  5. Keponakan dari saudara laki – laki atau perempuan.

3. Karena mushoharoh (besan), meliputi :

Firman Allah Swt :

وَ اُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَ رَبَائِبُكُمُ الّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مّنْ نّسَائِكُمُ الّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَ حَلاَئِلُ اَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلاَبِكُمْ. النساء:23


Artinya : ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu).( QS. An-Nisaa’ : 23)

وَ لاَ تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ ابَاؤُكُمْ مّنَ النّسَآءِ اِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ، اِنَّه كَانَ فَاحِشَةً وَّ مَقْتًا وَّ سَآءَ سَبِيْلاً. النساء:22


Artinya : Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (An-Nisaa’ : 22)
Dari dalil-dalil di atas dapat dipahami bahwa wanita yang haram dinikahi karena hubungan mushaharah adalah sebagai berikut
  • Ibu mertua, nenek mertua sampai ke atas. 
  • Anak tiri, cucu tiri sampai ke bawah. 
  • Menantu perempuan. 
  • Ibu tiri.

Hukum nikah :

Hukum pernikahan bersifat kondisional, artinya berubah menurut situasi dan kondisi seseorang dan lingkungannya.
  • Jaiz, artinya boleh kawin dan boleh juga tidak, jaiz ini merupakan hukum dasar dari pernikahan. Perbedaan situasi dan kondisi serta motif yang mendorong terjadinya pernikahan menyebabkan adanya hukum-hukum nikah berikut.
  • Sunnah, yaitu apabila seseorang telah berkeinginan untuk menikah serta memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah lahir maupun batin.
  • Wajib, yaitu bagi yang memiliki kemampuan memberikan nafkah dan ada kekhawatiran akan terjerumus kepada perbuatan zina bila tidak segera melangsungkan perkawinan. Atau juga bagi seseorang yang telah memiliki keinginan yang sangat serta dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam perzinahan apabila tidak segera menikah.
  • Makruh, yaitu bagi yang tidak mampu memberikan nafkah.
  • Haram, yaitu apabila motivasi untuk menikah karena ada niatan jahat, seperti untuk menyakiti istrinya, keluarganya serta niat-niat jelek lainnya.

Hikmah pernikahan :

  • Sebagai media pendidikan: Islam begitu teliti dalam menyediakan lingkungan yang sehat untuk membesarkan anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan tanpa orangtua akan memudahkan untuk membuat sang anak terjerumus dalam kegiatan tidak bermoral. Oleh karena itu, institusi kekeluargaan yang direkomendasikan Islam terlihat tidak terlalu sulit serta sesuai sebagai petunjuk dan pedoman pada anak-anak
  • Cara yang halal dan suci untuk menyalurkan nafsu syahwat melalui ini selain lewat perzinahan, pelacuran, dan lain sebagainya yang dibenci Allah dan amat merugikan.
  • Untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman
  • Memelihara kesucian diri
  • Melaksanakan tuntutan syariat
  • Membuat keturunan yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
  • Mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab
  • Dapat mengeratkan silaturahim

Demikianlah informasi dan penjelasan artikel pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat dan dengan adanya artikel di atas, anda semakin memperhatikan dengan sebaik-baiknya secara agamis. Ketika anda ingin melangsungan sebuah pernikahan yang sakral. Sekian dan terima kasih.

0 Response to "Wanita Yang Haram Dinikahi Menurut Hukum Al-Quran"

Post a Comment