Syarat Orang Yang Boleh Melakukan Rukyatul Hilal

Syarat Orang Yang Boleh Melakukan Rukyatul Hilal - Pada kesempatan yang sama berbahagia ini, saya akan memberikan beberapa penjelasan yang berhubungan dengan bulan ramadhan dan sangat penting juga diketahui oleh banyak orang khususnya kaum muslimin. Berikut di bawah ini adalah ulasannya : 

Imam Nawawi dalam Minhaj Ath-Thalibin menyatakan,


 وَثُبُوتُ رُؤْيَتِهِ بِعَدْلٍ، وَفِي قَوْلٍ عَدْلَانِ.وَشَرْطُ الْوَاحِدِ صِفَةُ الْعُدُولِ فِي الْأَصَحِّ، لَا عَبْدٍ وَامْرَأَة

Artinya : “Penetapan rukyah hilal adalah melalui rukyah (penglihatan) seorang yang ‘adel (shalih). Dalam pendapat lain disebutkan dua orang yang ‘adel. Satu orang sebagai syarat asalkan memenuhi sifat ‘adalah (bukan orang yang fasik yang gemar maksiat, pen.), itu sudah cukup menurut pendapat yang paling kuat. Namun seorang wanita dan seorang budak saat jadi saksi dalam hal ini tidak cukup hanya satu orang.”

Syarat Orang Yang Boleh Melakukan Rukyatul Hilal
Syarat Orang Yang Boleh Melakukan Rukyatul Hilal


Kenapa dengan persaksian satu orang yang ‘adel sudah cukup untuk hilal Ramadhan?

Ada dua hadits yang mendasarinya. Pertama, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلاَلَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

Artinya : “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”  (HR. Abu Daud, no. 2342. Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram berkata bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Juga hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,


أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا

Artinya : “Seorang Arab Badui pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, “Aku telah melihat hilal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” (HR. Tirmidzi, no. 691; Ibnu Majah, no. 1652. Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram berkata bahwa Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkannya, namun An-Nasai lebih cenderung pada pendapat bahwa riwayat tersebut mursal. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih lighoirihi).

Ada lagi pendapat yang menyaratkan dua orang ‘adel, sebagaimana ketentuan untuk penetapan awal bulan lain selain Ramadhan. Namun yang lebih kuat menurut Imam Nawawi adalah cukup dengan satu orang yang baik (‘adel). Keterangan di atas adalah dari penjelasan Mughni Al-Muhtaj.

Diterangkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah


Para fuqaha menyaratkan pada siapa saja yang melihat hilal Ramadhan hendaknya memiliki sifat ‘adel (orang baik, bukan suka bermaksiat, pen.).

Para ulama hanya berbeda pendapat mengenai bagaimanakah bentuk ‘adalah (keshalihan) yang dimaksud. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah berpandangan bahwa ‘adalah disyaratkan bagi orang yang melihat hilal Ramadhan, namun syaratnya adalah ‘adalah secara lahiriyah saja, tidak memandang batin. 

Oleh karenanya menurut mereka, rukyah dari budak dan perempuan tetap dianggap (namun tidak cukup satu orang, harus lebih dari satu untuk budak dan perempuan, pen.).

Akan tetapi para fuqaha berpandangan bahwa orang yang dikabari oleh orang yang melihat hilal (bulan sabit) Ramadhan wajib berpuasa walau ia seorang fasik, bukan orang yang ‘adel. Sebagaimana pula orang yang melihat hilal tersebut berpuasa pula, baik ia adalah seorang yang fasik maupun orang yang ‘adel (orang shalih). Orang yang melihat hilal tersebut tetap berpuasa baik persaksiannya diakui oleh hakim atau tidak. Karena ia sudah tahu bahwa hari tersebut adalah Ramadhan.

Demikianlah artikel pada kesempatan yang sama berbahagia ini. Semoga artikel pada kali ini sangat bermanfaat buat anda semua pembaca setia bog bukucatatan.net. Amin Ya Rabbal Alamin.

0 Response to "Syarat Orang Yang Boleh Melakukan Rukyatul Hilal"

Post a Comment