Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah

Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah - Alhamdulillah, pada kesempatan yang penuh dengan keberkahan ini, admin merasa berbahagia dan sangat bersyukur kepada Allah Swt, karena kami akan membagikan informasi dan artikel bersejarah bagi ummat Islam bahkan seluruh ummat Islam di dunia ini yang akan mempbahas tentang Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah. Baca dan perhatikanlah dengan sebaik-baiknya penjelasannya berikut :
Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Kabah
Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Kabah

Hajar 'Aswad (Arab: حجر أسود) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya adalah Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. 

Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena dia selalu menciumnya setiap saat tawaf.

Sejarah Asal Usul Batu Hajar Aswad :

Sejarah Asal Usul Batu Hajar Aswad bermula ketika nabi Ibrahim (Abraham) dan anaknya sedang membangun Ka’bah, dimana pada masa itu banyak sekali komponen-komponen yang tidak terpenuhi. Ka’bah waktu itu belum memiliki atap maupun pintu, jadi Ibrahim dan Ismail berusaha keras untuk membawa bebatuan dari beberapa gunung yang ada untuk menyelesaikan konstruksi bangunan tersebut.
Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah
Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah

Hajar Aswad sendiri menjadi sebuah hal penting ketika umat Islam sedang melakukan perjalan Haji, dimana tawaf dimulai dan diakhiri saat para umat yang sedang berhaji menatap batu ini. Selama bertahun-tahun, tak terhitung lagi jumlah orang termasuk nabi Muhammad, para sahabat, dan jutaan umat Muslim yang mencium batu ini ketika mereka sedang melakukan perjalanan Haji.

Menguak Sejarah Hajar Aswad dan Hubungannya dengan Ka’bah :

Asal Usul batu Hajar Aswad tidak bisa lepas dari sejarah Ka’bah itu sendiri. Pembangunan Ka’bah, menurut al-Qur’an pada surat al-Baqarah ayat 127 dilakukan oleh Ibrahim dan anaknya, Ismail. Diceritakan bahwa Allah telah menunjukkan pada Ibrahim dimana mereka harus melakukan pembangunan, yaitu tempat yang amat dekat dengan sumur Zamzam, akhirnya Ibrahim dan Ismail mulai mengerjakan konstruksi Ka’bah kira-kira pada tahun 2130 sebelum masehi. 

Ketika pembangunan ini tengah berlangsung, Ibrahim menyadari bahwa amat banyak komponen-komponen Ka’bah yang tidak mampu dibuat karena kurangnya bahan, sehingga akhirnya ia dan Ismail pergi menyusuri beberapa gunung untuk membawa bebatuan dengan tujuan menyelesaikan konstruksi Ka’bah tersebut.

Bahkan setelah seluruh bagian Ka’bah selesai dibangun, Ibrahim masih merasa bahwa ada satu bagian penting yang hilang. Ada salah satu sumber yang mengatakan bahwa Ibrahim memerintahkan Ismail untuk mencarikan satu batu lagi yang dapat memberi “sinyal” kepada umat manusia. Mendengar hal ini, Ismail pergi dari satu bukit ke bukit yang lain hanya demi mencari batu yang bisa menjadi suar dan memberi tanda kepada seluruh umat manusia, dan pada saat inilah, malaikat Jibril diutus Allah untuk membawakan sebuah batu yang konon katanya dulunya berwarna putih dan memberikannya kepada Ismail. 

Mendapati batu putih yang indah tersebut, Ismail pulang dan alangkah bahagianya Ibrahim melihat batu yang ia bawa. Ismail kemudian menjawab pertanyaan Ibrahim tentang lokasi batu ini dengan jawaban “aku menerima ini dari seseorang yang tidak akan membebani anak cucuku maupun anak cucumu (Jibril)” kemudian Ibrahim mencium batu tersebut, dan gerakan tersebut kemudian diikuti oleh Ismail.

Sejarah Asal Usul batu Hajar Aswad kembali berlanjut setelah batu diletakkan oleh Ibrahim di sudut timur Ka’bah. Tepat setelah melakukan hal itu, Ibrahim mendapat wahyu dimana Allah memerintahkannya untuk pergi dan memproklamirkan bahwa umat manusia harus melakukan ziarah agar Arabia bisa didatangi oleh orang-orang dari tempat yang jauh. Beberapa peneliti percaya bahwa Ka’bah benar dibangun pada tahun 2130 sebelum masehi. Penanggalan ini dinilai konsisten dengan kepercayaan umat Muslim bahwa Ka’bah merupakan masjid pertama dan tertua dalam sejarah. 

Menurut literatur kaum Samaritan, dalam buku yang berjudul Secrets of Moses tertulis bahwa Ismail dan anak tertuanya, Nebaioth adalah orang yang membangun Ka’bah dan juga kota Mekah. Buku ini dipercaya telah ditulis pada abad ke-10, sementara ada pendapat lain yang menganggap buku ini ditulis pada paruh kedua abad ke-3 sebelum masehi.

Hajar Aswad sendiri sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang dihormati bahkan sebelum dakwah tentang Islam oleh Muhammad. Ketika era Muhammad tiba, batu ini juga sudah diasosiasikan dengan Ka’bah. Karen Armstrong dalam bukunya yang berjudul Islam: A Short History, menuliskan bahwa Ka’bah didedikasikan kepada Hubal, salah satu dewa dalam kepercayaan Nabatea, dan di dalamnya ada 365 berhala yang tiap-tiapnya merepresentasikan satu hari dalam satu tahun. Menurut Ibnu Ishaq yang merupakan biografer Muhammad di era awal, Ka’bah sendiri dianggap sebagai dewi, tiga generasi sebelum Islam muncul. Kultur semitik Timur Tengah juga memiliki tradisi untuk menggunakan batu-batu asing sebagai penanda tempat penyembahan, sebuah fenomena yang tertulis baik di Injil Yahudi maupun Qur’an.

Pada era Nabi Muhammad SAW, sejarah batu Hajar Aswad menjadi penting saat beberapa klan di Mekah berkelahi untuk menentukan siapa yang pantas meletakkan Hajar Aswad kembali ke Ka’bah setelah renovasi akibat kebakaran besar. Setelah sebelumnya hampir terjadi perang, para tetua klan mulai menyetujui usulan bahwa mereka harus bertanya kepada orang berikutnya yang melewati gerbang Ka’bah, dan kebetulan orang itu adalah Muhammad yang masih berusia 35 tahun. 

Setelah mendengar pokok permasalahan, Muhammad meminta para pemimpin klan untuk membawakannya sebuah kain, yang kemudian ia gunakan untuk meletakkan Hajar Aswad di bagian tengah kain tersebut. Setelah diletakkan, Muhammad meminta setiap ketua klan untuk memegang sisi ujung dari kain tersebut, mengangkatnya, dan membawanya ke posisi yang tepat untuk meletakkan Hajar Aswad. Setelah tiba di tempatnya, Muhammad sendiri yang mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di posisi yang seharusnya, dan hal ini berhasil menggagalkan perang yang mungkin terjadi di antara klan-klan Mekah tadi.

Sejarah mengenai batu Hajar Aswad terus berlanjut tapi sebelumnya ia sempat mengalami beberapa kerusakan yang signifikan. Batu ini juga diceritakan pernah pecah oleh batu yang ditembakkan oleh katapel saat terjadi penyerangan Mekah oleh Umayyad. Fragmen-fragmen batu yang pecah itu kemudian disatukan kembali oleh Abdullah Ibnu Zubayr menggunakan perak. Pada tahun 930, batu tersebut dicuri oleh kaum Qarmati hingga ke tempat yang sekarang bernama Bahrain. Kini, batu ini menjadi bagian penting dalam upacara keagamaan umat Islam, yaitu ketika mereka melaksanakan haji. Selanjutnya.........

Hajar Aswad dan Riwayat Batu dari Surga :

Sudut timur Ka'bah merupakan tempat paling istimewa. Sudut ini menjadi 'target berburu' umat muslim yang melaksanakan haji dan umrah. Di sudut inilah tersemat Hajar Aswad, batu hitam berbentuk lonjong tidak beraturan yang diyakini berasal dari surga.

Hajar Aswad terdiri dari delapan keping batu yang diikat dalam lingkaran perak, dan ditanam pada ketinggian 1,10 meter dari tanah. Batu ini tampak licin karena terus menerus dicium dan diusap-usap jutaan bahkan miliaran manusia sejak zaman Ibrahim.

Menyium, bahkan menyentuh Hajar Aswad perlu perjuangan luar biasa, karena setiap muslim ingin melakukannya. Tidak heran jika sudut ini selalu dipenuhi jemaah yang berebut mendekatinya seusai melaksanakan tawaf, sehingga tidak jarang terjadi aksi saling dorong, atau jemaah terjatuh.

Begitu mulianya Hajar Aswad, tawaf pun harus dimulai dari sudut ini. Setiap orang yang akan memulai tawaf menghadap ke Hajar Aswad, ia akan memberi isyarat sambil berucap basmalah dan takbir, lalu mundur sedikit dan memposisikan Ka'bah di sebelah kirinya, kemudian mulai berjalan. Setelah itu jemaah akan melewati Rukun Iraki atau sisi utara, lalu rukun Syami atau sisi barat. Kemudian Rukun Yamani atau sisi selatan dan kembali lagi ke Hajar Aswad yang menghadap timur.

Imam Ahmad dan al-Bukhari meriwayatkan bahwasanya Rasulullah pernah berhenti di Hajar Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak mendatangkan bahaya atau manfaat." Lalu, Nabi mengecupnya.

Demikian pula ketika Abu Bakar ra menunaikan ibadah haji, ia berhenti di Hajar Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku tahu betul engkau hanyalah batu yang tidak bermanfaat dan tidak berbahaya. Jika Rasulullah tidak menciummu, aku tidak akan menciummu." Umar bin Khaththab ra ketika ia menunaikan ibadah haji bersama kaum muslimin pun melakukan hal yang sama.

Sementara Ibnu Bathuthah sebagai sosok petualang menggambarkan Hajar Aswad sebagaimana ia saksikan saat berkunjung ke Mekah. Ia menuturkan, "Hajar Aswad yang tingginya enam jengkal dari tanah  itu membuat orang yang badannya tinggi harus menunduk ketika hendak menciumnya dan orang yang berbadan kecil harus mendongak. Hajar Aswad ditempatkan di sudut yang menghadap timur, lebarnya sepertiga jengkal dan panjangnya sejengkal lebih sedikit. Tidak ada yang tahu berapa dalam ia masuk ke sudut itu. 

Hajar Aswad sendiri terdiri dari empat potongan yang menempel dan dilindungi lempengan perak. Perpaduan antara lempengan perak dan batu yang berwarna hitam ini membuatnya tampak elok dan jelas. Orang-orang merasa nikmat saat mengecupnya, seolah-olah bibir mereka tidak ingin lepas. Hal itu karena Nabi Muhammad pernah bersabda, 'Hajar Aswad adalah sumpah Allah yang ada di bumi.' Adapun Hajar Aswad yang sebenarnya adalah potongan yang disebelahnya ada al mawali, yakni titik-titik putih terang seperti permata yang ada di dalam lingkaran perak."

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, di antara peristiwa penting yang terkait Hajar Aswad terjadi pada abad 16 sebelum hijriyah (606 Masehi), yaitu ketika suku Quraisy memugar Ka'bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam terjadi situasi genting, di mana empat kabilah dalams uku Quraisy terus bersitegang pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu itu ke tempatnya semula karena pemugaran Ka'bah sudah selesai.

Saat itu muncul usulan dari Abu Umayyah bin Mughirah Al Mikhzumi yang mengatakan, "Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid hari ini."

Pendapat sesepuh Quraisy ini pun disetujui, dan ternyata yang pertama kali masuk masjid adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Sudah menjadi rahasia waktu itu kalau akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al Amin, orang yang terpercaya.

Muhammad lalu menuju tempat penyimpanan Hajar Aswad lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu di tengah-tengah sorban, kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar memegang sudut-sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya ke sudut di mana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ke tempatnya semula.
Direbut dan Terapung

Kisah lain yang sangat penting terjadi pada musim haji tahun 317 hijriyah, saat Islam sangat lemah dan terpecah belah, sehingga kesempatan itu dimanfaatkan Abu Tahir Al Qummuthi seorang kepala suku di jazirah Arab bagian timur  untuk merampas Hajar Aswad.

Dengan 700 anak buahnya ia mendobrak Masjidil Haram dan membongkar Ka'bah secara paksa lalu merebut dan mengangkutnya ke negaranya. Ia lalu membuat maklumat yang menantang umat muslim mengambil batu itu dengan perang atau membayar sejumlah uang yang sangat besar. Baru setelah 22 tahun, tahun 339 Hijriyah, batu itu dikembalikan ke Mekah oleh Khalifah Abbasiyah Al Muthilillah setelah ditebus dengan uang 30.000 dinar.

Dalam kitab Ikhbarul Kiraam diterangkan ketika Abdullah bin Akim menerima batu dari pemimpin suku Qummuth, batu itu langsung dimasukkan ke dalam air dan tenggelam, kemudian diangkat dan dibakar, ternyata pecah, maka ia menolak batu itu karena palsu.

Pemimpin Qummuth lalu memberikan batu yang kedua yang sudah dilumuri minyak wangi dan dibungkus dengan kain sutra yang sangat cantik. Namun Abdullah tetap menguji keasliaannya dengan memasukkan ke air. Batu itu kembali tenggelam dan pecah oleh api.

Kemudian pemimpin Qummuth memberikan batu ketiga, dan diuji seperti dua batu sebelumnya. Keanehan muncul, batu itu mengapung di air dan tidak pecah ketika dibakar, bahkan tidak terasa panas. Abdullah pun menyatakan batu itu asli Hajar Aswad.

Pemimpin Qummuth yang terheran-heran bertanya bagaimana Abdullah mendapat ilmu menguji batu itu. Abdullah menjawab, "Nabi pernah mengatakan, Hajar Aswad akan menjadi saksi tentang siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau tidak baik. Hajar Aswad juga tidak akan tenggelam di dalam air dan tidak panas dalam api."
Penelitian Ilmiah

Sifatnya yang unik membuat asal usul Hajar Aswad terus diperdebatkan sejak dahulu. Dalam riwayat hadis At Tirmidzi, batu hitam itu berasal dari surga, yang dibawa Nabi Adam AS ke bumi. Awalnya kata hadis itu, Hajar Aswad berwarna putih. Tetapi karena menyerap dosa-dosa manusia di bumi, batu ini berubah warna menjadi hitam.

Sebagian muslim menyakini batu ini adalah meteorit yang berasal dari luar angkasa. Namun hipotesis ini belum terbukti kebenarannya. Ada pula yang menyebutnya sebagai batu basalt, batu agate (akik) atau kaca alami.

Kurator koleksi perhiasan Kerajaan Austro-Hungaria, Paul Partsch, merupakan orang pertama  yang memperkirakan Hajar Aswad sebagai batu meteor pada 1857. Namun berdasarkan ciri fisiknya, Robert Dietz dan John McHonde pada 1974 menyimpulkan Hajar Aswad sebenarnya batu akik.

Pada 1980, Elsebeth Thomsen dari University of Copenhagen menawarkan hipotesis baru. Menurut dia, Hajar Aswad merupakan fragmen kaca yang pecah akibat tumbukan meteor yang jatuh di Wabar, sebuah tempat di gurun Rub’ al Khali, 1.000 km di timur Mekah. Meteor ini diperkirakan jatuh pada 6.000 tahun lalu. Namun hipotesis ini pun belum bisa dipastikan kebenarannya.


Demikianlah penjelasan artikel kami pada kesempatan yang penuh dengah hikmah dan berkah ini yang membahas mengenai Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah. Semoga bermanfaat dan dengan adanya artikel  di atas, kita semua meniatkan diri kita untuk berhijrah/berkunjung serta menunaikan ibadah hajji di Baitullah Makkah. Allahumma Amiin.

0 Response to "Sejarah Batu Hitam Hajar Aswad Di Ka'bah"

Posting Komentar