Bagaimana Hukum Bersetubuh Ketika Isteri Sedang Haid

Bagaimana Hukum Bersetubuh Ketika Isteri Sedang Haid - Alhamdulillah pada kesempatan yang penuh dengan berkah dan hikmah ini, Bukucatatan.net akan membagikan kepada anda semua informasi dan artikel bermanfaat buat yang sudah memiliki suami/isteri. Berikut di bawah ini adalah penjelasannya :
Bagaimana Hukum Bersetubuh Ketika Isteri Sedang Haid

Bagaimana Hukum Bersetubuh Ketika Isteri Sedang Haid 



Bersetubuh dengan istri pada saat haid hukumnya adalah haram dan tidak dibolehkan sama sekali dalam agama Islam. Karena itu dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit dan gangguan pada sel rahim wanita tersebut.

Berdasarkan firman Allah Swt :

ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

Artinya, “Mereka bertanya tentang haid, jawablah, ‘Haid itu kotoran, hindarilah tempat keluarnya darah haid wanita.’” (QS. al-Baqarah: 222). 

Siapa yang menyetubuhi istrinya pada saat haid, maka dia wajib ber-istighfar dan bertobat kepada Allah, dan dia wajib bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar sebagai kaffarah (penebus) dari perbuatan yang dia lakukan. 

Sebagaimana keterangan dalam riwayat Ahmad dengan sanad jayyid, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang menggauli istrinya ketika sedang haid, “Dia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.” Dan sedekah dengan satu atau setengah dinar, maka itu dibolehkan.

Tidak boleh menyetubuhi istri setelah terputusnya darah haid, tapi belum mandi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Janganlah kalian mendekatinya (jima’) sampai dia bersuci.” (QS. al-Baqarah: 222). Allah tidak mengizinkan menggauli wanita haid sampai terputus darah haidnya dan bersuci (mandi). Siapa yang menyetubuhi istri sebelum bersuci, maka dia berdosa dan wajib membayar kaffarah.

Adapun terkait dengan tobatnya, orang ini wajib bertobat karena melanggar larangan dalam ayat dan tidak mau menaati firman Allah, yang artinya, “Jika mereka (para wanita) telah bersuci maka silahkan datangi mereka (jima’) di tempat yang sesuai dengan perintah Allah kepada kalian.” (QS. al-Baqarah: 222). 

Tobatnya dengan dia menyesali perbuatan yang dia lakukan, bertekad untuk tidak mengulangi, dan memperbanyak berbuat baik. Karena perbuatan baik bisa menghapus dosa perbuatan buruk. Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang.

Para ulama sepakat bahwa “fa’tazilu” dan “walaa taqrabuuhunna” itu adalah larangan berhubungan (jima’). Adapun selain itu, tetap diperbolehkan. Ibnu Qudamah menjelaskan, “ketika Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi tempat keluarnya darah, ini dalil bahwa selain itu, hukumnya boleh.”

Bahkan Aisyah menceritakan, Rasulullah juga bermesraan dengannya saat haid dengan tetap menghindari hubungan suami istri.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حِضْتُ يَأْمُرُنِي أَنْ أَتَّزِرَ، ثُمَّ يُبَاشِرُنِي

Apabila saya haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku. (HR. Tirmidzi dan Ahmad; shahih)

Ini juga menjadi solusi dan jawaban kepada suami jika ia mengajak berhubungan ketika Anda sedang haid. Tawarkan bahwa Anda siap melayani suami bermesraan asal tidak sampai jima’. Dan halal bagi suami istri sekiranya sang suami “keluar” dengan bantuan tangan istri atau sentuhannya.

Ingatkan suami untuk benar-benar menghindari jima’ di saat haid, baik dengan kondom ataupun tidak. Larangan dalam ayat tersebut bukanlah sebatas karena “darah haid kotor” dan bisa dihindari dengan kondom. Tetapi illatnya adalah karena ada larangan dalam surat Al Baqarah ayat 222 tersebut. Sangat mungkin, ada rahasia dan hikmah yang hanya diketahui Allah Subhanahu wa Ta’ala di balik larangan tersebut.

Ingatkan pula suami dengan peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

Artinya : “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)

Tentu saja, istri yang baik harus menggunakan cara sebaik-baiknya dalam mengingatkan suami agar keharmonisan berkeluarga tetap terjaga dunia akhirat. Insya Allah.


Demikianlah informasi dan artikel pada kesempatan yang sama-sama berharga ini. Semoga bermanfaat dan dengan adanya artikel di atas, menjadikan anda lebih berhati-hati lagi ketika ingin melakukan persetubuhan dengan pasangan kekasih halal anda. Karena semua ada tatacara yang telah diajarkan dan ditentukan oleh agama tercinta kita semua yaitu Agama Islam. Sekian dan terima kasih.

0 Response to "Bagaimana Hukum Bersetubuh Ketika Isteri Sedang Haid "

Posting Komentar